Siapa Pemilik Alfamart? Ini Profil dan Kekayaannya

Djoko Susanto adalah sosok kunci di balik berdirinya Alfamart, jaringan minimarket terbesar di Indonesia.
PT Sigmantara Alfindo merupakan pemegang saham terbesar di Alfamart dengan kepemilikan mencapai 50,19 persen per 2025.
Kekayaan Djoko Susanto berdasarkan data Real Time Billionaires Forbes per Jumat (27/2/2026) mencapai 2,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp41,9 triliun.
Jakarta, IDN Times - Alfamart menjadi salah satu minimarket yang banyak disukai masyarakat karena lokasinya mudah dijangkau, tersebar hingga ke berbagai daerah, serta menawarkan kebutuhan sehari-hari dengan harga yang relatif terjangkau.
Selain itu, kenyamanan tempat, pelayanan yang ramah, promo yang rutin, dan kelengkapan produk membuat Alfamart menjadi salah satu pilihan warga untuk berbelanja cepat, praktis, dan efisien, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan mendadak.
Alhasil, banyak orang penasaran siapa pemilik Alfamart? Berikut informasinya yang menarik untuk disimak.
Table of Content
1. Siapa pemilik Alfamart?

PT Sigmantara Alfindo merupakan pemegang saham terbesar di Alfamart dengan kepemilikan mencapai 50,19 persen per 2025. Perusahaan ini merupakan milik Djoko Susanto yang juga dikenal sebagai sosok kunci di balik berdirinya jaringan gerai minimarket tersebut.
Djoko Susanto dulu memulai usahanya dengan mengelola warung sederhana milik keluarga di pasar tradisional Jakarta pada usia 17 tahun. Kemudian, dia bermitra dengan taipan rokok kretek, Putera Sampoerna untuk membuka kios serupa dan mengembangkan jaringan supermarket diskon. Saat Putera Sampoerna menjual bisnis rokoknya kepada Philip Morris pada 2005, dia membeli bisnis ritel tersebut dan kemudian memperluasnya menjadi jaringan Alfamart.
Selain PT Sigmantara Alfindo, laman resmi Alfamart juga mencantumkan pemegang saham lainnya dengan kepemilikan 49,81 persen. Pemegang lainnya tersebut tidak disebutkan secara rinci, namun mencakup juga direksi dan komisaris.
2. Sejarah Alfamart dari awal berdiri hingga ekspansi nasional

