ilustrasi kemiskinan (unsplash.com/Jordan Opel)
BPS juga melakukan evaluasi terhadap kualitas pemeringkatan DTSEN. Evaluasi tersebut antara lain mencakup inclusion error (IE) dan exclusion error (EE), serta validasi terhadap kondisi faktual di lapangan. Namun, BPS menyatakan besaran IE dan EE tidak dapat disederhanakan menjadi satu angka yang berlaku untuk seluruh penggunaan DTSEN. Tingkat kesalahan bergantung pada kelompok sasaran, batas desil yang digunakan, serta benchmark atau data pembanding dalam evaluasi.
Dengan demikian, pemutakhiran data menjadi bagian penting untuk menjaga agar DTSEN tetap relevan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Posisi desil pun dapat berubah mengikuti perubahan kondisi keluarga dan posisi relatifnya dalam pemeringkatan.
Hal ini yang terjadi pada perbedaan data angka kemiskinan Indonesia versi Bank Dunia tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan angka kemiskinan nasional yang dirilis BPS, menyusul laporan Bank Dunia yang menyebut 64,2 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.
Angka tersebut merupakan proyeksi untuk 2026 dalam Macro Poverty Outlook edisi April 2026. Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan sebesar 8,30 dolar AS per kapita per hari berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) 2021. Sementara itu, BPS mencatat tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2026 sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang.
Nashrul menjelaskan, perbedaan angka tersebut terjadi karena Bank Dunia dan BPS menggunakan standar serta tujuan pengukuran kemiskinan yang berbeda. Garis kemiskinan 8,30 dolar AS per kapita per hari merupakan standar Bank Dunia untuk negara berpendapatan menengah atas atau upper-middle income countries (UMIC). Ukuran tersebut terutama digunakan untuk membandingkan tingkat kesejahteraan antarnegara.
Dalam pembaruan terbarunya, Bank Dunia menggunakan tiga garis kemiskinan internasional. Masing-masing sebesar 3 dolar AS per kapita per hari untuk mengukur kemiskinan ekstrem, 4,20 dolar AS per kapita untuk negara berpendapatan menengah bawah, dan 8,30 dolar AS per kapita untuk negara berpendapatan menengah atas.
Nashrul menjelaskan, angka 8,30 dolar AS per kapita tersebut bukan hasil konversi langsung dari dolar AS ke rupiah berdasarkan kurs pasar. Bank Dunia menggunakan PPP 2021 untuk memperhitungkan perbedaan daya beli antarnegara. Dengan standar tersebut, angka kemiskinan Indonesia sebesar 64,2 persen menunjukkan proporsi penduduk yang memiliki pengeluaran di bawah 8,30 dolar AS per kapita per hari berdasarkan PPP 2021.