Segini Air yang Dibutuhkan Buat Pengeboran PLTP Ungaran

Kebutuhan air PLTP Gunung Ungaran paling besar berada pada tahap pengeboran, yakni sekitar 100-200 meter kubik per hari.
Fluida panas bumi mengandung mineral dan dapat dikelola melalui treatment serta reinjeksi agar tidak memengaruhi kualitas air.
Emisi PLTP diperkirakan lebih rendah dibandingkan PLTU batu bara, dengan rencana kapasitas sekitar 55 MW.
Jakarta, IDN Times - Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Yoga Aribowo mengatakan kebutuhan air PLTP Gunung Ungaran berbeda antara tahap pengeboran dan saat pembangkit sudah beroperasi.
Menurut dia, setelah pembangkit menghasilkan listrik, kebutuhan air tidak lagi besar. Air lebih banyak digunakan untuk kebutuhan domestik kantor, mess, dan fasilitas pendukung lainnya.
“Setelah memproduksi listrik, PLTP tidak akan ada lagi kebutuhan air yang besar, paling hanya untuk domestik kantor atau mess, dan fasilitas lain. Itu kebutuhan airnya tidak akan signifikan,” kata Yoga dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).
1. Kebutuhan air terbesar ada saat pengeboran

Sejumlah wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). (Antara/Aprillio Akbar) Yoga mengatakan kebutuhan air dalam pengembangan panas bumi merupakan bagian dari kebutuhan teknis yang telah diperhitungkan operator. Pada tahap pengeboran, kebutuhan air dapat mencapai 100-200 meter kubik per hari.
“Pada tahap pengeboran, kebutuhan air dapat mencapai sekitar 100-200 meter kubik per hari, bergantung pada kedalaman dan kondisi pengeboran,” tuturnya.
Untuk sumber air, Yoga menyebut pengembang dapat merencanakannya dari sumber yang tidak digunakan masyarakat. Salah satu opsi yang disebut adalah akuifer dalam yang berada ratusan meter di bawah permukaan. Air juga dapat ditampung terlebih dahulu.
2. Fluida panas bumi mengandung mineral

Sejumlah wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). (Antara/Aprillio Akbar) Yoga menjelaskan sekitar 95 persen fluida yang diproduksikan dari reservoir panas bumi berupa air. Fluida tersebut juga mengandung sejumlah mineral terlarut.
“Fluida tersebut mengandung sejumlah mineral terlarut seperti natrium, kalium, magnesium, klorida, sulfat dan bikarbonat, serta unsur seperti litium dan boron dalam konsentrasi lebih rendah,” ujarnya.
Menurut Yoga, fluida panas bumi dapat dikelola melalui proses treatment dan reinjeksi. Pengelolaan tersebut ditujukan agar fluida tidak memengaruhi kualitas air permukaan maupun air dekat permukaan. Dia juga menjelaskan reservoir panas bumi dan akuifer air tanah merupakan sistem yang berbeda secara hidrologis.
3. Emisi PLTP disebut lebih rendah dari PLTU

ilustrasi energi terbarukan geothermal (pexels.com/Kerry) Dari sisi emisi, Yoga menyebut PLTP Gunung Ungaran berpotensi membantu menekan emisi dari sektor ketenagalistrikan. Ia memperkirakan emisi PLTP sekitar 100 gram CO2 per kWh, sedangkan PLTU batu bara sekitar 900 gram CO2 per kWh.
“Semakin banyak porsi PLTP menggantikan PLTU, akan berkontribusi positif bagi kualitas lingkungan, baik udara, laut maupun air,” katanya.
PLTP Gunung Ungaran sendiri direncanakan memiliki kapasitas sekitar 55 megawatt (MW). Yoga menilai kapasitas tersebut dapat menambah pasokan listrik berbasis panas bumi sekaligus meningkatkan porsi energi dengan emisi lebih rendah dalam sistem ketenagalistrikan.
“Pengembangannya tetap perlu dilakukan bertahap dan berbasis kajian agar pengelolaan lingkungan dan kepentingan masyarakat tetap menjadi bagian dari perencanaan proyek,” tutur dia.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















