Turunkan Jumlah Perokok, Pemerintah RI Perlu Belajar dari 3 Negara Ini

Jakarta, IDN Times - Produk tembakau alternatif seperti tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik atau vape, dan kantong nikotin terbukti mampu menurunkan angka perokok di sejumlah negara maju. Tercatat ada tiga negara yang sukses menurunkan angka perokok dengan memaksimalkan produk tembakau alternatif tersebut.
"Pemanfaatan produk tembakau alternatif sebagai alat bantu untuk mengatasi permasalahan rokok sudah diberdayagunakan oleh Inggris, Jepang, dan Swedia. Berkat ragam produk tersebut, angka perokok di ketiga negara tersebut mengalami penurunan," ucap Ketua Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (MASINDO), Dimas Syailendra R, dalam keterangannya kepada IDN Times, Selasa (24/1/2023).
Dimas berharap pemerintah Indonesia mampu memaksimalkan produk tembakau alternatif ini untuk menekan prevalensi merokok mengingat angka perokok di Indonesia saat ini sudah menembus lebih dari 65 juta orang.
1. Jumlah perokok menurun di Inggris, Jepang, dan Swedia

Berkat pemanfaatan produk tembakau alternatif, jumlah perokok di Inggris pada 2021 mencapai sebesar 13,3 persen atau setara 6,6 juta jiwa. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan dengan 2020 yang mencapai 14 persen.
Sementara di Jepang, prevalensi merokok pada 2020 mencapai sekitar 20,10 persen, mengalami penurunan 0,40 persen dari 2019.
Kemudian pada 2022, prevalensi merokok di Swedia menurun menjadi sekitar 5,6 persen dari total populasi. Hal tersebut membuat Swedia menjadi negara dengan tingkat prevalensi merokok paling rendah di Uni Eropa, bahkan salah satu yang terendah di dunia.
"Keberhasilan Inggris, Jepang, dan Swedia dalam mengurangi prevalensi merokok dapat menjadi acuan bagi Pemerintah Indonesia untuk menerapkan strategi serupa sebagai pelengkap dari berbagai program yang telah dijalankan selama ini. Kehadiran produk tembakau alternatif dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat," tutur Dimas.
2. Edukasi kepada masyarakat

Sebagai langkah awal dalam pemanfaatan produk tembakau alternatif, pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait seperti kementerian/lembaga, perguruan tinggi, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas perlu memberikan edukasi bagi masyarakat, khususnya perokok dewasa.
Edukasi yang diberikan berupa informasi akurat tentang produk tembakau alternatif tersebut.
"Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang perbedaan dan profil risiko produk tembakau alternatif dengan rokok," kata Dimas.
3. Produk tembakau alternatif punya risiko lebih rendah dibandingkan rokok

Berdasarkan hasil sejumlah kajian ilmiah di dalam dan luar negeri, produk tembakau alternatif diketahui memiliki risiko lebih rendah dibandingkan rokok karena tidak melalui proses pembakaran.
Lantaran tidak melalui proses pembakaran, produk tembakau alternatif tidak menghasilkan asap mengandung TAR yang dapat memicu berbagai penyakit berbahaya bagi penggunanya.
"Masih banyak misinformasi yang beredar di masyarakat yang menyebutkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko yang lebih tinggi daripada rokok. Hal ini salah. Faktanya, karena tidak melalui proses pembakaran, produk tembakau alternatif tidak menghasilkan asap dan memiliki risiko yang jauh lebih rendah daripada rokok," papar Dimas.
Keberhasilan Inggris, Jepang, dan Swedia menurunkan prevalensi perokok contoh konkret bahwa produk tembakau alternatif dapat menjadi pilihan bagi perokok dewasa untuk beralih dari rokok.
"Oleh karena itu, MASINDO optimistis Pemerintah Indonesia dapat mengadopsi kebijakan yang telah diterapkan oleh Inggris, Jepang, dan Swedia dalam menekan prevalensi merokok," ucap Dimas.


















