Airlangga Pede Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh 5,5 Persen

- Airlangga Hartarto optimistis ekonomi Indonesia kuartal I-2026 tumbuh 5,5 persen, dengan dasar fundamental yang dinilai kuat meski data resmi BPS baru dirilis Mei 2026.
- Pemerintah terus memantau dampak konflik Timur Tengah terhadap harga minyak, namun yakin stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah gejolak global.
- Pertumbuhan didorong oleh pencairan THR, stimulus Rp809 triliun, serta sektor manufaktur dan neraca perdagangan yang tetap ekspansif dan kompetitif di kawasan ASEAN.
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 bakal menyentuh angka 5,5 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri baru akan merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 pada 1 Mei 2026 mendatang.
“Walaupun menunggu rilis dari Ibu Kepala BPS, namun beberapa kali dari kami memprediksi bahwa pertumbuhan di kuartal pertama secara fundamental relatif baik, dan angkanya kalau tidak ada protes ya lebih besar sama dengan 5,5 persen,” kata Airlangga dalam konferensi pers di kantor BKPM, Jakarta, Kamis (23/4/2026).
1. Pemerintah monitor dampak konflik Timur Tengah

Di tengah gejolak dunia akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, dia meyakini perekonomian Indonesia tetap terjaga.
Pemerintah tetap mengawasi dampak perang Timur Tengah secara berkala, terutama terkait fluktuasi harga minyak.
“Kita ketahui bahwa perang di Selat Hormuz belum selesai, masih dalam situasi yang perlu dimonitor secara mingguan, karena juga fluktuasi harga minyak juga naik turun secara mingguan,” tutur Airlangga.
2. Pemerintah klaim pencairan THR dorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga

Adapun faktor yang meyakini pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 bisa di atas 5 persen adalah pencairan tunjangan hari raya (THR) yang akan mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
“Di Indonesia sendiri, pertumbuhan di triwulan pertama cukup baik, dingin topang oleh konsumsi rumah tangga, penyaluran THR, serta akselerasi belanja dan stimulus yang mencapai Rp809 triliun,” ujar Airlangga.
3. Sebut daya saing industri manufaktur tetap tinggi

Dia juga menyinggung Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur yang masih di atas level 50. Menurut Airlangga, meski sedikit menurun, angka itu menandakan adanya ekspansi.
“Manufaktur walaupun turun tapi masih di atas 50 dan tetap kompetitif di kawasan ASEAN,” tutur Airlangga
Faktor eksternal lainnya adalah adalah surplus neraca perdagangan, di mana per Februari 2026 sebesar 1,27 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
“Surplus seneraca perdagangan tercatat 70 bulan berturut-turut, jadi ini menunjukkan juga resiliensi Indonesia dengan cadangan devisa memadai di Rp148,2 miliar,” ucap Airlangga.

















