Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[WANSUS] Buka Wisata di Hutan, Bukan cuma Soal Cuan!
Direktur Utama PT Perhutani Alam Wisata Risorsis (Palawi), Tedy Sumarto. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Palawi menerima alih kelola wisata Perhutani sejak 2022 dan kini mengelola 110 destinasi, enam rest area, serta Pusat Perlebahan Nasional di Parung Panjang.
  • Semester I-2026, pendapatan Palawi mencapai 105 persen target RKAP dan tumbuh 4 persen secara tahunan; laba tercatat Rp16,4 miliar, setelah laba 2025 mencapai Rp37 miliar.
  • Palawi menyeimbangkan profit, kelestarian hutan, dan pemberdayaan warga melalui batas pembangunan 3,7 persen kawasan serta kerja sama dengan masyarakat di 44 lokasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bogor, IDN Times - Perum Perhutani telah melepaskan unit usaha pengelolaan destinasi wisata di kawasan hutan secara keseluruhan kepada anak usahanya, PT Perhutani Alam Wisata Risorsis atau Palawi.

Melalui program spin-off destinasi wisata dari Perhutani sejak 2022, Palawi kini mengelola 110 kawasan wisata. Perusahaan juga mengelola enam rest area, dan Pusat Perlebahan Nasional (Pusbahnas) di Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sebagai pengelola kawasan wisata alam, Direktur Utama Palawi, Tedy Sumarto mengatakan pihaknya berupaya menjaga kelestarian alam dan minat pengunjung untuk datang ke destinasi yang dikelolanya.

“Karena kita di bawah induknya yang bentuknya Perum, tetap profit itu kita kejar, tetapi tetap intinya ada keseimbangan dari sisi nilai atau kelestarian SDH yang kita jaga. Artinya tidak whole profit oriented. Kenapa? Karena, satu tadi basic bisnis kita ini alam,” kata Tedy saat ditemui IDN Times di Sentul Eco Edu Tourism Forest, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (30/9/2026).

Tedy mengatakan, Palawi mengelola kawasan ekowisata dengan mempertahankan keasrian alam di lokasi tersebut. Pihaknya bahkan berupaya membuat sarana dan prasarana penunjang wisata sesuai regulasi, agar tidak mengubah keasrian alam tersebut.

“Nah jadi kita itu kalau di kawasan hutan gitu, tidak bisa sembarangan membangun entah itu wahana, entah itu fasilitas yang sifatnya permanen. Itu maksimal hanya 10 persen yang dibolehkan. Nah saat ini Palawi itu baru kurang lebih 3,7 persen sarpras-sarpras yang terbangunnya,” ucap Tedy.

Tak hanya itu, pihaknya juga melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan wisata. Hal itu diterapkan agar masyarakat sekitar juga mendapatkan nilai ekonomi dari unit bisnis Perum Perhutani, termasuk Palawi.

“Namanya ekowisata itu kan tetap di dalamnya harus melibatkan masyarakat, artinya kita kalau bisnis melibatkan masyarakat, pasti yang kita kejar bukan hanya nilai ekonomi untuk perusahaan, tetapi juga nilai ekonomi untuk masyarakat itu sendiri,” tutur Tedy.

Dalam wawancara khusus dengan IDN Times, Tedy juga membeberkan kinerja keuangan Palawi hingga semester I-2026, inovasi bisnis yang dilakukan, sampai potensi pengembangan bisnis. Simak wawancara lengkapnya berikut ini.

Bagaimana awal mula berdirinya Palawi? Apa saja cakupan unit bisnis yang dikelola saat ini dalam ekosistem Perhutani?

Sentul Eco Edutourism Forest (SEETF), Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Dok. Palawi)

PT Palawi Risorsis itu didirikan di tahun 2002 ya. Memang awalnya perhutani mendirikan PT Palawi ini sebagai anak usaha yang fokus di bidang wisata. Nah ini tuh murni memang anak perusahaan Perhutani, di mana sahamnya itu 99,6 persen itu Perhutani, sisanya 0,4 persen itu ada Yayasan Karyawan Perhutani Jati Sejahtera (YKP3JS).

