Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Modal Asing Rp820 Miliar Cabut usai Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI

Modal Asing Rp820 Miliar Cabut usai Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo usai menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, di Jakarta, Selasa (9/6/2026). (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
Gini Kak
  • IHSG melemah 0,17 persen ke 6.185,78 setelah Perry Warjiyo mundur dari Gubernur BI, sementara kapitalisasi pasar BEI turun menjadi Rp10.850 triliun.
  • Investor asing mencatat net sell Rp820,22 miliar, dengan penjualan Rp4,62 triliun melampaui pembelian Rp3,8 triliun pada transaksi saham senilai Rp12,1 triliun.
  • Pengamat menilai pergantian mendadak memicu ketidakpastian jangka pendek, di tengah tekanan global; koreksi harga minyak Brent berpotensi membatasi tekanan melalui dampak positif bagi inflasi dan rupiah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) mendapatkan respons negatif dari pasar modal Tanah Air.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada level 6.185,5 pada perdagangan kemarin, Senin (27/7/2026), dan melanjutkan pelemahan hingga sore hari, yakni 10,65 poin atau 0,17 persen ke level 6.185,78.

Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) turun menjadi Rp10.850 triliun hari ini.

1. Investor asing catatkan net sell Rp820,22 miliar

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

IHSG bergerak di kisaran 6.144-6.219 pada perdagangan kemarin, di mana investor membukukan transaksi Rp12,1 triliun, dengan volume saham yang ditransaksikan sebanyak 26,02 miliar lembar saham, dan frekuensi sebanyak 1,8 juta kali.

Pada perdagangan kemarin, komposisi investor di BEI didominasi oleh investor dalam negeri dengan persentase 65 persen, dan investor asing hanya 35 persen.

Investor dalam negeri mencatatkan aksi beli Rp8,36 triliun, dan aksi jual Rp7,53 triliun.

Sementara itu, aksi jual investor asing lebih dominan, yakni Rp4,62 triliun, dan aksi beli hanya Rp3,8 triliun. Dengan demikian, investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell Rp820,22 miliar.

2. Mundurnya Perry picu sentimen jangka pendek

Kantor pusat Bank Indonesia (BI). (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Kantor pusat Bank Indonesia (BI). (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai pelaku usaha dan investor pada awalnya akan mencermati arah kebijakan bank sentral setelah Destry Damayanti menjadi Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI menggantikan Perry.

Menurut Yusuf, pengunduran diri yang dilakukan secara mendadak memang berpotensi memunculkan sentimen dan pertanyaan dari pelaku pasar. Namun, dampaknya diperkirakan tidak akan berlangsung lama.

"Dalam jangka pendek, tentu akan muncul sentimen dan pertanyaan dari pelaku pasar terkait pengunduran diri yang dilakukan secara mendadak. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menilai dampaknya tidak akan terlalu besar," ujar Yusuf kepada IDN Times.

3. Pasar tak menyukai ketidakpastian

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan hal serupa. Dia mengatakan, pasar tak menyukai adanya ketidakpastian, terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan bank sentral.

“Bukan karena fundamental ekonomi Indonesia berubah secara tiba-tiba, melainkan karena pasar keuangan pada dasarnya tidak menyukai ketidakpastian, terutama ketika terjadi pergantian kepemimpinan di bank sentral yang memiliki peran strategis dalam menentukan arah suku bunga, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta memastikan stabilitas sistem keuangan,” kata Hendra dalam keterangannya.

Hendra mengatakan, sebelum ada pemberitaan itu, pasar modal dalam negeri masih menghadapi sentimen negatif dari eksternal.

“Sentimen tersebut muncul di tengah kondisi global yang juga masih penuh tantangan, mulai dari menjelang keputusan suku bunga The Fed (FOMC), tingginya volatilitas pasar global, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik yang membuat investor cenderung mengambil sikap wait and see,” ucap Hendra.

Meski begitu, menurutnya   terdapat sentimen positif yang berpotensi membatasi tekanan di pasar saham. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat mendekati level 100 dolar AS per barel kini terkoreksi sekitar 4,5 persen ke kisaran 87 dolar AS per barel.

Penurunan harga minyak ini dapat meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global, mengurangi tekanan terhadap kebijakan suku bunga bank sentral, serta menurunkan risiko kenaikan biaya energi bagi dunia usaha.

“Bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak, pelemahan harga minyak juga berpotensi memberikan sentimen positif terhadap inflasi domestik, neraca perdagangan, dan stabilitas nilai tukar rupiah,” tutur Hendra.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More