Telkom Perkuat Kedaulatan Digital Kampus lewat Kolaborasi Pentahelix

Telkom mendorong kolaborasi pemerintah, kampus, industri, komunitas, dan media melalui forum CIO untuk memperkuat tata kelola TI, konektivitas, ketahanan siber, serta pemanfaatan AI pendidikan tinggi.
Kesenjangan digital antarkampus ditangani lewat IDREN, model data nasional, SOC, dan CSIRT; kampus juga diminta menginventarisasi kriptografi serta menyiapkan migrasi Post-Quantum Cryptography sebelum 2030.
Telkom menyediakan infrastruktur fiber, data center, cloud, AI, dan SOC; juga menawarkan joint lab, komersialisasi riset, kemitraan global, serta program Digistar Class untuk talenta digital kampus.
Jakarta, IDN Times -PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) mendorong kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, dan media untuk memperkuat fondasi digital pendidikan tinggi di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Telkom dalam Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 bertajuk “Empowering PDDikti through IDREN Collaboration: Advancing IT Governance, Cyber Resilience, and Operational Excellence” yang berlangsung di Aula Barat, Institut Teknologi Bandung, pada 31 Agustus–1 September 2026.
Forum yang diselenggarakan Pusat Data dan Teknologi Informasi (PUSDATIN) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Indonesia Research and Education Network (IDREN) tersebut mempertemukan rektor, Chief Information Officer (CIO), Head of IT dari berbagai perguruan tinggi anggota IDREN, serta pimpinan universitas internasional.
Pembahasan forum mencakup tata kelola teknologi informasi, konektivitas jaringan riset dan pendidikan, ketahanan siber, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara aman dan bertanggung jawab.
1. Kolaborasi pentahelix jadi kunci transformasi digital

Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menyampaikan paparan dalam Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 di Institut Teknologi Bandung. (dok. Telkom) Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan transformasi digital pendidikan tinggi membutuhkan kolaborasi antarpemangku kepentingan. Menurutnya, kesenjangan digital dapat diatasi lebih efisien jika dilakukan secara bersama-sama.
“Teknologinya sudah tersedia. Kesenjangan digital dapat diatasi secara bersama-sama sehingga jauh lebih murah, lebih cepat, dan lebih aman dibandingkan dilakukan sendiri-sendiri. Tidak ada satu institusi pun yang mampu membangunnya sendirian. Di sinilah kolaborasi pentahelix menjadi kunci,” ujar Seno.
Ia menambahkan, kesiapan digital perguruan tinggi kini turut berpengaruh terhadap akreditasi, daya serap lulusan, dan reputasi riset. Namun, kondisi antarkampus masih menghadapi kesenjangan.
Sebagian perguruan tinggi telah memiliki konektivitas IDREN dan sistem terintegrasi. Di sisi lain, masih terdapat kampus yang rentan karena bergantung pada satu koneksi tanpa cadangan serta memiliki sistem pelaporan yang belum terstandardisasi.
Melalui IDREN sebagai landasan bersama, model data nasional, serta Security Operations Center (SOC) dan Computer Security Incident Response Team (CSIRT), kesenjangan tersebut dinilai dapat ditangani secara kolektif dengan biaya yang lebih efisien.
2. Kampus perlu bersiap hadapi ancaman era kuantum

Gedung Telkom. (Dok. Telkom) Forum tersebut juga membahas ancaman keamanan siber yang muncul seiring perkembangan komputasi kuantum. Salah satunya adalah harvest now, decrypt later, yakni praktik mengumpulkan data terenkripsi saat ini untuk kemudian dibongkar ketika teknologi komputer kuantum tersedia.
Ancaman tersebut dinilai dapat menyasar berbagai jenis data di lingkungan pendidikan, mulai dari identitas mahasiswa hingga kekayaan intelektual hasil riset.
Seno mengatakan perguruan tinggi tidak harus langsung membangun laboratorium kuantum. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menginventarisasi sistem kriptografi dan menyiapkan rencana migrasi menuju Post-Quantum Cryptography (PQC).
Menurutnya, proses migrasi tersebut perlu disiapkan secara menyeluruh sebelum 2030. Telkom sendiri menyiapkan arsitektur jaringan quantum-safe yang menggabungkan PQC, Quantum Key Distribution (QKD), dan Zero-Trust Architecture pada jaringan akses, jaringan inti, hingga pusat data.
Telkom juga telah terlibat dalam satuan tugas migrasi PQC yang dipimpin Badan Siber dan Sandi Negara.
3. Telkom siapkan infrastruktur dan talenta digital kampus

Gedung Telkom University(dok.purwokerto.telkomuniversity.ac.id) Sebagai bagian dari kolaborasi tersebut, Telkom memosisikan diri dalam tiga peran utama untuk mendukung transformasi digital perguruan tinggi.
Pertama, Telkom menjadi bagian dari penyediaan konektivitas dan infrastruktur digital nasional. Melalui InfraNexia, Telkom menyediakan 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik yang akan dikelola InfraNexia.
Infrastruktur tersebut juga diperkuat dengan AI-ready data center dan cloud NeutraDC, platform Large Language Model (LLM) dan AI nasional, serta SOC nasional.
Kedua, Telkom mengorkestrasi inovasi di lingkungan kampus melalui joint lab, testbed, hingga jalur komersialisasi hasil riset menuju pasar.
Ketiga, Telkom membuka akses terhadap teknologi mutakhir melalui kemitraan strategis global, skema investasi bersama berbasis konsumsi atau OPEX, serta penjajakan pendanaan riset.
Sejumlah implementasi juga telah dilakukan, termasuk penyediaan produk AI bagi sejumlah universitas, pra-peluncuran platform kedaulatan yang menggabungkan AI, komputasi awan, dan keamanan siber, serta program Digistar Class untuk menyiapkan talenta digital Indonesia.
Melalui Indonesia Higher Education CIO Forum 2026, Telkom mengajak perguruan tinggi melakukan tiga langkah bersama, yakni menyelaraskan tata kelola dengan menunjuk penanggung jawab di tingkat institusi, mendorong kolaborasi inovasi melalui joint lab bersama Telkom, serta memperkuat keamanan aset digital melalui inventarisasi kriptografi.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat fondasi digital pendidikan tinggi sekaligus mendukung agenda nasional Asta Cita dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 menuju Indonesia Emas 2045.





