Nah awal mula sejak didirikan tahun 2002 itu Palawi hanya mengelola tiga lokasi wisata. Yang pertama itu Tangkuban Perahu yang di Bandung, kemudian Baturraden yang di Purwokerto, sama satu lagi itu Coban Rondo di Malang. Nah, cuma memang tahun 2006, si Tangkuban Perahu ini dikembalikan ke Kementerian Kehutanan karena memang kan di kita ada istilahnya perjanjian kerja sama, dan lahannya memang milik Kementerian Kehutanan, ketika pemilik lahan ini pengen itu dikembalikan ya, mau enggak mau kita kasihkan.

Nah, ini kita berfokus dari tahun 2002 sampai 2022 itu hanya dua lokasi wisata, ditambah kita punya unit bisnis retail product, madu, sama travel agent, OTA (Online Travel Agent), dan lain-lain lah. Kita paketan wisata dan lain-lain.

Pada tahun 2022, kebetulan memang ada program strategis dari Kementerian BUMN waktu itu dan Perhutani, nah kita diberikan kepercayaan alih kelola bisnis wisata. Yang sebelumnya memang sudah dikelola induk, diserahkan ke kita. Nah, itu bertahap tahun 2022, 2023 sampai terakhir 2024. Dan 2025 kemarin, kita diberi alih kelola (spin off) itu 110 lokasi wisata. Kemudian ada enam rest area, yang sudah operasional ada dua, rest area 626A sama 626B.

Sama satu namanya itu Pusat Pelebahan Nasional. Jadi, kita punya lokasi di Parung Bogor itu pusatnya pelebahan nasional. Nah, di situlah produksi madu, kemudian juga kita lagi mengembangkan agroforestry, dan memang lebih kepada multiusaha kehutanan-lah di sana. Itu yang saat ini kita kelola.

Nah, selain itu memang lini bisnis kita ya, yang utama adalah wisata, yang kedua adalah produk ritel madu kayu putih, kemudian bisnis MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition). Nah, kita juga mengelola ada yang namanya green space di Setiabudi, di kantor kita itu ada homestay sama ballroom dan lain-lain lah untuk kegiatan MICE.

Itu mungkin kaitan dengan bisnisnya Palawi. Kita memang terbagi dua wilayah, jadi area bisnis wisata wilayah barat, itu di Jawa Barat sampai Jawa Tengah sebagian. Kemudian area bisnis wisata wilayah timur, itu Jawa Tengah sebagian, dari Semarang sampai ke Banyuwangi. Jadi dua lokasi unit kelola bisnis di bawah general manager.

Bagaimana perkembangan bisnis agen travel Palawi? Apakah masih terus berjalan?

Masih, jadi kita menangani, ini kan memang banyak kerja sama dengan baik itu kementerian, Kementerian Kehutanan, BUMN, berkaitan dengan penyediaan tiket gitu ya. Kemudian kalau ada meeting dan lain-lain, kita jadi EO (Event Organizer).

Dan memang lebih banyak sih ini ke teman-teman swasta. Jadi, kita handle kalau misalnya ada gathering-gathering perusahaan. Kita ada kerja sama dengan teman-teman swasta untuk penyediaan paket perjalanan dinas, tiket dan lain-lain.

Dari profil pengunjung, sejauh ini lebih banyak korporasi atau individu yang berlibur di destinasi wisata Palawi?

Orchid Forest Cikole, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. (Dok. Palawi)

Kalau untuk wisata untuk saat ini memang masih banyak itu pengunjung individu. Karena memang kan 110 lokasi wisata ini dengan berbagai potensinya yang kita kelola, yang sekarang lagi trend itu kan orang main ke hutan, view-nya, kemudian suasana, dan lain-lainnya, dan itu yang jadi tujuan utama wisatawan.

Karena kita kan memang bisnisnya ekowisata gitu ya, wisata yang memang berbasis alam gitu. Nah inilah yang jadi kekuatan sebetulnya bisnisnya Palawi. Jadi orang lebih banyak yang berkunjung ke wisata kita.

Bagaimana gambaran realisasi kinerja keuangan dan operasional Palawi hingga Semester I-2026 jika dibandingkan dengan RKAP maupun capaian pada periode

Sunan Ibu - Kawah Putih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Dok. Palawi)

Kalau untuk 2025, kita alhamdulillah kalau dari sisi target yang diberikan ya di RKAP, di kita, ini tercapai. Dan laba kita juga untuk audited 2025 itu di angka Rp37 miliar. Nah, kemudian ini terus tumbuh sejak diberi kepercayaan alih kelola, dari mulai 2022, 2023, 2024, sampai yang kemarin terakhir di 2025, bisnis kita ini alhamdulillah terus tumbuh.

