ilustrasi tarif (pexels.com/Markus Winkler)
Di tingkat legislatif, terdapat suara bipartisan di DPR dan Senat yang menentang tarif Trump. Partai Demokrat juga berjanji akan memblokir perpanjangan tarif global 10 persen ketika kebijakan tersebut ditinjau Kongres dalam 150 hari ke depan.
Namun, kecil kemungkinan Kongres mampu sepenuhnya menghentikan kebijakan tarif baru. Di sisi lain, Gedung Putih juga dinilai sulit memperoleh dukungan luas dari anggota parlemen.
“Saya kira akan menjadi tantangan untuk menemukan konsensus mengenai langkah ke depan terkait tarif di sisi legislatif,” ujar Ketua DPR Mike Johnson kepada wartawan, dikutip Rabu (25/2/2026)
Sementara itu, anggota DPR dari Partai Republik asal New York, Mike Lawler, yang sebelumnya menolak resolusi untuk mengecam tarif Kanada, menyatakan, “Jadi pertanyaan ke depan adalah bagaimana bekerja sama dengan pemerintahan dari tingkat kongres untuk menyusun rencana yang tepat ke depan.”
Ia menambahkan, “Tarif adalah alat untuk memaksa renegosiasi perdagangan,” dan menegaskan, “Kita telah melihatnya.”
Pidato State of the Union kali ini memperlihatkan sikap tegas Trump dalam mempertahankan kebijakan tarif meski Mahkamah Agung telah membatalkan sebagian kebijakan sebelumnya. Di tengah pelemahan dukungan publik dan perdebatan di Kongres, arah kebijakan perdagangan AS tetap menjadi isu utama menjelang pemilu sela November.