PT SMI Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Ganggu Pembiayaan Infrastruktur

- PT SMI menegaskan konflik di Timur Tengah belum berdampak besar pada pembiayaan infrastruktur karena sekitar 75–80 persen proyeknya menggunakan mata uang rupiah.
- Total sumber pendanaan PT SMI per akhir 2025 mencapai Rp72,8 triliun, berasal dari surat utang, pinjaman bank, pinjaman pemerintah, dan lembaga keuangan pembangunan.
- Dampak geopolitik berpotensi dirasakan pada proyek konstruksi yang masih membutuhkan impor peralatan luar negeri akibat gangguan distribusi global.
Jakarta, IDN Times - PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) memastikan tensi geopolitik di Timur Tengah belum berdampak signifikan terhadap pembiayaan proyek infrastruktur yang digarap perseroan. Hal ini karena mayoritas pembiayaan proyek menggunakan mata uang rupiah.
Direktur Utama PT SMI Reynaldi Hermansjah mengatakan, struktur portofolio pembiayaan yang mayoritas menggunakan mata uang rupiah menjadi bantalan utama terhadap gejolak eksternal, termasuk fluktuasi nilai tukar.
“Sekitar 75 persen sampai 80 persen proyek infrastruktur yang kami biayai menggunakan mata uang rupiah,” ujar Reynaldi di Jakarta, dikutip Rabu (4/3/2026).
1. Sebanyak 80 proyek dibiayai mata uang rupiah

Dengan komposisi tersebut, paparan risiko nilai tukar dinilai relatif terbatas. Reynaldi menegaskan, pengaruh fluktuasi mata uang asing terhadap kinerja PT SMI secara keseluruhan tidak besar.
Ia merinci, sekitar 80 persen portofolio proyek menggunakan rupiah, sementara sisanya dalam mata uang asing. Alhasil, volatilitas kurs disebut tidak memberikan tekanan berarti terhadap sisi pembiayaan perseroan.
2. Total sumber pendanaan PT SMI hingga akhir tahun capai Rp72,8 triliun

Bila dirinci, total sumber pendanaan dari PT SMI mencapai Rp72,8 triliun per 31 Desember 2025 (unaudited). Pendanaan tersebut berasal dari kombinasi penerbitan surat utang, pinjaman bank, serta pinjaman pemerintah dan lembaga keuangan pembangunan.
Berdasarkan paparan komposisi pendanaan, porsi terbesar berasal dari surat utang sebesar 35 persen. Selanjutnya, pinjaman bank menyumbang 32 persen, pinjaman pemerintah 32 persen, dan sisanya dari lembaga keuangan pembangunan atau Development Financial Institutions (DFIs).
Untuk pinjaman bilateral, PT SMI memperoleh fasilitas pinjaman bank sebesar Rp29,6 triliun yang melibatkan 19 bank. Selain itu, terdapat pinjaman sindikasi Sustainability Linked Loan 2025 senilai 600 juta dolar AS dengan partisipasi 45 bank.
Dari sisi pinjaman pemerintah, PT SMI menerima dukungan dari Kementerian Keuangan sebesar Rp15,1 triliun. Perseroan juga memperoleh skema two-step loan dari pemerintah dengan nilai Rp3,3 triliun dan 284 juta dolar AS. Adapun pembiayaan dari DFIs difokuskan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama melalui fasilitas pembiayaan hijau.
3. Dampak geopolitik terasa pada masa konstruksi

Kendati demikian, Reynaldi mengakui dampak geopolitik berpotensi dirasakan pada level pemilik proyek, terutama proyek yang masih dalam tahap konstruksi dan membutuhkan impor peralatan dari luar negeri. Menurut dia, pengadaan turbin, pipa, maupun peralatan lain dari luar negeri bisa terdampak gangguan distribusi global, termasuk di jalur penerbangan dan transportasi laut.
“Dari sisi kami sebagai pembiaya, belum terlihat dampak signifikan. Namun untuk proyek yang masih dalam proses pembangunan, potensi gangguan teknis tetap ada,” ucapnya.














.jpg)



