S&P Global dan Moody's Kasih Peringkat buat Danantara, Apa Maknanya?

- S&P Global memberi peringkat BBB/A-2 dengan outlook stabil, sementara Moody’s beri Baa2 dengan outlook negatif untuk Danantara Investment Management.
- Hans Kwee menilai rating tersebut tetap menunjukkan kemampuan Danantara memenuhi kewajiban finansial, meski ada sorotan pada tata kelola dan konsistensi kebijakan pemerintah.
- Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat dengan pertumbuhan sekitar 5,6 persen dan inflasi terkendali, namun perlu penguatan komunikasi kebijakan serta strategi investasi yang lebih jelas.
Jakarta, IDN Times - S&P Global dan Moody's untuk pertama kalinya memberikan peringkat kepada Danantara Investment Management (DIM).
Holding Investasi Danantara itu mengantongi peringkat kredit jangka panjang 'BBB' dan jangka pendek 'A-2' dengan outlook stabil dari S&P Global, serta peringkat ‘Baa2’ dengan outlook negatif oleh Moody's.
Praktisi pasar modal sekaligus Co-founder PasarDana, Hans Kwee, mengatakan, rating dari dua lembaga pemeringkat global tersebut masih berada dalam kategori investment grade sehingga tidak serta merta mencerminkan memburuknya kondisi ekonomi Indonesia.
1. Danantara Investment Management dinilai dinilai bisa penuhi kewajiban finansial

Hans menilai, peringkat tersebut menunjukkan Moody's dan S&P Global tetap melihat DIM memiliki kapasitas dalam memenuhi kewajiban finansialnya.
Hans mengatakan, outlook negatif yang diberikan Moody's lebih berkaitan dengan sejumlah faktor. Mulai dari konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah, tata kelola BUMN, arah strategi investasi Danantara, serta pengelolaan APBN ke depan.
2. Kepastian kebijakan mempengaruhi

Menurut Hans, persoalan utama yang disoroti bukanlah kemampuan finansial Danantara saat ini, melainkan faktor governance dan kepastian kebijakan.
“Moody's dan S&P melihat adanya keterkaitan yang sangat kuat antara Danantara dan pemerintah sehingga risiko yang melekat pada keduanya juga dipersepsikan serupa," kata Hans dikutip Kamis, (4/6/2026).
3. Potensi Indonesia masih sangat besar

Meski begitu, Hans melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur yang relatif kuat. Ia mengatakan Indonesia tidak berada dalam kondisi resesi, dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di kisaran 5,6 persen.
Selain itu, kata dia, inflasi juga masih terkendali di tengah tingginya harga energi global.
"Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia tidak seburuk yang dikhawatirkan pasar. Pertumbuhan masih terjaga, inflasi terkendali, dan kondisi fiskal relatif baik. Hal yang menjadi perhatian investor saat ini lebih kepada tata kelola dan konsistensi kebijakan," kata dia.
Hans menyarankan, sebaiknya pemerintahan ke depan agar terus memperkuat komunikasi kebijakan, memastikan pengelolaan APBN tetap prudent, serta memperjelas strategi investasi Danantara.
"Langkah ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus membuka peluang perbaikan outlook di masa mendatang," ucap Hans.

![[QUIZ] Tebak Nama Mata Uang Asia Tenggara, Yakin Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20241117/18879-68854c3f6876b62c6c0e179f8d1fe608.jpg)










![[QUIZ] Cari Tahu di Umur Berapa Kamu akan Mencapai Financial Freedom](https://image.idntimes.com/post/20250809/pexels-pavel-danilyuk-7654621_fcdf0e58-11fe-4e36-b4ca-ee76f6e09991.jpg)