Termasuk sampai dengan semester I tahun 2026 ini. Nah kita mencatat untuk angka gitu ya pencapaian di semester I-2026 ini, dari sisi pendapatan, kita 105 persen terhadap target RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan). Dalam RKAP 1 tahun kita sudah tercapai 105 persen. Kemudian kalau kita bandingkan dengan tahun lalu, kita tumbuh 4 persen untuk kinerja year on year.

Nah, untuk laba pun kita alhamdulillah sampai dengan semester I (2026) ini, kita sudah tercatat laba kita itu di angka Rp16,4 miliar dari target Rp38 miliar di tahun 2026.

Nah, ini kan memang kalau wisata itu ada musimannya ya, ada peak season, kemudian ada low season gitu. Alhamdulillah kalau kita lihat trend terutama ya 3 bulan terakhir ya di semester I ini, lumayan pengunjung ini peningkatannya luar biasa. Jadi, ya kita optimis kalau sampai dengan akhir tahun ya, dengan kinerja keuangan kita semester I ini, untuk target RKAP 1 tahun bisa tercapai.

Faktornya pendorongnya apa saja?

De Djawatan, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Dok. Palawi)

Yang utama karena memang yang sangat berpengaruh signifikan begitu ya, itu kunjungan wisatawan ke lokasi wisata kita yang kita punya 15 lokasi wisata pareto. Nah yang pertama ini lokasi yang unit bisnis share-nya paling besar itu Kawah Putih, dia share-nya itu 27 persen terhadap total pendapatan kita satu korporasi.

Di tahun ini, kita banyak melakukan pengembangan dari sisi bisnis. Kemudian juga perbaikan tata kelola bisnis, dan ada inovasi-inovasi yang kita lakukan untuk mendukung kaitan dengan pendukung untuk wisatawan.

Nah, kita juga memang concern-nya, kalau wisatawan itu kan sebetulnya satu yang jadi faktor utama pertimbangan orang berkunjung itu pasti aksesibilitas gitu ya. Ini hal yang penting, kita perbaiki kayak untuk jalan. Kemudian fasilitas umum toilet dan lain-lain, artinya standar pelayanan minimum lah, ini kita penuhi juga.

Kemudian tentunya dari SDM kan pasti pengunjung itu pengin ada pelayanan prima, artinya hospitality dari SDM kita juga kita tingkatkan. Dan yang terakhir memang kita banyak di tahun ini melakukan program-program yang mengikuti tren wisatawan saat ini. Kayak misalkan untuk awal tahun, kita ada program yang namanya, ini lebih ke experience ya, Healing Forest. Kemudian ada program Eco Trip. Jadi orang kita ajak selain berwisata, ada edukasinya juga, nanam pohon dan lain-lain.

Dan yang terakhir nih yang lagi kita kembangkan, wisata minat khusus. Jadi beberapa waktu lalu di bulan Agustus, kita ada yang namanya Astro Tourism. Jadi itu mengamati astronomi di malam hari, ternyata itu ada pasarnya juga. Ini menarik, itu (ada) di Kawah Putih, sama di Ranca Upas.

Dan yang sedang kita coba jajaki juga ada wisata minat khusus untuk mengamati keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan. Nah, ini yang coba kita kolaborasi dengan teman-teman NGO (Non Governmental Organization), ini ada teman-teman dari Yayasan Owa Jawa, yayasan burung gitu ya. Ada pengamatan satwa, atau kalau yang lagi kita coba ini namanya bird watching.

Jadi, orang kita ajak ke satu lokasi, kebetulan kita punya satu lokasi di Ciwidey, itu hamparan Gunung Patuha, itu spesies burungnya masih banyak yang endemik, dan tidak ditemukan di tempat lain. Tapi karena ini untuk kerahasiaan, jadi orang kita ajak tanpa tahu koordinat lainnya itu di mana. Jadi lebih khusus untuk mereka mengamati satwa-satwa yang ada di situ.

Selain itu, juga kita ada inovasi yang kita baru launching di awal tahun 2026 ini, namanya aplikasi Econique Trip. Econique Trip ini sebetulnya platform digital yang kita buat untuk memudahkan si pengunjung itu mencari informasi kita, kemudian melakukan pemesanan tiket dan lain-lain hanya melalui mobile apps atau web apps.

