Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Panen Naik, Perhutani Serap 61 Ribu Penyadap Getah Pinus

3 min read
Panen Naik, Perhutani Serap 61 Ribu Penyadap Getah Pinus
Proses panen atau penyadapan getah pinus. (dok. Perhutani)
  • Kemarau panjang dan El Nino meningkatkan kontribusi panen getah pinus menjadi berpotensi 12 persen dari target tahunan, dibanding biasanya sekitar 10 persen.
  • Perhutani menyerap 61 ribu penyadap dari masyarakat desa hutan di Jawa, dengan penyerapan terbesar di Jawa Tengah 28.883 orang dan Jawa Timur 26.687 orang.
  • Pada 2025, getah pinus serta industri gondorukem, terpentin, dan derivatnya menyumbang 47 persen pendapatan Perhutani Rp4,8 triliun, menjadi kontribusi terbesar perusahaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kemarau panjang tahun ini yang menjadi ancaman bagi keberlangsungan sejumlah komoditas pertanian, ternyata justru membawa berkah bagi bisnis getah pinus.

Teriknya cuaca menyebabkan para pemanen getah pinus atau penyadap bisa terus melakukan panen tanpa hambatan. Panen getah pinus saat musim kemarau biasanya berkontribusi pada 10 persen target panen sepanjang tahun.

Namun, Direktur Operasi Perhutani, Wawan Triwibowo mengatakan El Nino Godzilla tahun ini bisa berkontribusi pada 12 persen target panen getah pinus sepanjang tahun.

“Dengan cuaca yang kemarau panjang seperti ini, alhamdulillah produksi getah pinus kami cukup baik. Dan biasanya kita ini berkisar kalau kemarau paling hanya 10 persen dari target satu tahun, kemungkinan bulan ini bisa 12 persen,” kata Wawan dikutip Minggu, (20/9/2026).

  1. 1. Serap 61 ribu penyadap getah pinus

    IMG_9233.png
    Proses panen atau penyadapan getah pinus. (dok. Perhutani)

    Adapun bisnis getah pinus merupakan bagian dari optimalisasi hasil hutan bukan kayu (HHBK). Dalam prosesnya, Perhutani melibatkan masyarakat desa untuk menjadi pemanen atau penyadap getah pinus.

    Wawan mengatakan, dari bisnis itu, Perhutani menyerap 61 ribu orang untuk menjadi penyadap.

    “Kerja sama enyadapan ini dibangun di atas prinsip mutualisme yang saling menguntungkan. Perhutani memperoleh hasil hutan bukan kayu secara optimal tanpa merusak fungsi tutupan hutan, sementara masyarakat mendapatkan kepastian pendapatan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga mereka,” ujar dia.

  2. 2. Rincian data serapan masyarakat desa sebagai penyadap getah pinus

    IMG_1591.jpeg
    Ilustrasi hutan pinus. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

    Melalui kemitraan inklusif para penyadap tidak hanya memperoleh nilai ekonomi secara langsung, tetapi juga dibekali pemahaman teknis dalam melakukan aktivitas sadap yang ramah lingkungan.

    Keterlibatan aktif warga sekitar kawasan ini sekaligus menjadi benteng pertahanan terbaik dalam menjaga fungsi lindung dan meminimalisir potensi gangguan keamanan hutan.

    Secara operasional, Perhutani berhasil mencatatkan total penyerapan tenaga kerja sadap hingga puluhan ribu orang di seluruh wilayah kerjanya di Pulau Jawa.

    Divisi Regional Jawa Tengah menjadi wilayah dengan penyerapan terbesar yakni mencapai 28.883 orang penyadap, disusul oleh Divisi Regional Jawa Timur sebanyak 26.687 orang penyadap, serta Divisi Regional Jawa Barat & Banten sebanyak 6.173 orang penyadap di 183,7 Ha Hutan Pinus yang dikelola Perhutani.

    Dari sisi profil demografi, penyerapan tenaga kerja sadap Perhutani secara penuh diisi oleh warga masyarakat desa hutan setempat yang berada dalam rentang usia kerja produktif. Seluruh penyadap mengandalkan sektor penyadapan sebagai penggerak perekonomian keluarga, sekaligus bukti nyata kontribusi aktif warga dalam menjaga kelestarian alam tempat mereka bernaung.

  3. 3. Bisnis getah pinus sumbang pendapatan terbesar

    IMG_9234.png
    Proses panen atau penyadapan getah pinus. (dok. Perhutani)

    Pada 2025, perusahaan membukukan pendapatan senilai Rp4,8 triliun, dengan laba bersih senilai Rp81,8 miliar.

    Berdasarkan data Perhutani, 41 persen pendapatan perusahaan berasal dari kayu dan industri kayu, 47 persen dari getah dan industri GTD (Gondorukem, Terpentin, dan Derivatnya), enam persen agroforestry, lima persen wisata, dan satu persen minyak kayu putih (MKP).

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More