potret Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (Saudi Press Agency, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Selain proyek taman rekreasi, kunjungan dua hari Mohammed bin Salman ke Paris juga menghasilkan sejumlah kesepakatan bisnis bernilai tinggi lainnya. Sebagaimana dilansir Al-Monitor, perusahaan logistik maritim Prancis CMA CGM menandatangani kontrak senilai 434 juta dolar AS atau setara Rp7,69 triliun untuk mengembangkan Pelabuhan Islam Jeddah di Laut Merah. Selain itu, grup transportasi kereta api Alstom menyepakati kontrak senilai 580 juta dolar AS atau setara Rp10,28 triliun guna memasok gerbong untuk jaringan Metro Riyadh.
Kunjungan luar negeri pemimpin de fakto Arab Saudi ini terbilang langka karena dia jarang meninggalkan negaranya selain untuk menghadiri KTT internasional. Sebelum melangsungkan pertemuan bilateral di Istana Elysee pada Senin (24/8/2026), kedua pemimpin sempat menghadiri ajang Esports World Cup pada hari sebelumnya. Pertemuan intensif tersebut juga dimanfaatkan untuk membahas isu-isu strategis kawasan Timur Tengah dan stabilitas geopolitik global.
Meski demikian, kedatangan penguasa Arab Saudi tersebut mendapat kritik keras dari tiga serikat jurnalis di Prancis. Mereka menyoroti penyelidikan hukum yang masih berjalan di Prancis terkait dugaan penyiksaan dan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018 lalu. Menanggapi kritik tersebut, pihak kepresidenan Prancis menegaskan komitmen mereka dalam menarik investasi asing tanpa bermaksud menggurui mitra bisnisnya. "Tidak pada titik mana pun, ketika kita menarik sebuah proyek, kita berusaha untuk menggurui pihak lain," tegas perwakilan Istana Elysee saat menjawab pertanyaan insan pers.