Tantangan Kedaulatan Pangan: Ketergantungan Impor hingga Krisis Iklim

- Indonesia masih bergantung pada komoditas impor, menjadi tantangan dalam mencapai kedaulatan pangan.
- Kendala seperti ketergantungan pada impor, alih fungsi lahan pertanian, rendahnya produktivitas, dan distribusi rantai pasok yang tidak merata membuat pangan lokal kian tersingkir.
- Diversifikasi pangan lemah disebabkan oleh perubahan iklim, namun bisa dikontrol dengan teknologi. Masyarakat perlu sadar bahwa kedaulatan pangan bisa dibangun dari rumah dengan memanfaatkan pangan lokal yang beragam.
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menyebut Indonesia masih bergantung pada komoditas impor. Hal ini disoroti oleh Ketua Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI), Santhi Serad sebagai tantangan dalam mencapai kedaulatan pangan.
Dalam diskusi pada acara Indonesia Summit 2025, Santhi menyebut banyak kendala yang membuat pangan lokal kian tersingkir.
Santhi menyebut, "Mulai dari ketergantungan pada impor, alih fungsi lahan pertanian, rendahnya produktivitas, hingga distribusi rantai pasok yang tidak merata."
Ia merasa diversifikasi pangan lemah juga disebabkan oleh perubahan iklim. Namun, permasalah iklim bisa dikontrol dengan teknologi.
Santhi juga berharap masyarakat semakin sadar bahwa kedaulatan pangan bisa dibangun dari rumah, dengan memanfaatkan pangan lokal yang beragam.
Semua berkaitan dengan mindset masyarakat yang sudah terbiasa dengan beras atau bahan-bahan impor lainnya. Zulhas menyebut tempe masih menggunakan kedelai impor. Santhi mencontohkan tepung gak harus dibuat dari kedelai impor melainkan kacang mede, kacanf polong, atau lainnya.
"Kita dari dulu nyobainnya seolah dari kacang kedelai. Kalau diubah dikit pasti butuh waktu, jadi bisa digantikan misalkan 100 persen kacang kedelai diganti 50 persen dengan kacang lainnya," kata Santhi kepada IDN Times.
Indonesia Summit 2025, khususnya sesi Visionary Leaders, merupakan sebuah konferensi independen yang diselenggarakan IDN Times untuk dan melibatkan Generasi Millennial dan Gen Z di Tanah Air. Indonesia Summit 2025 mengusung tema "Thriving Beyond Turbulence, Celebrating 80's Years Independence", bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh Nusantara.