Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Suku Bunga Tinggi Bisa Bikin Harga Rumah Ikut Mahal?

3 min read
Kenapa Suku Bunga Tinggi Bisa Bikin Harga Rumah Ikut Mahal?
ilustrasi uang dan rumah (pexels.com/Jakub Zerdzicki)
  • Sekitar 70,05 persen pembelian rumah primer pada triwulan II 2026 memakai KPR; kenaikan suku bunga membuat cicilan lebih besar sehingga rumah terasa lebih mahal bagi pembeli.
  • Bunga tinggi turut menaikkan biaya pembiayaan pengembang untuk lahan, konstruksi, pekerja, dan operasional, yang dapat dipertimbangkan dalam penyesuaian harga jual rumah.
  • Harga rumah tidak otomatis turun saat permintaan melemah karena dipengaruhi pasokan, lahan, konstruksi, dan lokasi; harga residensial primer triwulan II 2026 masih tumbuh 0,69 persen tahunan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Suku bunga sering dianggap hanya berpengaruh terhadap cicilan pinjaman. Padahal, perubahan suku bunga juga bisa memengaruhi pasar properti karena sebagian besar pembelian rumah dilakukan dengan bantuan kredit. Di Indonesia, Bank Indonesia mencatat sekitar 70,05 persen pembelian rumah primer pada triwulan II 2026 menggunakan skema KPR.

Menariknya, suku bunga tinggi tidak otomatis membuat harga rumah langsung naik. Pengaruhnya bisa muncul secara tidak langsung melalui biaya kredit, biaya usaha pengembang, hingga jumlah rumah yang tersedia di pasar. Simak penyebab suku bunga tinggi bisa bikin harga rumah ikut mahal di pasaran berikut ini.

  1. 1. Suku bunga tinggi membuat KPR lebih mahal

    ilustrasi suku bunga
    ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Ketika suku bunga meningkat, biaya meminjam uang dari bank biasanya ikut naik. Kondisi tersebut dapat membuat cicilan KPR menjadi lebih besar, terutama bagi pinjaman dengan bunga yang dapat berubah mengikuti kondisi pasar. Akibatnya, calon pembeli perlu menyiapkan kemampuan finansial yang lebih besar untuk membeli rumah dengan harga yang sama.

    Contohnya, kita mungkin masih mampu membeli rumah seharga Rp500 juta ketika cicilan berada pada tingkat tertentu. Ketika bunga meningkat, cicilan untuk rumah yang sama bisa menjadi lebih berat meskipun harga rumahnya tidak berubah. Artinya, kenaikan suku bunga dapat membuat rumah terasa lebih mahal dari sisi biaya yang harus dibayar pembeli.

  2. 2. Biaya pengembang juga bisa ikut terpengaruh

    ilustrasi perumahan
    ilustrasi perumahan (unsplash.com/Breno Assis)

    Pengembang tidak hanya menggunakan uang sendiri untuk membangun perumahan. Mereka juga membutuhkan pembiayaan untuk membeli lahan, membangun rumah, membayar pekerja, dan menjalankan berbagai kegiatan operasional sebelum rumah terjual. Ketika biaya pembiayaan meningkat, beban yang harus ditanggung pengembang juga dapat bertambah.

    Kondisi tersebut bisa menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan harga jual rumah. Pengembang dapat menyesuaikan harga untuk menjaga margin ketika berbagai biaya mengalami kenaikan. Namun, dampaknya tidak selalu langsung terlihat karena pengembang juga harus mempertimbangkan daya beli konsumen dan persaingan dengan proyek lain.

  3. 3. Harga rumah tidak selalu turun saat bunga naik

    ilustrasi membeli rumah
    ilustrasi membeli rumah (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Secara teori, suku bunga tinggi dapat mengurangi permintaan rumah karena masyarakat menjadi lebih berhati-hati mengambil KPR. Namun, harga rumah tidak hanya ditentukan oleh jumlah orang yang ingin membeli. Ketersediaan lahan, biaya konstruksi, lokasi, dan jumlah rumah yang dibangun juga ikut menentukan harga.

    Karena itu, penurunan permintaan tidak selalu langsung membuat harga rumah turun. Pemilik rumah atau pengembang bisa memilih menahan harga sambil menunggu kondisi pasar membaik. Bank Indonesia sendiri mencatat harga properti residensial primer pada triwulan II 2026 masih tumbuh 0,69 persen secara tahunan meskipun penjualan rumah secara keseluruhan masih mengalami kontraksi.

  4. 4. Rumah terasa semakin mahal meski harganya stabil

    ilustrasi membeli rumah
    ilustrasi membeli rumah (pexels.com/Ivan Samkov)

    Ada perbedaan antara harga rumah dan biaya untuk memiliki rumah. Harga sebuah rumah bisa tetap Rp500 juta, tetapi total biaya yang harus dikeluarkan pembeli dapat meningkat ketika bunga KPR lebih tinggi. Dari sudut pandang pembeli, rumah tersebut akhirnya terasa lebih mahal meskipun angka pada iklan tidak berubah.

    Inilah alasan suku bunga menjadi perhatian penting dalam pasar properti. Ketika bunga turun, cicilan dapat menjadi lebih ringan dan kemampuan masyarakat untuk mengambil KPR bisa meningkat, sedangkan bunga tinggi cenderung memberikan tekanan sebaliknya. Jadi, hubungan suku bunga dan harga rumah sebenarnya berjalan melalui banyak jalur, bukan sekadar membuat harga rumah naik atau turun secara langsung.

    Walau suku bunga tinggi bisa bikin harga rumah ikut mahal, hal tersebut bukan faktor tunggal. Pengaruhnya terlihat pada cicilan KPR, biaya pembiayaan pengembang, serta kemampuan masyarakat membeli rumah. Karena itu, saat ingin menilai apakah rumah semakin mahal, kita perlu melihat bukan hanya harga jualnya, tetapi juga bunga KPR dan biaya keseluruhan untuk memilikinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More