Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (commons.wikimedia.org/Republic of Korea)
Dilansir The Korea Herald, kehati-hatian Korsel terhadap proyek LNG Alaska terutama berkaitan dengan keekonomiannya. Pengembang utama proyek, Glenfarne Group, memperkirakan biaya pembangunan mencapai 44,5 miliar dolar AS (setara Rp796,04 triliun) hingga 54,5 miliar dolar AS (setara Rp974,92 triliun).
Bahkan, Reuters melaporkan bahwa biaya per unit kapasitas produksi tahunannya akan lebih dari dua kali lipat biaya banyak proyek LNG di Pantai Teluk AS baru-baru ini.
Proyek tersebut membutuhkan jalur pipa sepanjang 800 mil atau 1.287 kilometer dari North Slope di Alaska menuju Nikiski serta fasilitas pengolahan dan terminal pencairan gas.
Presiden Korsel Lee Jae Myung mengatakan pada September bahwa kelayakan komersial menjadi salah satu persoalan dalam negosiasi dengan Washington, termasuk mengenai pembagian keuntungan dan penanganan kerugian dari proyek yang tidak menguntungkan.
Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Korsel Kim Jung Kwan mengatakan, negaranya tidak seharusnya menanamkan modal pada proyek yang tidak memenuhi standar komersial. Namun, ia mengakui bahwa penarikan diri dari proyek yang tercakup dalam kesepakatan dapat memicu tekanan tarif baru dari AS.