Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tumbuh 32 Persen, PT Vale Cetak Laba US$76,1 juta di Sepanjang 2025
Karyawan PT Vale di IGP Morowali (dok. PT Vale)
  • PT Vale Indonesia mencatat produksi nikel matte 72.027 ton pada 2025, naik tipis dari tahun sebelumnya, dengan pendapatan meningkat 4 persen menjadi AS$990,2 juta meski harga nikel melemah.
  • Laba bersih PT Vale tumbuh 32 persen menjadi AS$76,1 juta berkat efisiensi biaya dan peningkatan operasional, sementara belanja modal melonjak 46 persen untuk mendukung proyek pengembangan.
  • Sepanjang 2025, PT Vale menghadapi tantangan operasional namun tetap mencatat kemajuan ESG dan proyek hilirisasi; pembangunan Furnace 3 serta proyek HPAL ditargetkan selesai tahap mekanis pada kuartal III-2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    PT Vale Indonesia Tbk melaporkan hasil keuangan tahun 2025 dengan laba bersih sebesar AS$76,1 juta, meningkat 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya, disertai pertumbuhan produksi nikel matte dan penjualan bijih saprolit.
  • Who?
    PT Vale Indonesia Tbk sebagai perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Indonesia, bersama para pemegang saham dan mitra usaha dalam proyek pengembangan Pomalaa dan Bahodopi.
  • Where?
    Kegiatan operasional dan produksi berlangsung di lokasi tambang PT Vale di Sorowako, Bahodopi, serta Pomalaa; laporan keuangan diumumkan dari Jakarta.
  • When?
    Laporan keuangan diumumkan pada 16 Maret 2026 untuk periode tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.
  • Why?
    Peningkatan laba terjadi karena efisiensi biaya, kenaikan volume pengiriman nikel matte, serta kontribusi tambahan dari penjualan bijih saprolit sepanjang tahun 2025.
  • How?
    Kinerja positif dicapai melalui pengelolaan biaya yang disiplin, peningkatan payability nikel matte sejak Juli 2025, serta optimalisasi operasi meski ada pembangunan kembali Furnace 3.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, 16 Maret 2026 – PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) mengumumkan hasil-hasil keuangan yang telah diaudit untuk tahun yang berakhir pada 2025. PT Vale mencatat kinerja operasional yang solid pada tahun 2025, dengan produksi nikel dalam matte mencapai 72.027 metrik ton (t) sepanjang tahun. Hasil ini menunjukkan peningkatan yang positif dibandingkan 71.311 t yang dicapai pada 2024. Secara triwulanan, produksi Triwulan IV-2025 tercatat sebesar 17.052 t, atau sekitar 12 persen lebih rendah dibandingkan 19.391 t pada Triwulan III-2025, terutama disebabkan oleh kegiatan pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November dan ditargetkan selesai pada Mei 2026.

Dibandingkan dengan Triwulan IV-2024, ketika produksi mencapai 18.528 t, hasil produksi pada Triwulan IV-2025 tercatat sedikit lebih rendah, namun secara keseluruhan produksi sepanjang tahun tetap lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Hasil ini mencerminkan komitmen berkelanjutan Perseroan dalam menjaga keandalan operasional dan mengelola produksi secara efisien sepanjang tahun.

Selain produksi utama nikel matte, PT Vale juga terus mencatat kemajuan dalam memperluas portofolio komersialnya tahun ini, termasuk melalui penjualan bijih nikel saprolit dari blok Pomalaa dan Bahodopi. Pada 2025, penjualan bijih saprolit mencapai 2.316.023 wet metric tons (“wmt”), dengan volume bulanan tertinggi pada Oktober sebesar 516.167 wmt. Secara keseluruhan, Blok Bahodopi memberikan kontribusi terbesar terhadap penjualan bijih saprolit sepanjang tahun.

