Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Ditutup Loyo di Rp17.843, Pasar Cermati AS-Iran

Rupiah Ditutup Loyo di Rp17.843, Pasar Cermati AS-Iran
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Rupiah ditutup melemah di Rp17.843 per dolar AS, turun 39 poin atau 0,22 persen dibanding penutupan sebelumnya.
  • Hubungan geopolitik AS-Iran memengaruhi pasar, dengan pembicaraan diplomatik di Swiss yang menghasilkan kemajuan dan meredakan kekhawatiran pasokan minyak global.
  • Investor menanti rilis data ekonomi penting AS seperti PDB kuartal I-2026 dan Core PCE, sementara rupiah diperkirakan masih fluktuatif pada perdagangan berikutnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (22/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.843 per dolar AS.

Pada perdagangan sore ini, rupiah tercatat melemah 39 poin atau 0,22 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.801 per dolar AS. Sepanjang perdagangan rupiah sempat menguat hingga 15 poin sebelum akhirnya berbalik melemah.

1. Sentimen AS-Iran masih jadi sorotan pasar

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan pasar keuangan masih dipengaruhi perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Menurut dia, sentimen pasar sempat terguncang setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran mengenai kemungkinan adanya aksi militer tambahan apabila Teheran tidak mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok Hizbullah yang beroperasi di Lebanon.

Pernyataan tersebut muncul di tengah dimulainya babak baru pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran di Swiss yang dibuka oleh Wakil Presiden AS JD Vance. Namun, dia menyampaikan pembicaraan kedua negara di Swiss berakhir dengan sejumlah perkembangan yang dinilai meredakan kekhawatiran.

"Pembicaraan AS-Iran berakhir di Swiss, dengan Teheran mengatakan telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, meredakan kekhawatiran tentang kekurangan pasokan di pasar global dan menekan harga minyak mentah," ujar Ibrahim.

Dia juga menyampaikan para pejabat tinggi AS dan Iran telah menyelesaikan putaran pertama pembicaraan mereka di Swiss pada Senin. Proses negosiasi itu dimulai sejak Minggu berdasarkan nota kesepahaman yang disepakati pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh sejak April selama setidaknya 60 hari lagi.

Menurut Ibrahim, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan telah tercapai kemajuan yang baik dalam pembicaraan tersebut. Sementara itu, mediator dari Qatar dan Pakistan disebut menyampaikan para negosiator telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan yang lebih luas. Diskusi teknis dijadwalkan berlanjut sepanjang pekan ini.

2. Investor menunggu data penting dari AS

Selain perkembangan geopolitik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada sejumlah data ekonomi penting dari AS yang akan dirilis dalam pekan ini. Ibrahim mengatakan investor menantikan perkiraan final angka Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal I-2026.

PDB merupakan indikator yang menggambarkan nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam periode tertentu dan sering digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, pasar juga menunggu data Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE) atau Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti. Indikator tersebut merupakan ukuran inflasi yang menjadi acuan utama bank sentral AS (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

"Perhatian pasar pada data ekonomi AS minggu ini, terutama pada perkiraan terakhir angka Produk Domestik Bruto untuk kuartal pertama tahun 2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti," ujar Ibrahim.

3. Rupiah diperkirakan masih akan melemah besok

Untuk perdagangan Selasa (23/6/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif atau bergerak naik-turun mengikuti sentimen pasar.

Meski demikian, dia memperkirakan mata uang Garuda berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp17.840 hingga Rp17.890 per dolar AS.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dheri Agriesta
EditorDheri Agriesta

Related Articles

See More