Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Diversifikasi Bisnis, Perhutani Didorong Masuk ke Perdagangan Karbon

3 min read
Diversifikasi Bisnis, Perhutani Didorong Masuk ke Perdagangan Karbon
Aksi penanaman pohon TÜV Rheinland Indonesia dan Perhutani (Dok.TÜV Rheinland Indonesia)
  • BP BUMN mendorong Perhutani mengembangkan perdagangan karbon sebagai diversifikasi bisnis, agar pendapatan karbon dapat mendukung perlindungan hutan, replanting, dan pembiayaan Polisi Hutan.
  • Bisnis kayu masih menyumbang 41 persen pendapatan Perhutani, sementara getah dan industri GTD menyumbang 47 persen; proyek karbon diharapkan mengurangi kebutuhan penebangan.
  • Perhutani telah membentuk tim proyek karbon dan memasarkan potensinya ke perusahaan asing, termasuk di Amerika Serikat, dengan fasilitasi Kementerian Kehutanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Pengaturan (BP) BUMN mendorong pengembangan proyek karbon di Perum Perhutani. Direktur Pengelolaan Perusahaan Umum (Perum) Deputi Bidang Fasilitasi dan Sinergi Pembangunan BP BUMN, Muhammad Khoerur Roziqin, mengatakan Perum Perhutani didorong masuk ke perdagangan karbon sebagai diversifikasi bisnis.

"Nah, kami harapkan tetap Perhutani itu, menjaga hutan. Kemudian untuk instrumen ekonominya itu dia mulai bergerak ke arah carbon trading," kata Roziqin, dikutip Jumat (18/9/2026).

  1. 1. Mengurangi bisnis kayu

    IMG_9226.png
    Produk unit bisnis kayu dan industri kayu Perum Perhutani. (dok. Perhutani)

    Roziqin mengatakan, saat ini bisnis dan industri kayu masih memberikan kontribusi besar bagi Perum Perhutani. Berdasarkan data Perhutani, 41 persen pendapatan perusahaan berasal dari kayu dan industri kayu, 47 persen dari getah dan industri GTD (Gondorukem, Terpentin, dan Derivatnya), enam persen agroforestry, lima persen wisata, dan satu persen minyak kayu putih (MKP). Dengan mendorong proyek karbon, harapannya Perhutani bisa mengalihkan sejumlah bisnis kayunya kepada perdagangan karbon.

    "Kalau dapat Rp1 triliun saja, tahun nanti, 1-2 tahun ke depan, maka kita tidak perlu menebang pohon kita senilai Rp1 triliun, karena sudah ter-cover dari karbon ini. Jadi nanti bisnisnya Perhutani itu tinggal dapat duit dari carbon trading, digunakan untuk bayar Polisi Hutan, digunakan untuk membayar replanting pohonnya, digunakan untuk menjaga hutan lestari dari pendapatan carbon trading," tutur Roziqin.

  2. 2. Perhutani pasarkan potensi karbon ke perusahaan asing

    IMG_1591.jpeg
    Ilustrasi hutan pinus. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

    Direktur Operasi Perhutani, Wawan Triwibowo, mengatakan Perhutani sudah memiliki tim khusus untuk proyek pengembangan karbon. Terkait perdagangan karbon, Perhutani tengah memasarkan potensinya kepada perusahaan-perusahaan asing, salah satunya di Amerika Serikat (AS). Jalur pemasarannya difasilitasi oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut).

    "Dan, Perhutani mengikuti rombongan Kementerian Perhutanan di Amerika, diwakili oleh satu direktur untuk memasarkan potensi-potensi karbon kepada customer-customer yang ada di Amerika," tutur Wawan.

  3. 3. Luasan hutan yang dikelola Perhutani

    Perum Perhutani menanam 24,4 juta pohon di lahan seluas 26 ribu hektare (ha) di Musim Tanam (MT) 2024. (dok. Perhutani)
    Perum Perhutani menanam 24,4 juta pohon di lahan seluas 26 ribu hektare (ha) di Musim Tanam (MT) 2024. (dok. Perhutani)

    Saat ini, Perhutani mengelola 3,6 juta hektare (ha) hutan di Indonesia, dengan rincian 2,4 juta di Pulau Jawa dan Madura, serta 1,2 juta ha di luar Pulau Jawa dan Madura yang dikelola melalui anak usahanya, yaitu PT Inhutani.

    Perusahaan melakukan pengelolaan dan pemanfaatan hutan dengan komitmen menjaga kelestarian hutan, dan mengikuti peraturan perundang-undangan. Perusahaan mengantongi standar internasional dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Salah satunya dibuktikan dengan capaian skor A (leadership level) dari CDP atau Carbon Disclosure Project.

    "Ketika kita bicara pengelolaan hutan, ternyata kita dihadapkan pada tiga fungsi yang harus kita jaga. Yaitu satu, fungsi ekologi. Kedua, fungsi sosial, dan yang ketiga adalah fungsi ekonomi yang tadi disampaikan," ujar Wawan.

    Pada 2025, perusahaan membukukan pendapatan senilai Rp4,8 triliun, dengan laba bersih senilai Rp81,8 miliar. Adapun tahun ini, Wawan mengatakan pendapatan dari bisnis getah dan industri GTD akan meningkat, karena kemarau yang berlangsung lama di Indonesia.

    "Memang dengan cuaca yang kemarau panjang seperti ini, Alhamdulillah bahwa produksi getah pinus kami cukup baik. Dan biasanya kita ini berkisar paling, kalau kemarau sekitar 10 persen dari target satu tahun, kemungkinan kita bulan ini bisa 12 persen," kata Wawan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More