Ilustrasi Kondisi Pabrik Sektor Manufaktur Otomotif. (Unsplash/Appliances)
Berdasarkan rilis terbaru S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia kembali ke zona kontraksi di 49,8 pada Agustus 2026. Pada Juli 2026, PMI Manufaktur Indonesia di angka 50,2. Data itu menunjukkan kinerja manufaktur Indonesia tertinggal dari sejumlah negara di Asia Tenggara. Dari lima negara Asia Tenggara yang didata S&P Global, hanya indeks manufaktur Indonesia yang mengalami kontraksi.
Belum lagi tingkat inflasi Indonesia secara tahunan per Agustus 2026 tembus 3,19 persen menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Andry Asmoro mengatakan, kondisi itu melahirkan sentimen negatif bagi pelaku pasar.
“Pelemahan manufaktur dan kenaikan inflasi menjadi risiko bagi pertumbuhan, meski surplus perdagangan mendukung Rupiah,” ucap Andry dikutip Rabu, (2/9/2026).