Volume Penjualan Bijih Nikel Saprolit PT Vale (dok. PT Vale)

1. Mempertahankan kinerja operasional yang stabil

Kegiatan operasional PT Vale di IGP Morowali (dok. PT Vale)

Mencerminkan kinerja operasional yang stabil serta peningkatan berkelanjutan dalam efisiensi produksi, pengiriman nikel matte PT Vale mencatat kenaikan yang moderat pada 2025, mencapai 73.093 t dibandingkan 72.625 t pada 2024. Hal ini mendukung Perseroan dalam mempertahankan EBITDA yang solid sebesar AS$228,2 juta sepanjang tahun, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Secara triwulanan, Perseroan membukukan EBITDA sebesar AS$61,9 juta, turun 17 persen dari triwulan sebelumnya, terutama disebabkan oleh lebih rendahnya volume produksi.

Harga realisasi rata-rata nikel matte pada tahun 2025 tercatat sebesar AS$12.157 per ton, turun 7 persen dibandingkan AS$13.086 per ton pada tahun sebelumnya. Meskipun berada dalam lingkungan harga yang lebih lemah, peningkatan tingkat payability nikel matte yang mulai berlaku pada Juli tahun lalu, serta volume pengiriman yang lebih tinggi, mendorong kenaikan total pendapatan Perseroan menjadi AS$990,2 juta—meningkat 4 persen dari AS$950,4 juta pada tahun 2024. Secara triwulanan, pendapatan mencapai AS$284,8 juta, naik 2 persen dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong oleh pemulihan harga nikel yang moderat. Hal ini menegaskan komitmen kuat Perseroan bersama para pemegang saham dalam menghadapi kondisi pasar yang menantang serta keyakinan terhadap prospek jangka panjang industri.

Dari sisi biaya, meskipun Perseroan melaksanakan pemeliharaan besar pada salah satu furnace, Perseroan berhasil mempertahankan unit biaya kas penjualan yang kompetitif sebesar AS$9.339 per ton pada tahun 2025, sedikit lebih rendah dibandingkan AS$9.374 per ton pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan disiplin biaya yang kuat serta menghasilkan tingkat biaya kas tahunan terendah dalam empat tahun terakhir, turun dari sekitar AS$11.201 per ton pada tahun 2022.

Sementara itu, unit biaya kas penjualan untuk bisnis bijih nikel Perseroan tetap stabil pada kisaran AS$17–AS$19 per ton, termasuk biaya royalti dan logistik untuk bijih saprolit campuran. Angka ini mencerminkan bijih yang sepenuhnya bersumber dari blok Bahodopi, mengingat penjualan dari blok Pomalaa masih terbatas pada kegiatan pengambilan bulk sampling test. Aktivitas penambangan penuh di Pomalaa diperkirakan akan dimulai pada tahun 2026.

2. Laba PT Vale di 2025 naik 32 persen

Kegiatan operasional PT Vale di IGP Pomalaa (dok. PT Vale)

Sepanjang tahun, PT Vale membukukan laba bersih sebesar AS$76,1 juta, meningkat 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini mencerminkan perbaikan operasional yang konsisten, level produksi yang lebih kuat, serta pendekatan yang disiplin dalam efisiensi biaya. Di bawah ini terdapat tabel yang merinci konsumsi dan harga rata-rata High Sulphur Fuel Oil (HSFO), diesel, dan batu bara PT Vale.

Tabel konsumsi dan harga rata-rata High Sulphur Fuel Oil (“HSFO”), diesel, dan batu bara PT Vale. (dok. PT Vale)

Pada Triwulan IV-2025, konsumsi HSFO, diesel, dan batu bara menurun sejalan dengan volume produksi yang lebih rendah, seiring dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 oleh Perseroan sebagai upaya untuk menjaga kapasitas produksi di masa depan dan memastikan keselamatan operasional. Selama triwulan tersebut, harga HSFO turun sebesar 4 persen, sementara harga diesel dan batu bara masing-masing mengalami kenaikan moderat sebesar 6 persen dan 1 persen.