Awal mula terjun di dunia dagang
Bakat bisnis Djoko Susanto telah diasah sejak belia. Saat masih kecil, ia sudah terbiasa membantu bisnis orang tuanya di warung sederhana. Pengalaman ini kemudian menjadi cikal bakal pemahamannya terhadap dunia dagang.
Sekitar umur 17 tahun, Djoko sudah mengelola sejumlah warung makanan. Dia juga menjual rokok dan sukses membuka banyak gerai lainnya yang tersebar di berbagai pasar tradisional.
Perjalanannya sempat dihadapkan masalah karena sebuah insiden yang membuat bisnisnya rugi. Namun, Djoko tak lantas menyerah dan langsung bangkit dalam waktu singkat.
Setelah beberapa waktu hingga keadaan hampir normal kembali, Djoko mengembangkan inovasi lain dengan berjualan rokok. Terbukti, usahanya tidak sia-sia. Dia sukses merangkul banyak pelanggan, termasuk menarik perhatian Putera Sampoerna yang akhirnya sepakat untuk bekerja sama.
Djoko Susanto mendirikan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk
Beberapa waktu berlalu, Djoko lalu mendirikan jaringan toko yang menjadi cikal bakal Alfa Toko Gudang Rabat (ATGR). Di kemudian hari, toko itu berevolusi menjadi Alfamart. Puncaknya pada 1999, Djoko Susanto bersama Sampoerna Group mendirikan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk guna mengelola jaringan ritel Alfamart.
Pada awal 2000-an, Sampoerna menjual bisnisnya ke Philip Morris. Djoko kemudian berinisiatif membeli kembali saham dari Sampoerna, sehingga menjadi pemilik mayoritas Alfamart.
Sampai tahun 2002, perusahaan mengakuisisi 141 gerai Alfa Minimart dan secara resmi mengubah nama menjadi Alfamart. Langkah ini menandai awal dari perjalanan ekspansi bisnis mereka di sektor ritel.
Tahun 2009 menjadi titik penting bagi Alfamart usai pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana atau IPO. Pada tahun yang sama, mereka mulai memasuki pasar Bali dan memperkenalkan penggunaan conveyor belt dalam operasional tokonya. Hingga akhir 2009, lebih dari 3.300 gerai Alfamart telah beroperasi di seluruh Indonesia.
Ekspansi bisnis hingga akuisisi perusahaan lain
Pada 2012, Alfamart melaksanakan penawaran umum terbatas tanpa hak memesan efek terlebih dahulu. Pada tahun yang sama, mereka mendirikan anak perusahaan bernama PT Sumber Indah Lestari yang berfokus pada perdagangan eceran kosmetik. Ekspansi mereka terus berlanjut dengan memasuki pasar Medan dan jumlah gerai mereka bertambah menjadi lebih dari 7.000.
Alfamart lalu melakukan akuisisi tambahan saham PT Midi Utama Indonesia Tbk pada 2013. Mereka juga melakukan pemecahan nilai nominal saham dari Rp100 menjadi Rp10 per lembar saham.
Selain itu, Alfamart juga mendirikan anak perusahaan Alfamart Retail Asia Pte. Ltd dengan kepemilikan saham 100 persen. Tahun tersebut juga ditandai dengan ekspansi ke pasar Jambi, Pekanbaru, dan Banjarmasin sehingga jumlah total gerai yang beroperasi melebihi 8.500.
Hingga saat ini, Alfamart telah memiliki lebih dari 20 ribu gerai yang beroperasi. Bahkan, Alfamart juga melakukan ekspansi pasar ke Filipina.
3. Ekspansi internasional dan peningkatan operasional Alfamart
Pada 2014, Alfamart memulai ekspansi internasional dengan mendirikan Alfamart Trading Philippines Inc. melalui anak perusahaan Alfamart Retail Asia Pte. Ltd. Momen ini menandai langkah pertama mereka memasuki pasar Filipina.
Tahun tersebut juga ditandai dengan beberapa langkah strategis seperti Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan I Sumber Alfaria Trijaya Tahap I dan penawaran umum saham terbatas tanpa hak memesan efek terlebih dahulu. Selain itu, Alfamart meningkatkan kepemilikan saham di MIDI menjadi 86,72 persen dan memperluas jangkauan pasar domestiknya ke Pontianak dan Manado dengan total lebih dari 9.800 gerai yang beroperasi.
Pada 2015, Alfamart mendirikan PT Sumber Trijaya Lestari dan kembali melakukan penawaran umum saham terbatas serta Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan I Sumber Alfaria Trijaya Tahap II. Mereka juga memperluas operasionalnya ke Batam dan menambah jumlah gerai yang beroperasi.
Jumlah gerai Alfamart meningkat
Pada 2016, jumlah gerai Alfamart meningkat menjadi lebih dari 12.000, bersamaan dengan peluncuran AlfaMind, toko virtual pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi Augmented Reality.
Di 2017, Alfamart melanjutkan ekspansinya dengan Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan II Sumber Alfaria Trijaya Tahap I, meningkatkan jumlah gerai menjadi lebih dari 13.500. Setahun kemudian, mereka melanjutkan Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan II Tahap II, mencapai lebih dari 13.600 gerai dan mengoperasikan 500 gerai di Filipina.
Tahun 2019 menandai 20 tahun Alfamart beroperasi di Indonesia dengan lebih dari 14.300 gerai. Mereka meluncurkan aplikasi Alfagift dan mengakuisisi PT Global Loyalty Indonesia dengan kepemilikan 75 persen, serta mengoperasikan lebih dari 750 gerai di Filipina dengan tiga gudang. Pada 2020, Alfamart mencapai lebih dari 15.400 gerai di Indonesia dan 1.000 gerai di Filipina.
Pada 2021, Alfamart meningkatkan setoran modal di PT Midi Utama Indonesia Tbk, meningkatkan kepemilikan menjadi 89,43 persen dan mengoperasikan lebih dari 16.492 gerai. Mereka juga memasuki pasar Papua dengan membuka 22 gerai dan mengoperasikan 1.945 Toko SAPA (Siap Antar Pesanan Anda) serta lebih dari 1.200 gerai di Filipina.
Di 2022, jumlah gerai Alfamart di Indonesia mencapai 17.813 dengan tambahan 2.985 gerai dari anak perusahaan. Alfamart juga memperluas jangkauannya dengan membuka gerai di Aceh, Bintan, Raja Ampat, dan Timor Tengah Selatan serta meningkatkan jumlah Toko SAPA menjadi 3.003 dan mengoperasikan lebih dari 1.400 gerai di Filipina.
Setahun berlalu, Alfamart sudah memiliki 19.087 gerai perseroan dan 3.583 entitas anak yang beroperasi. Di Filipina, sudah ada lebih dari 1.600 gerai dengan total 4 Gudang. Mereka juga mengelola 3.114 Toko Sapa (Siap Antar Pesanan Anda).
Memasuki tahun 2024, Alfamart membuka gudang di Tegal, Gorontalo, dan Luwu untuk memperkuat jaringan distribusi. Total, mereka mengoperasikan 20.120 gerai di Indonesia dan 2.000+ gerai perseroan beroperasi di Filipina dengan total 5 gudang.
Hingga 2026 ini, Alfamart masih menjadi tujuan populer masyarakat untuk belanja. Perkembangan gerainya pun diprediksi bakal terus bertambah secara signifikan.
4. Profil Djoko Susanto