Kita memang di era digitalisasi sekarang mau tidak mau ngikuti itu. Nah, ini alhamdulillah dari mulai semenjak kita launching saat ini memang sudah terdata yang download itu 12.600 orang. Nah, ini juga kami lihat ada potensi, ketika ini kita betul-betul fokus, pembenahan sistem dengan penyediaan aplikasi dan lain-lain menjadi kekuatan untuk bisnis kita.

Dan yang lain memang ada beberapa pengembangan yang kita lakukan dari mulai kita bikin area camper van baru di Ranca Upas, nah ini juga untuk menangkap peluang orang-orang yang seneng camping tapi pengeinnya praktis.

Kemudian kita juga masuk ke bisnis F&B (Food and Beverage), tapi bisnis F&B yang memang sebagai pendukung lah untuk kegiatan orang berwisata alam ke lokasi Palawi. Nah, ini kita ada tujuh lokasi F&B yang baru dibangun 2026 itu ada dua lokasi di Kawah Putih sama di Ranca Upas.

Kemudian juga kita benahi wahana-wahana yang memang selama ini menjadi favorit pengunjung. Kayak di Baturraden itu kita bikin yang namanya Onsen gitu ya untuk orang berendam air panas. Kemudian di Padusan, di Mojokerto juga sama. Ada namanya kita bikin wahana pemandian air panas, tapi lebih kepada temanya itu tradisional Majapahit. Nah, itu ternyata menarik, banyak pengunjung, terutama sore sampai malam hari. Itu mungkin karena orang kan pengin relax, dan lain-lain, datangnya itu biasanya selepas magrib. Dan yang terakhir itu, yang kita buat juga kaitan dengan air panas ini di Galunggung, ada namanya Tirta Harmoni, itu juga sama kolam pemandian air panas.

Dan memang concern kita selain tentunya pengembangan wahana baru karena wisata alam ini kan sebetulnya sudah punya keunikan tersendiri, nah ini yang kita jaga originalitas dari si potensi SDA-nya sendiri. Jadi tidak banyak mengubah menjadi banyak bentuk maupun wahana, dibiarkan begitu saja. Ternyata yang sekarang dikejar orang itu itu, jadi pengin back to nature benar lah, gitu.

Capaian laba Palawi pada 2025 sebesar Rp37 miliar, itu sekitar 40 persen ke laba induk, Perhutani, itu apa saja pendorongnya?

Coban Rondo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. (Dok. Palawi)

Memang karena ya sebetulnya kita itu ada istilahnya menjadi dasar acuan pengelolaan bisnis kita ya, itu triple bottom line. Ada 3P sebetulnya, Planet, People sama Profit. Tapi karena tadi kita basic-nya ini kan adalah pengelolaan alam, SDH (sumber daya hutan), ketiga faktor ini pasti saling keterkaitan, dan memang yang kita tuju karena perusahaan perseroan terbatas, PT gitu ya, pasti kan yang dikejar profit.

Selain tentunya untuk menghidupi sisi operasional bisnis kita sendiri, tapi juga kita bisa share dividen ke induk. Tapi tentunya karena kita di bawah induknya yang bentuknya perum, tetap profit itu kita kejar, tetapi tetap intinya ada keseimbangan dari sisi nilai atau kelestarian SDH yang kita jaga. Artinya, tidak whole profit oriented. Kenapa? Karena, satu tadi basic bisnis kita ini alam. Kedua namanya ekowisata itu kan tetap di dalamnya harus melibatkan masyarakat, artinya kita kalau bisnis melibatkan masyarakat, pasti yang kita kejar bukan hanya nilai ekonomi untuk perusahaan, tetapi juga nilai ekonomi untuk masyarakat itu sendiri.

Nah, ini terlihat dari bisnis kita total itu ada 44 lokasi yang kita kerjasamakan dengan masyarakat. Artinya, kita tetap mengakomodir kepentingan masyarakat yang ada di sekitar kawasan hutan karena memang dengan Perhutani kan sudah lama ya, ada namanya lembaga masyarakat desa hutan (LMDH), nah ini kita kerja sama dengan mereka. Itu kita libatkan bukan hanya sebagai tenaga kerja, kita juga kasih porsi dia untuk ikut barengan dengan kita mengelola bisnis wisata.

