Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

ETF Ini Disebut Bisa Jadi Andalan saat Market Crash Terjadi

ETF Ini Disebut Bisa Jadi Andalan saat Market Crash Terjadi
Ilustrasi penurunan nilai saham (freepik.com)
  • Valuasi saham berkapitalisasi besar dinilai tinggi, dengan Shiller CAPE 42,15, sehingga investor perlu selektif mencari aset berfundamental kuat saat pasar terkoreksi.
  • VictoryShares US Value Momentum ETF (ULVM) menggabungkan faktor value dan momentum, memilih 25% saham large-cap teratas, serta memiliki sekitar 124 kepemilikan.
  • ULVM mencatat return sekitar 29% dalam 12 bulan dan turun sekitar 8% pada 2022 saat S&P 500 turun 19%, namun tetap mengandung risiko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Koreksi atau crash pasar saham memang sering membuat investor panik. Namun, bagi investor yang memiliki strategi dan dana yang cukup, kondisi seperti ini juga bisa menjadi kesempatan untuk menemukan saham atau aset berkualitas dengan harga yang lebih menarik. Ketika harga turun, fokusnya bukan sekadar mencari aset yang paling murah, tetapi menemukan investasi yang memiliki fundamental dan strategi yang mampu bertahan dalam berbagai kondisi pasar.

Saat ini, valuasi sejumlah saham berkapitalisasi besar berada di level yang cukup tinggi. Salah satu indikatornya adalah Shiller CAPE (cyclically adjusted price-to-earnings) ratio, yang berada di angka 42,15. Angka tersebut menjadi salah satu level tertinggi dalam sejarah metrik valuasi tersebut, bahkan mendekati level yang terakhir terlihat ketika gelembung dot-com mencapai puncaknya pada 1999.

Jika pasar mengalami penurunan signifikan, tentu tidak semua saham besar yang saat ini terlihat mahal akan otomatis menjadi pilihan menarik. Justru, investor perlu lebih selektif dalam menentukan aset yang berpotensi memberikan peluang terbaik ketika valuasi mulai turun.

Salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan dalam skenario tersebut adalah VictoryShares US Value Momentum ETF (NASDAQ: ULVM).

  1. 1. Menggabungkan strategi value dan momentum

    portofolio investasi
    Ilustrasi portofolio investasi (freepik.com)

    VictoryShares US Value Momentum ETF memiliki pendekatan yang menggabungkan dua faktor investasi, yaitu value dan momentum. Strateginya berfokus pada saham berkapitalisasi besar yang tidak hanya memiliki valuasi relatif menarik, tetapi juga masih menunjukkan tren harga yang positif.

    ETF ini mengikuti Nasdaq Victory US Value Momentum Index, yang memilih saham dari Nasdaq US Large Cap 500 dengan eksposur tinggi terhadap faktor value dan momentum.

    Untuk menentukan skor value, saham dinilai berdasarkan sejumlah indikator valuasi, seperti rasio price-to-earnings (P/E) dan metrik valuasi lainnya. Sementara itu, skor momentum ditentukan berdasarkan pergerakan harga saham selama enam dan 12 bulan terakhir, dengan mengecualikan bulan terakhir dan menyesuaikannya dengan tingkat volatilitas.

    Setelah mendapatkan skor value dan momentum, setiap saham kemudian diberi peringkat berdasarkan kombinasi kedua faktor tersebut. Saham yang berada di 25% teratas akan masuk ke dalam portofolio ETF. Saham dengan volatilitas yang lebih rendah juga mendapatkan bobot yang lebih besar. Indeks ini di-rebalancing dan direkonstitusi setiap kuartal, begitu pula dengan portofolio ETF-nya.

    Saat ini, ETF tersebut memiliki sekitar 124 saham, dengan Johnson & Johnson, Berkshire Hathaway, dan Realty Income sebagai tiga kepemilikan terbesar. Dari sisi sektor, perusahaan keuangan menjadi bagian terbesar dalam portofolio dengan sekitar 29 persen, sementara sektor kesehatan dan industri masing-masing menyumbang sekitar 11 persen.

  2. 2. Bagaimana kinerjanya?

    Ilustrasi mengamati pasar saham (freepik.com)
    Ilustrasi mengamati pasar saham (freepik.com)

    Strategi value dan momentum tersebut sejauh ini menunjukkan hasil yang cukup baik. Dalam 12 bulan terakhir, VictoryShares US Value Momentum ETF mencatat total return sekitar 29 persen, mengungguli S&P 500 dalam periode yang sama.

    Untuk periode tiga dan lima tahun, rata-rata imbal hasil tahunannya berada di sekitar 13 persen, kurang lebih sejalan dengan kinerja S&P 500. ETF ini sendiri belum memiliki rekam jejak 10 tahun karena baru diluncurkan pada 2017. Menariknya, kinerja tersebut tetap mampu mengikuti S&P 500 meskipun beberapa tahun terakhir pasar banyak didorong oleh perusahaan teknologi besar dan saham-saham megacap.

  3. 3. Justru menarik saat pasar turun

    Ilustrasi seorang wanita memerhatikan pergerakan pasar saham (freepik.com)
    Ilustrasi seorang wanita memerhatikan pergerakan pasar saham (freepik.com)

    Kekuatan strategi ini mungkin akan lebih terlihat ketika kondisi pasar berubah menjadi bearish. Ketika pasar mengalami penurunan, faktor value dapat menjadi semakin penting, sementara momentum dapat membantu mengidentifikasi saham yang masih menunjukkan kekuatan relatif.

    Contohnya dapat dilihat pada 2022. Ketika S&P 500 turun sekitar 19 persen, VictoryShares US Value Momentum ETF hanya mengalami penurunan sekitar 8 persen pada tahun tersebut. Artinya, ETF ini tidak hanya dirancang untuk mengikuti kenaikan pasar, tetapi juga memiliki karakteristik yang berpotensi memberikan perlindungan relatif lebih baik ketika pasar mengalami tekanan.

  4. 4. Bukan berarti bebas risiko

    Ilustrasi risiko investasi (freepik.com)
    Ilustrasi risiko investasi (freepik.com)

    Meski memiliki strategi yang menarik, ETF ini tetap merupakan investasi yang memiliki risiko. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan, dan strategi value maupun momentum juga dapat mengalami periode ketika performanya tertinggal dari indeks pasar.

    Karena itu, jika pasar benar-benar mengalami koreksi atau crash, investor sebaiknya tidak terburu-buru membeli hanya karena harga aset terlihat lebih murah. Kondisi tersebut justru menjadi momen untuk kembali melihat valuasi, fundamental, diversifikasi, serta kesesuaian investasi dengan tujuan masing-masing.

    Pada akhirnya, market crash bukan hanya tentang kerugian, tetapi juga tentang bagaimana investor mempersiapkan diri untuk menemukan peluang ketika harga menjadi lebih rasional. Memiliki strategi sebelum pasar turun dapat membantu investor tetap tenang dan membuat keputusan berdasarkan perhitungan, bukan kepanikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More