Djoko Susanto atau Kwok Kwie Fo adalah sosok penting di balik berdirinya Alfamart. Dia lahir pada 9 Februari 1950 di Jakarta. Pada latar belakangnya, Djoko diketahui adalah putra dari Kwok Man Tok dan Wong Sat yang datang ke Indonesia sebagai perantau.
Berasal dari keluarga pedagang, Djoko sejak kecil sudah dikenalkan dengan dunia bisnis dan dagang. Keluarganya dulu diketahui mengelola bisnis kelontong bernama Toko Sumber Bahagia yang menjual berbagai barang.
Sebagai anak keenam dari 10 bersaudara, Djoko sudah ikut terjun mengelola warung sederhana milik orang tuanya di pasar tradisional sejak usia 17 tahun. Pada perjalananya, ia kemudian bermitra dengan taipan rokok cengkeh Putera Sampoerna untuk membuka kios serupa hingga jaringan supermarket diskon.
Saat mitranya itu menjual bisnis rokoknya kepada Philip Morris pada 2005, Djoko Susanto membeli bisnis ritelnya dan mengembangkannya menjadi jaringan Alfamart seperti sekarang.
Berdasarkan data Real Time Billionaires Forbes per Jumat (27/2/2026), kekayaan Djoko Susanto mencapai 2,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp41,9 triliun. Dia telah membangun kerajaan ritel yang mencakup lebih dari 20 ribu toko serba ada di seluruh Indonesia dan ribuan di Filipina.
5. Daftar bisnis Djoko Susanto

Djoko Susanto kini dikenal sebagai salah satu pengusaha ritel paling sukses di Indonesia. Namanya melejit berkat jaringan minimarket yang tersebar luas hingga ke berbagai daerah, bahkan luar negeri.
Melalui grup usahanya, Djoko mengembangkan berbagai bisnis di sektor ritel yang rasanya sudah cukup familiar bagi masyarakat di Indonesia. Berikut di antaranya.
1. Alfamart
Alfamart adalah bisnis paling terkenal milik Djoko Susanto. Perusahaan miliknya, PT Sigmantara Alfindo, merupakan pemegang saham terbesar di Alfamart dengan kepemilikan mencapai 50,19 persen per 2025.
Alfamart sendiri bergerak di bidang ritel minimarket dan memiliki ribuan gerai di seluruh Indonesia. Perusahaan induknya adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
2. Alfamidi
Alfamidi merupakan pengembangan konsep dari Alfamart dengan ukuran toko yang lebih besar dan pilihan produk yang lebih lengkap. Di antaranya termasuk produk segar seperti buah dan sayur. Kehadirannya berada di bawah PT Midi Utama Indonesia Tbk.
3. Lawson Indonesia
Pada 2025, Djoko Susanto melalui PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk mengakuisisi PT Lancar Wiguna Sejahtera yang mengelola Lawson Indonesia. Jaringan convenience store asal Jepang ini dikenal dengan konsep makanan siap saji dan fresh food.
4. Dan+Dan
Ada lagi Dan+Dan, jaringan toko ritel yang fokus pada produk kecantikan dan perawatan diri. Berada di bawah PT Sumber Indah Lestari, bisnis ini memperluas ekspansi grup Alfamart ke sektor health & beauty.
5. Alfa Express
Lanjut, ada Alfa Express yang biasanya hadir di area transportasi publik seperti stasiun dan bandara. Kehadirannya menyasar konsumen dengan mobilitas tinggi.
Selain sejumlah nama di atas, Djoko Susanto sebenarnya masih memiliki sederet bisnis lain yang turut dimiliki. Hanya saja, informasinya masih sangat terbatas dan belum diketahui secara pasti.
Itulah tadi ulasan mengenai siapa pemilik Alfamart yang banyak membuat orang penasaran. Bagaimana menurutmu?
FAQ seputar siapa pemilik Alfamart
| Siapa pemilik Alfamart? | Bos Alfamart adalah Djoko Susanto. Perusahaannya, PT Sigmantara Alfindo, diketahui sebagai pemegang saham terbesar di Alfamart dengan kepemilikan mencapai 50,19 persen per 2025. |
| Siapa Djoko Susanto? | Djoko Susanto adalah sosok pebisnis ritel yang sukses. Dia dikenali sebagai sosok penting di balik kehadiran Alfamart. |
| Berapa kekayaan Djoko Susanto? | Berdasarkan data Real Time Billionaires Forbes per Jumat (27/2/2026), kekayaan Djoko Susanto mencapai 2,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp41,9 triliun. |


