Nah selain itu juga kayak, misalkan pemberdayaan masyarakat itu kan macam-macam, untuk keamanannya, kemudian kebersihannya, kita tetap melibatkan mereka. Dan terutama sekarang memang ada pergeseran yang kami lihat, masyarakat ketika kita kasih kepercayaan dan kita rangkul, dan kita bina, ternyata ini jadi kekuatan tersendiri untuk kita.

Karena misalkan kami contohkan di Jawa Barat, itu kan terkenal kalau kita lihat di media sosial pungli (pungutan liar), dan sebagainya. Nah, ternyata ketika kita libatkan, dan dia kita arahkan, mereka justru menjadi kekuatan tersendiri buat kita. Kayak contohnya di sini, kalau lihat tadi pas masuk, itu kan banyak tenda dan lain-lain, tenda itu kan masyarakat yang menyediakan, kita hanya tempat saja.

Kemudian kayak misalkan untuk tenaga kerja, yang kita kan memang ada tenaga kebersihan, kemudian yang bantu operasional kita sehari-hari di wisata. Kalau kita sebutnya, tenaga casual lah atau lepas harian, itu semuanya dari masyarakat sekitar hutan.

Bagaimana skema bagi hasil yang diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal?

Nah mekanismenya itu kita memang ada aturan ya, dari perusahaannya itu diatur di peraturan direksi, kaitan dengan skema kerja sama. Jadi kerja sama bisa dengan masyarakat itu B2C (Business to Consumer) begitu, ada kerja sama dengan swasta atau B2B, ada juga memang kita yang tripartit, ada B2B nya tapi tetap kami wajibkan si mitra ini melibatkan masyarakat sekitar.

Kalau kaitan dengan swasta tentunya orientasi utama yang kita kedepankan di skema itu kan, pasti dari sisi bisnis begitu ya, aspek finansial dan biasanya kita bikin feasibility study terhadap lokasi yang mau kita kerjasamakan dengan swasta.

Tentunya di situ sudah kita atur kaitan dengan sharing profit. Rata-rata lebih banyak kerjasama usaha. Nah, kita libatkan ya investasi itu dari mitra tempatnya dari kita, kalau B2B murni gitu, nah itulah kita pakai skema kerja sama kemitraan dengan swasta.

Kemudian kalau dengan masyarakat, nah biasanya kita itu libatkan mereka lebih kepada sisi operasionalnya. Kalaupun memang dia katakanlah mau ada investasi, ya kita hitung. Sebenarnya kalau masyarakat kan tidak seberapa modal dan lain-lainnya, nah biasanya dia call LMDH karena memang sudah lama bekerja sama dengan kita, dia bilang sudah punya modal sendiri. Tapi kan namanya modal masyarakat kan kecil, nah kita kasih porsi apa yang misalkan bisa dilakukan oleh masyarakat kaitan dengan kerja sama di lokasi itu, kita akomodir. Dan investasi dan lain-lainnya yang besar gitu tentunya dari kami.

Biasanya proporsinya sharing-nya pasti lebih banyak ke Palawi. Nah masyarakat itu sesuai dengan perannya kita tetap bagi sharing, tentunya sesuai dengan apa yang mereka lakukan untuk kerja sama di lokasi.

Apa tantangan utama dalam menggaet masyarakat untuk mengelola destinasi wisata Palawi?

Coban Rondo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. (Dok. Palawi)

Pertama memang yang paling utama perlu kita lakukan edukasi, pembinaan, atau kita mengajarkan ke mereka bagaimana sih mengelola wisata yang baik begitu. Nah, pastinya kita bantu dari sisi pelatihan, kita juga ada beberapa kegiatan kerjasama dengan teman-teman dari akademisi lah, itu dari IPB untuk bantu kaitan dengan pemberdayaan masyarakatnya, kemudian juga dari Poltekpar NHI dan lain-lain gitu ya, untuk membantu mendidik atau meningkatkan keterampilan dari sisi hospitality-nya.

Kemudian juga memang, nah ini yang sering rutin kita lakukan, kita juga memang mengajarkan ke mereka, kaitan dengan proses bisnis yang dilakukan di lokasi wisata. Dan, ini kita rutin dan ada juga yang namanya ya monev (monitoring dan evaluasi) gitu, sejauh mana sih masyarakat yang kerja sama dengan kita itu sudah mengikuti atau berubah, sesuai dengan harapan kita untuk mengelola wisata ini jadi lebih baik.

Terkait Econique Trip, bagaimana awal mulanya membuat inovasi itu?