Sepanjang tahun, Perseroan mengalokasikan sekitar AS$485,9 juta untuk belanja modal, meningkat 46 persen dibandingkan AS$332,1 juta pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama mencerminkan belanja untuk proyek-proyek pengembangan serta kebutuhan modal sustaining. Per 31 Desember 2025, saldo kas Perseroan tercatat sebesar AS$376,3 juta, menunjukkan posisi keuangan yang solid untuk mendukung pelaksanaan proyek-proyek pertumbuhan secara tepat waktu.

3. Evaluasi di 2025 dan optimisme di 2026

Karyawan PT Vale di IGP Morowali (dok. PT Vale)

Semester pertama tahun 2025 menghadirkan sejumlah tantangan operasional bagi PT Vale, seperti beberapa gangguan yang memengaruhi stabilitas produksi di lokasi operasi. Meskipun demikian, tahun tersebut juga menandai berbagai pencapaian penting. Pada bulan Juli, Perseroan mulai melakukan penjualan bijih nikel dari Bahodopi, memperkenalkan sumber pendapatan baru di samping produksi nikel matte. Pada saat yang sama, Perseroan mencatatkan kemajuan yang signifikan dalam negosiasi untuk meningkatkan tingkat payability nikel matte serta berhasil mengamankan premi penjualan bijih.

Inisiatif-inisiatif ini, yang didorong oleh kolaborasi erat di seluruh organisasi, mulai menunjukkan hasil yang positif, mencerminkan ketangguhan Perseroan serta komitmennya dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Tahun ini juga menghadirkan salah satu ujian terberat bagi Perseroan, yaitu insiden kebocoran pipa minyak pada Agustus 2025. Lebih dari sekadar tantangan teknis atau operasional, peristiwa ini menjadi momen yang menguji integritas, kredibilitas, serta tanggung jawab kami terhadap alam dan masyarakat. Di sinilah prinsip keunggulan dan ketangguhan Perseroan benar-benar diterapkan dalam praktik.

Terlepas dari hal tersebut, komitmen Perseroan terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab semakin diperkuat melalui pelaksanaan site audit IRMA pada triwulan keempat, yang menegaskan kesiapan kami untuk menerima evaluasi independen serta terus mendorong perbaikan berkelanjutan. PT Vale juga mencatatkan kemajuan ESG yang solid, tercermin dari pembaruan peringkat risiko Sustainalytics sebesar 23,7 per November 2025—menempatkan PT Vale sebagai perusahaan pertambangan dengan peringkat terbaik di Indonesia dan di antara para pelaku terdepan secara global.

Pada November, Perseroan memulai pembangunan kembali Furnace 3—sebuah pekerjaan kompleks yang memerlukan koordinasi teknis yang erat serta komitmen kuat terhadap keselamatan. Sepanjang tahun, berbagai tantangan eksternal, termasuk tekanan berkelanjutan akibat melemahnya harga nikel, turut memengaruhi kinerja keuangan. Dalam menghadapi kondisi tersebut, PT Vale tetap menjaga disiplin, mengelola biaya secara pruden, sambil memprioritaskan keselamatan dan mempertahankan keunggulan operasional.

Ke depan, Perseroan semakin mempertajam fokus strategis melalui pengembangan proyek pertambangan dan fasilitas pengolahan hilir bersama mitra usaha patungan. Khusus di Pomalaa, proyek pertambangan kami telah mencapai kemajuan sekitar 60 persen, dengan sejumlah fasilitas pendukung untuk tahap awal operasi berhasil diselesaikan. Perkembangan ini sejalan dengan kemajuan proyek HPAL yang telah mencapai sekitar 50 persen tahap konstruksi serta mencatatkan tonggak penting dengan kedatangan empat unit autoclave dan pemasangan unit pertama. Proyek ini tetap berada pada jalurnya untuk mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan ketiga tahun 2026. Seluruh inisiatif strategis tersebut terus dijalankan dengan disiplin keuangan yang pruden, tata kelola yang kuat, serta komitmen yang teguh terhadap keberlanjutan jangka panjang. (WEB)

Editorial Team