Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Prabowo Minta Masukan soal Ekonomi ke Eks Pejabat Era SBY

Prabowo Minta Masukan soal Ekonomi ke Eks Pejabat Era SBY
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bersama Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Intinya Sih
  • Presiden Prabowo mengundang sejumlah mantan pejabat era SBY untuk berdiskusi dan meminta masukan terkait kondisi ekonomi nasional terkini di Istana Kepresidenan Jakarta.
  • Dalam pertemuan itu dibahas pengalaman menghadapi krisis 2005 dan 2008, termasuk lonjakan harga minyak serta inflasi tinggi, dengan penilaian bahwa kondisi makro saat ini lebih stabil.
  • Burhanuddin Abdullah menegaskan diskusi tidak secara spesifik membahas pelemahan rupiah, namun menyoroti kesamaan dampak krisis masa lalu terhadap nilai tukar akibat faktor global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah mantan pejabat di era Presiden ke-6 RI, Soesilo Bambang Yudhoyono, untuk meminta masukan terkait kondisi ekonomi terkini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, mereka yang diundang ada Kepala Badan Perencanaan Pembanguan Nasional 2005-2009, Paskah Suzetta; Duta Besar Indonesia untuk China 2005-2009, Sudrajat; dan Gubernur Bank Indonesia BI) 2003-2008, Burhanuddin Abdullah.

"Tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau gubernur Bank Indonesia, antara lain tadi Pak

Burhanuddin, kemudian ada Pak Paskah Suzetta, ada Pak Drajat, terus ada Pak Lukita," ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (22/5/2026). "Dan dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014," sambungnya.

1. Isi pembahasannya

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bersama Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bersama Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Airlangga mengatakan, dalam pertemuan itu, mereka yang diundang menyampakan beberapa catatan ketika masa krisis ekonomi di tahun 2005 dan 2008.

"Di tahun 2005 ada krisis minyak di mana harga minyak bisa naik sampai 140 dolar. Ada pada waktu itu penyesuaian harga sehingga inflasinya bisa naik ke 27 persen. Nah, kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya," ucap dia.

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga meminta Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, untuk memonitor regulasi agar bisa memperkuat situasi finansial.

"Dan juga menjaga pruden dari perbankan kita. Kita memang jumlah perbankan banyak, dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat," kata dia.

2. Burhanuddin Abdullah mengaku diskusi terkait kondisi ekonomi

Gubernur Bank Indonesia BI) 2003-2008, Burhanuddin Abdullah (dok. Istimewa)
Gubernur Bank Indonesia BI) 2003-2008, Burhanuddin Abdullah (dok. Istimewa)

Secara terpisah, Burhanuddin mengaku diskusi bersama Presiden Prabowo terkait kondisi ekonomi. Dia menceritakan kondisi krisis ekonomi di masa lalu.

"Dulu misalnya kan tahun 2005 kita naikin BBM 126 persen, cuma beda sumbernya aja, sekarang eksternal, dulu di dalam negeri yang menaikkan. Itu juga karena eksternal kan, faktornya maksud saya eksternal kan. Nah terus kemudian dampaknya kan sama seperti sekarang," ujar Burhanuddin.

3. Tidak ada bicara soal melemahnya nilai tukar rupiah

Gubernur Bank Indonesia BI) 2003-2008, Burhanuddin Abdullah (dok. Istimewa)
Gubernur Bank Indonesia BI) 2003-2008, Burhanuddin Abdullah (dok. Istimewa)

Burhanuddin mengaku, tidak ada diskusi terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat secara spesifik. Namun, Burhanuddin menjabarkan kondisi krisis yang terjadi di 2005 juga berdampak pada pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"Gak spesifik (bahas melemahnya nilai tukar rupiah). Tapi, keseluruhan dampak dari (krisis 2005)... sekarang faktor global dulu dari faktor domestik yang karena subsidinya besar gitu waktu itu," kata dia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More