Pengusaha Ini Pakai Tes Bernard Arnault untuk Investasi, Bitcoin Lolos?

- Michael Saylor memperkenalkan “Bernard Arnault Test”, yang menilai aset berdasarkan potensi diminati investor lebih kaya, pintar, dan berdaya beli besar dalam 10 tahun mendatang.
- Strategy menerapkan pandangan ini sejak membeli Bitcoin pada 2020; kini memegang sekitar 840.447 BTC, dengan keuntungan belum terealisasi sekitar 1,6 miliar dolar AS pada harga yang disebutkan.
- Bitcoin tetap memicu perdebatan: Saylor melihat potensi penyimpan nilai jangka panjang, sedangkan Peter Schiff memilih emas dan aset tradisional sebagai pilihan lebih andal.
Ketika berbicara tentang investasi, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah sebuah aset sedang murah atau mahal. Namun, menurut Michael Saylor, Executive Chairman di Strategy.Inc, cara berpikir seperti itu belum cukup.
Ia mengajak investor melihat lebih jauh: apakah akan ada orang yang lebih kaya, lebih pintar, dan memiliki daya beli lebih besar yang masih menginginkan aset tersebut di masa depan?
Pandangan tersebut ia rangkum melalui apa yang disebutnya sebagai “Bernard Arnault Test”, sebuah kerangka berpikir yang digunakan untuk menilai apakah sebuah aset layak mendapatkan alokasi modal yang serius. Bagi Saylor, Bitcoin dianggap mampu melewati tes tersebut.
Table of Content
1. Apa itu Bernard Arnault Test?

Ilustrasi portofolio investasi (freepik.com) Dikutip dari Yahoo Finance, Saylor membagikan pandangannya melalui video singkat di X. Ia menggunakan nama Bernard Arnault, miliarder sekaligus Chairman LVMH, sebagai gambaran seseorang yang berada di level teratas dalam kekayaan global.
Arnault memimpin LVMH, grup barang mewah yang menaungi merek seperti Louis Vuitton, Sephora, dan Tiffany & Co. Forbes memperkirakan kekayaannya mencapai sekitar 142,3 miliar dolar AS. Namun, tes ini bukan berarti Arnault secara pribadi mendukung atau memiliki Bitcoin. Namanya hanya digunakan sebagai simbol calon pembeli dengan kekayaan sangat besar.
Inti tes Saylor adalah: jika seseorang memiliki banyak uang, ia seharusnya memilih aset yang masih akan diinginkan oleh orang yang lebih kaya, lebih pintar, dan lebih berpengalaman darinya dalam 10 tahun mendatang. Jadi, pertanyaannya bukan hanya “Apakah aset ini murah sekarang?”, tetapi “Siapa yang akan bersedia membelinya 10 tahun dari sekarang?”
2. Strategy dan kepemilikan Bitcoin

Ilustrasi bitcoin (freepik.com) Saylor sendiri menerapkan pandangan jangka panjang tersebut melalui Strategy. Perusahaan ini pertama kali membeli 21.454 BTC pada Agustus 2020 dengan harga rata-rata 11.652 dolar AS per Bitcoin.
Kini, Strategy memiliki sekitar 840.447 BTC dengan harga rata-rata pembelian 75.385 dolar AS per koin. Ketika Bitcoin diperdagangkan sekitar 77.313 dolar AS, posisi tersebut berada sekitar 2,5 persen di atas harga perolehan, atau menghasilkan keuntungan belum terealisasi sekitar 1,6 miliar dolar AS.
Namun, Strategy tidak selalu mempertahankan seluruh Bitcoin yang dimilikinya. Pada Agustus, perusahaan menjual sekitar 1.690 BTC dengan harga rata-rata 64.262 dolar AS per koin untuk membantu mendukung preferred shares STRC.
3. Tidak semua orang sepakat

Ilustrasi bitcoin (freepik.com) Pandangan Saylor terhadap Bitcoin tentu tidak diterima oleh semua investor. Salah satu kritikusnya adalah Peter Schiff, pendukung emas dan pendiri Euro Pacific Capital. Pada bulan tersebut, Schiff bahkan mendorong investor untuk menjual Bitcoin dan saham Strategy ketika harga emas berhasil menembus 4.400 dolar AS per ons.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa masa depan Bitcoin masih menjadi perdebatan. Ada investor yang melihatnya sebagai aset penyimpan nilai jangka panjang, sementara yang lain menganggap emas atau aset tradisional lebih dapat diandalkan.
4. Melihat Bitcoin dari perspektif 2036

Ilustrasi bitcoin (freepik.com) Pada akhirnya, Bernard Arnault test bukan sekadar soal menebak harga Bitcoin. Kerangka ini mengajak investor memikirkan permintaan jangka panjang.
Jika dalam 10 tahun mendatang Bitcoin masih diminati oleh investor dengan modal yang jauh lebih besar, harga saat ini mungkin terlihat berbeda. Namun, jika permintaannya tidak berkembang, tesis tersebut tentu akan menghadapi tantangan.
Karena itu, sebelum membeli aset apa pun, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “Apakah harganya murah?”, tetapi “Siapa yang akan menginginkannya di masa depan, dan apa alasan mereka membelinya?”



