Aplikasi Econique Trip milik PT Perhutani Alam Wisata Risorsis (Palawi). (Dok. Palawi)

Jadi pertama, orang ini kan sekarang pengin segalanya itu serba praktis gitu ya. Kalau kami riset, orang itu sebelum berkunjung ke lokasi wisata itu pasti nyari informasi gitu. Salah satu upaya untuk menyediakan informasi itu kan pasti pakai aplikasi gitu.

Nah sebetulnya sebelumnya kami itu punya web, cuma kami lihat pengunjung webnya itu kok menurun, artinya orang yang berkunjung ke web itu tiap tahun itu kecenderungannya menurun. Kami lihat mungkin orang itu sekarang sudah malas kunjungi web yang dia katakanlah harus mengetik alamat URL dan lain-lainnya. Kalau dengan aplikasi kan tinggal download di HP-nya atau di gadget-nya, itu orang sudah bisa banyak lihat informasi yang ada di situ.

Kemudian juga kita mempermudah transaksi pembayaran karena orang sekarang kan penginnya ke lokasi wisata pokoknya tinggal datang, beli tiketnya udah jauh-jauh hari atau bahkan sebelum ke lokasi wisata tinggal tunjukkan barcode, scan barcode di lokasi wisata sudah tinggal masuk.

Kemudian juga dari sisi keamanan, karena ya mohon maaf, kita semua tahu, kadang kalau ada uang tunai, orang itu kan kecenderungan untuk, ya mohon maaf moral hazard-nya itu tinggi gitu, dibanding kalau misalkan kita transaksinya sudah digital. Artinya, itu juga untuk security atau keamanan di internal kami, dari sisi bisnis atau mencegah hal-hal, yang mohon maaf tidak diinginkan lah, yang dilakukan oleh petugas-petugas kami. Dan yang lainnya tentunya apa ya, namanya ini bagian dari proses transformasi, bahwa ke depan sudah jadi hal yang wajib terkait dengan digitalisasi.

Setelah Econique Trip diunduh 12.600 pengguna, ke depannya target pengguna bisa mencapai berapa orang?

Kita sih inginnya gitu, ambisi kita itu mengalahkan Traveloka, kemudian tiket.com, kan gitu ya, artinya menurut saya, ini tantangan buat kita. Apalagi kita punya kekuatan lokasi wisata yang hampir tersebar di seluruh Indonesia atau di Pulau Jawa lah, yang kita tahu penduduk Pulau Jawa ini kan luar biasa besar.

Nah memang tantangannya sekali lagi bedanya kita dengan swasta kadang kala, kaitan dengan promosi si aplikasi ini. Tapi kita sudah berjalan nih dalam tahun 2026 ini, kami juga memang lagi banyak coba merekrut pro hire gitu ya, dari sisi marketing yang dia akan lebih aktif memasarkan atau mempromosikan aplikasi ini.

Dan ini juga kita banyak kerja sama sebetulnya dengan teman-teman Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), kayak dengan teman-teman BSI (Bank Syariah Indonesia) gitu ya, kemudian ini kalau ibu dia lihat beberapa bulan lalu dengan teman-teman BRI, itu sempat kita integrasikan di BRI Mobile gitu ya, di BRImo.

Kemudian ini juga memang ada kerja sama dengan teman-teman KAI gitu. Nah memang target kita untuk ya, supaya si aplikasi Econique Trip ini lebih tersebar luas gitu ya, lebih banyak orang men-download, PR-nya adalah di promosi yang memang harus masif gitu.

InJourney punya unit bisnis hospitality dan juga akomodasi seperti hotel. Adakah peluang kolaborasi?

Direktur Utama PT Perhutani Alam Wisata Risorsis (Palawi), Tedy Sumarto. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Sebetulnya kita sudah ada MoU ya dengan teman-teman InJourney. Cuma memang mungkin kalau kami lihat kan, bisnisnya InJourney ini lebih ke yang besar.

Kalau kita lihat bedanya dengan kami, sebenarnya kami pernah juga sering mengajak. Kemarin coba kita jajaki untuk iklan di airport, untuk lokasi-lokasi wisata kami. Tapi ini on process, belum ada tindak lanjut lagi, dan memang ya dimungkinkan untuk kolaborasi atau sinergi dengan InJourney ini.

