SBY: Negara Berkembang Habiskan Lebih Banyak Uang untuk Bayar Utang

- SBY menyoroti meningkatnya tekanan keuangan publik di negara berkembang karena pembayaran utang yang membengkak, sementara kebutuhan pendanaan sektor vital seperti kesehatan dan pendidikan terus naik.
- Ia menggambarkan dunia tengah menghadapi krisis berlapis, termasuk dampak perubahan iklim yang kini dirasakan langsung melalui bencana alam dan ketidakamanan pangan yang menekan kelompok rentan.
- SBY menekankan pentingnya Indonesia memiliki strategi pembangunan sendiri yang seimbang antara keterbukaan global, tanggung jawab sosial, keberlanjutan lingkungan, dan percepatan transformasi digital.
Jakarta, IDN Times - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti meningkatnya tekanan terhadap keuangan publik di banyak negara berkembang. Menurutnya, beban pembayaran utang terus meningkat. Di sisi lain, kebutuhan pendanaan untuk berbagai sektor juga meningkat.
"Kita juga melihat tekanan yang semakin besar pada keuangan publik. Banyak negara berkembang menghabiskan lebih banyak uang untuk pembayaran utang, sementara kebutuhan pembiayaan untuk kesehatan, pendidikan, infrastruktur, transisi energi, dan adaptasi iklim terus meningkat," kata SBY di Perbanas Institute, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
1. SBY sebut dunia sedang menghadapi krisis yang saling bertumpuk

SBY menggambarkan situasi dunia sedang berada dalam kondisi yang tidak normal karena berbagai krisis terjadi secara bersamaan dan terus berulang dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah perubahan iklim.
"Perubahan iklim bukan lagi prediksi yang jauh. Kini itu menjadi pengalaman sehari-hari. Banjir, kekeringan, kebakaran hutan, kenaikan permukaan laut, ketidakamanan pangan, dan bencana alam yang paling keras menghantam kelompok miskin dan rentan," paparnya.
2. Fragmentasi global memengaruhi perdagangan dan teknologi

SBY juga menyinggung perubahan dinamika ekonomi global yang semakin terfragmentasi. Perdagangan internasional disebut tidak lagi hanya dipengaruhi pertimbangan efisiensi, tetapi juga faktor geopolitik. Selain itu, perkembangan teknologi dinilai tidak hanya menjadi pendorong produktivitas, tetapi juga menjadi ruang persaingan antarnegara.
"Ekonomi global menghadapi fragmentasi. Perdagangan tidak lagi hanya didorong oleh efisiensi, tetapi juga oleh geopolitik. Teknologi menjadi sumber produktivitas, tetapi juga arena persaingan," tuturnya.
3. Indonesia dinilai perlu memiliki strategi pembangunan sendiri

Dalam menghadapi kondisi global tersebut, SBY menyebut negara berkembang seperti Indonesia perlu menyusun pendekatan pembangunan yang sesuai kebutuhan nasional.
Strategi tersebut mencakup keterbukaan terhadap dunia luar dengan tetap berlandaskan kepentingan nasional, mendorong mekanisme pasar yang disertai tanggung jawab sosial, mengejar pertumbuhan yang memperhatikan lingkungan, serta mempercepat transformasi digital dengan tetap menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.
"Dalam situasi global seperti ini, negara berkembang seperti Indonesia harus bijaksana. Kita tidak bisa sekadar meniru jalur yang ditempuh negara maju. Kita harus merancang strategi pembangunan sendiri," kata SBY.

















