Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Target Ekonomi 6 Persen, Mari Elka Pangestu Soroti Peran Swasta

Mari Elka Pangestu dalam acara SAT 2026.
Mari Elka Pangestu dalam acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)
Intinya sih...
  • Peran swasta penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi dan menekan ketimpangan
  • Mari soroti iklim investasi belum kompetitif, logistik dan perizinan menjadi tantangan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sebesar 6 persen pada 2026. Menanggapi hal tersebut, Mari Elka Pangestu selaku Wakil Kepala Dewan Ekonomi Nasional mengatakan, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi 6 persen pada tahun ini perlu ada stimulus ekonomi.

Mari mengatakan, strategi yang perlu dilakukan agar pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6 persen, yakni kebijakan fiskal harus jalan. Selain, itu daya beli masyarakat serta iklim investasi dari private sector atau swasta juga sangat diperlukan untuk mendorong pertumbuhan tersebut.

Pemaparan tersebut disampaikan di acara Semangat Awal Tahun 2026 by IDN Times pada Kamis (15/1/2026).

1. Peran swasta dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi dan menekan ketimpangan

Mari Elka Pangestu dalam acara SAT 2026.
Mari Elka Pangestu dalam acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Mari menegaskan, peran penting sektor swasta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, terutama dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Menurut dia, investasi juga dapat diarahkan pada sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi.

"Tentu investasi, tapi investasinya mudah-mudahan di bidang-bidang yang juga akan menciptakan lapangan pekerjaan," ujar Mari.

Penciptaan lapangan pekerjaan juga akan berkontribusi dalam menekan ketimpangan pendapatan. Inequality ini tercermin dari rasio gini Indonesia yang masih berada di angka 0,375.

"Saya sampaikan masalah koefisien gini yang harusnya bisa lebih baik, lebih equal, salah satu masalah utamanya adalah penciptaan lapangan pekerjaan dengan decent work, decent wage," kata Mari.

Bagi Mari, penyebab kurang meratanya koefisien gini Indonesia utamanya karena lapangan pekerjaan yang cukup serta inequality of opprtunity. Termasuk, bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan dalam jangka pendek, baik melalui program padat karya, casual work atau magang yang dilakukan pemerintah. Selain itu, kata dia, program jangka menengah panjang seperti perbaikan di bidang pendidikan, keterampilan, dan lain sebagainya juga dapat membantu menciptakan pemerataan.

Namun, tantangan yang masih dihadapi di pasar tenaga kerja Indonesia adalah dominasi oleh sektor informal. Sebagian pekerjaan yang tercipta berada di luar sektor formal dengan pendapatan di bawah upah minimum.

"Itu memang kaitannya dengan investment, tapi juga dengan kenyataan kita menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia lebih banyak ke informal sektor. Rata-rata penghasilannya di bawah UMP, dan banyak yang masuk ke informal sector karena terpaksa, karena formal sektornya tidak menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup," tambahnya.

2. Mari soroti iklim investasi belum kompetitif

Gubernur Banten Andra Soni dan Mari Elka Pangestu dalam acara SAT 2026
Gubernur Banten Andra Soni dan Mari Elka Pangestu dalam acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Dalam upaya menciptakan iklim investasi, Mari turut menyoroti persoalan daya saing yang masih menjadi tantangan di Indonesia. Baginya, ekosistem investasi di Indonesia masih kurang kompetitif.

"Mengapa kita tidak kompetitif? Salah satunya biaya logistik, jadi kita gak efisien dalam mengirim barang keluar-masuk maupun pergerakan di dalam. Jadi ini infrastuktur masih berperan," kata dia.

Selain logistik, Mari juga menyoroti urusan perizinan. Dia meminta perizinan tidak dipersulit sehingga pelaku usaha dapat bergerak lebih efisien.

"Jadi dunia usaha harus difasilitasi oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk di bottlenecking supaya cepat. Kalau gak, kita kehilangan opportunity dan potential," ujar dia.

Tantangan dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif tidak berhenti di situ. Menurut Mari, setelah bisnis berjalan diperlukan kepastian dalam usaha.

"Di luar itu, dunia usaha kalau sudah buka usaha dan sudah jalan, sebisa mungkin jangan banyak diganggu. Jadi, kepastian untuk berusaha, karena kalau gak ya balik lagi, high cost economy," jelas Mari.

Mari juga mendorong agar sektor padat karya mendapat perhatian khusus. Sektor ini dinilai perlu difasilitasi, diberi insentif, dan didorong pengembangan keterampilannya bagi tenaga kerja, termasuk pemanfaatan teknologi.

3. Stabilitas politik Indonesia memegang peran penting dalam memperkuat posisi ekonomi

Tito Gubernur Banten Andra Soni dan Mari Elka Pangestu dalam acara SAT 2026.
Gubernur Banten Andra Soni dan Mari Elka Pangestu dalam acara SAT 2026. (IDN Times/Herka Yanis)

Mari optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk tak lagi sekadar business as usual, melainkan business unusual. Tantangan dan peluang, kata dia, bisa dimanfaatkan dapat memperkuat posisi ekonomi.

Dia juga yakin di pusat dan daerah kita bisa memfasilitasi relokasi. Di luar diversifikasi pasar, kata dia, dengan memperluas kerja sama regional dan seterusnya, Indonesia perlu mengambil kesempatan. Terlebih, Indonesia dianggap sebagai leader di kawasan ini.

"Kita mungkin banyak plus-minus di dalam daya saing, tapi menurut saya ada satu keunggulan Indonesia, yaitu negara kita politically stable dibandingkan negara-negara lain maupun the rest of the world saat ini," kata dia.

Dengan posisi tersebut, Mari optimistis hal ini akan menjadi modal penting untuk memperkuat peranan Indonesia.

"Saya rasa karena tahun lalu pemerintahan baru, belum tahu bagaimana anggaran mau dialokasikan, mudah-mudahan tahun ini berjalan dengan baik dan belajar," ucap dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in Business

See More

Korsel Revisi Aturan untuk Perlancar Masuknya Produk Makanan Korut

17 Jan 2026, 23:50 WIBBusiness