Cuma yang kami lihat, kami mungkin fokus dulu ke lokasi kami karena memang tiga tahun ini kan banyak perubahan yang kami lakukan dan pembangunan yang kami lakukan. Yang memang kami sendiri harus fokus dulu ke proses bisnis di internal kami. Membesarkan dulu lokasi wisata kita dulu lah gitu intinya.

Bagaimana Palawi memastikan kelestarian kawasan hutan tidak tergerus oleh target komersialisasi?

Dlundung, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. (Dok. Palawi)

Pertama tentunya kalau kita, karena berbisnis di bidang kehutanan, ya ada regulasi yang harus kita patuhi. Nah, ini yang jadi acuan kita itu SNI 8013 tahun 2004 terkait dengan PPA (Pengelolaan Pariwisata Alam). Kemudian juga ada Permenhut Nomor 13 tahun 2020, di mana memang kita ada batasan kaitan dengan pembangunan sarpras (sarana dan prasarana )yang dibolehkan.

Jadi, kita itu kalau di kawasan hutan tidak bisa sembarangan membangun, entah itu wahana, entah itu fasilitas yang sifatnya permanen. Itu maksimal hanya 10 persen yang dibolehkan. Saat ini, Palawi itu baru kurang lebih 3,7 persen sarpras-sarpras yang terbangunnya. Artinya apa? Kita tidak terlalu banyak membangun wahana-wahana untuk menarik pengunjung, tetapi lebih kepada mengandalkan potensi alam yang memang sudah ada di dalamnya.

Oleh karenanya, kita bikin tadi yang saya sampaikan paketan-paketan wisata yang lebih kepada experience untuk mengajak pengunjung, selain menikmati potensi hutannya, tetapi dia berkegiatan di situ. Kemudian juga kita ada program-program kaitan dengan edukasi ya, dari mulai nanam pohon, kemudian budi daya lebah, dan lain-lain. Nah, artinya ini yang sebetulnya jadi paket lengkap untuk mendukung si ekosistem yang ada di hutan itu sendiri.

Selain itu juga memang tren wisata kita lihat sekarang itu kan bergeser nih, orang itu lebih senang ke alam itu yang memang betul-betul alami Karena yang dicari ya ketenangan, kenyamanan, dan hal-hal unik yang memang ada di dalam kawasan hutan itu sendiri. Makanya, kita ini lagi gencar bikin sebetulnya program-program paket wisata minat khusus. Itu yang kita kejar.

Dan kalau kita lihat, tahun ini kita ada tiga piloting untuk pengembangan wisata lebih kepada wisata berkualitas. Ini ada di Kawah Putih, nah itu Kawah Putih kan punya keunikan tersendiri dari sisi alamnya, dia ada Kawah Purba, kemudian suasana, keanekaragaman hayatinya juga masih bagus gitu ya. Orang kecenderungannya datang ke Kawah Putih itu dari mulai pagi ngelihat sunrise di Sunan Ibu, mereka juga ingin menikmati suasana alam yang di Kawah Putih-nya itu sendiri. Jadi orang bisa bertahan berlama-lama di Kawah Putih hanya untuk menikmati alamnya itu sendiri.

Kemudian Ranca Upas. Kalau Ranca Upas memang keunikannya selain landscape yang memang ada hamparan savana, juga di sana ada penangkaran rusa. Ini kita pendekatannya lebih kepada orang yang senang berinteraksi dengan alam, itu baik dengan rusa, dengan alamnya itu sendiri.

Yang terakhir, kita punya lokasi namanya Gunung Puntang. Nah Gunung Puntang ini memang menarik karena selain landscape hutan pegunungan yang masih alami, di sana juga ada situs Radio Malabar, heritage gitu ya. Jadi, artinya orang bisa mengenal sejarah radio dari mulai zaman Belanda dulu. Nah, ini kita semua tampilkan dalam bentuk atraksi wisata. Jadi kan ini sesuatu yang lain daripada yang lain ya.

Kalau orang pengen ngelihat wisata atau situs sejarah, ya nanti mainnya ke Puntang, tapi juga bisa menikmati alam. Kalau orang pengen berinteraksi dengan alam langsung, ada satwa rusa kemudian bisa melihat, kalau pagi ya hamparan savana, embun dan lain-lain, itu bisa di Ranca Upas. Kalau orang pengen lihat sunrise di pagi hari dan menikmati suasana alami, di pegunungan di pagi hari, itu di Kawah Putih.

Curated For You

Editorial Team

Related Article