Menjalankan usaha tidak bisa hanya fokus pada menghasilkan produk. Sebagus apa pun produk yang dihasilkan, kalau tidak terserap pasar, akan sangat berbahaya. Barang menumpuk di gudang atau rusak. Uang habis untuk modal dan tak bisa berputar.
5 Target Konsumen yang Bisa Digarap dengan Serius

- Artikel menekankan pentingnya memahami tipe konsumen agar strategi usaha lebih tepat sasaran dan produk tidak menumpuk tanpa terserap pasar.
- Dijelaskan lima tipe konsumen potensial: mereka yang membeli karena kebutuhan, keinginan, rasa suka, rasa penasaran terhadap hal baru, serta yang belum menentukan pilihan.
- Setiap tipe konsumen memerlukan pendekatan berbeda, mulai dari inovasi produk hingga pendekatan emosional agar bisnis dapat menarik dan mempertahankan pelanggan.
Pendapatan dibandingkan dengan pengeluaran menjadi minus. Kamu bukan hanya tidak mampu membayar karyawan, melainkan gak dapat apa-apa selain rasa capek. Oleh sebab itu, mengenali tipe-tipe konsumen sangat penting.
Dari situ, dirimu dapat menentukan strategi usaha yang tepat. Utamanya terkait produk yang akan ditawarkan. Bila kamu gak jeli soal begini, usaha gagal berjalan. Terdapat lima target konsumen yang bisa digarap dengan serius asal dirimu tahu apa yang mereka mau.
1. Orang yang butuh

Memenuhi kebutuhan menjadi motivasi terbesar orang untuk berbelanja. Kebutuhan tidak bisa ditiadakan. Mau tak mau, harus dipenuhi meski kadang dilakukan penundaan. Intinya, orang akan tetap membeli jika mereka membutuhkan sesuatu.
Namun, barang yang dibutuhkan bisa bersifat rutin atau hanya sekali setiap beberapa tahun, bahkan seumur hidup. Kebutuhan yang rutin, misalnya segala barang kelontong. Orang dapat membelinya setiap hari, minggu, atau bulan.
Kebutuhan yang hanya sesekali, contohnya ganti aki kendaraan. Orang tetap mau tak mau menggantinya kalau ingin kendaraan tetap berfungsi. Sementara kebutuhan yang cenderung cuma dibeli satu kali sepanjang hidup ialah rumah sebagai tempat tinggal. Tentukan konsumen yang akan dibidik olehmu.
2. Orang yang ingin

Keinginan memang tidak semendesak kebutuhan untuk dipenuhi. Keinginan juga masih terbagi atas keinginan yang sangat kuat, sedang, atau lemah. Keinginan yang lemah akan sesuatu tidak bakal ditindaklanjuti dengan pembelian.
Pikiran masih lebih berkuasa dan dengan mudah seseorang membatalkan keinginan membeli sesuatu. Keinginan di tingkat sedang cukup membuat orang bimbang antara memenuhinya sekarang dan tidak usah. Sering kali orang akan menunggu sampai cukup lama untuk melihat beberapa hal.
Seperti ketersediaan dana, ada atau tidaknya promo menarik yang bikin dia lebih mantap membeli, serta perubahan keinginan itu sendiri. Kalau seiring waktu keinginan menguat, berarti perlu dipenuhi. Jika keinginan justru melemah, maknanya lupakan saja.
Sementara itu, keinginan yang besar dapat terasa tak ubahnya kebutuhan bagi seseorang. Bila dirimu ingin menggarap pasar ini, pastikan kamu tahu kapan, siapa yang menginginkan apa, dan seberapa banyak. Dirimu tidak bisa berharap pada pasar yang terlalu kecil. Contohnya, di akhir tahun umumnya orang sangat ingin berlibur bersama keluarga. Cocok sekali buatmu menawarkan paket liburan untuk rombongan.
3. Orang yang suka

Rasa suka mendorong orang untuk terus melakukan pembelian produk jasa atau barang walaupun sedang tidak membutuhkannya. Pun pembeliannya cenderung sering atau dalam jumlah besar. Contohnya, orang-orang yang menyukai tanaman hias.
Bagi mereka, tidak ada kata terlalu banyak tanaman hias di rumah. Rasanya, tanaman yang ada masih saja kurang. Mereka akan kembali membeli tanaman hias setiap melihat jenis tanaman yang menarik.
Pun sekali transaksi tidak hanya 1 atau 2 bibit, melainkan dapat langsung lebih dari 5 bibit. Berikut media tanam, pot, serta pupuk yang sesuai. Begitu pula orang yang suka mengoleksi benda tertentu bakal terus menambah koleksinya. Selama kamu dapat memenuhi kesukaan mereka, mereka akan menjadi pelangganmu.
4. Orang yang penasaran dengan hal-hal baru

Konsumen tipe ini berjiwa petualang. Baik petualangan rasa maupun pengalaman. Mereka gampang bosan dengan satu produk. Jika dirimu memilih mengelola pasar ini, kamu harus sangat cepat dalam berinovasi. Terlambat sedikit, produkmu akan ditinggalkan.
Keuntungannya, kreasi yang dibutuhkan konsumen ini sering kali gak harus sangat berbeda dari produk sebelumnya. Asal selalu ada sedikit variasi yang bisa dicoba, rasa penasaran mereka akan bertahan. Mereka terdorong untuk mencoba dan merekomendasikannya kepada teman yang sama-sama suka penasaran.
Strategi lain untuk mempertahankan mereka sebagai pelangganmu adalah sering-sering melakukan survei. Tanyakan kepada mereka tentang produk yang sedang diinginkan dan bikin penasaran. Misal, mereka bosan dengan minuman kekinian yang terlalu manis. Mereka membayangkan mungkin akan lebih enak kalau ada tambahan rasa yang menyegarkan. Segera lakukan inovasi berdasarkan hasil survei itu.
5. Orang yang belum menentukan pilihan

Orang yang belum menentukan pilihan dapat menjadi pasar yang luas untuk dieksplorasi oleh siapa pun. Konsumen tipe ini cukup banyak. Biasanya mereka ialah kelompok usia muda yang belum memiliki banyak pengalaman berbelanja.
Beda dengan konsumen dari usia di atasnya yang sudah punya kecenderungan terhadap produk-produk tertentu. Sehingga mereka sulit sekali diajak menjajal produk lain yang serupa. Seperti merek X untuk kosmetik, toko A saat ingin membeli sesuatu, dan sebagainya.
Bermain di pasar yang masih labil menuntutmu untuk dapat memikat perhatian calon konsumen. Lakukan pendekatan secara intensif. Kamu gak bisa cuma mengandalkan kualitas produk.
Tenaga pemasaran di lapangan juga harus memahami sisi psikologis konsumen yang belum menetapkan pilihan. Bersikap selayaknya teman yang mengerti masalah mereka serta memberikan rekomendasi terbaik dapat lebih diterima daripada sekadar menjadi sales yang harus mengejar target penjualan. Pendekatan emosional sangat penting.
Tidak ada produk yang benar-benar baru di dunia ini walaupun inovasi terus dilakukan. Maka imbangi kemampuanmu menghasilkan produk yang berguna dengan pemahaman akan tipe-tipe konsumen. Putuskan target konsumen yang bisa digarap dengan serius agar produk yang ditawarkan lebih tepat sasaran.

















