Jakarta, IDN Times – Pengeluaran warga Amerika Serikat (AS) untuk bensin dan solar membengkak hingga 100 miliar dolar AS (setara Rp1.758 triliun) selama enam bulan terakhir. Lonjakan biaya ini terjadi sejak AS bersama Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Pelacak Biaya Energi Perang Iran dari Universitas Brown mencatat beban tersebut bertambah sekitar 1 juta dolar AS (setara Rp17,58 miliar) setiap dua menit, atau rata-rata 763 dolar AS (setara Rp13,4 juta) per rumah tangga.
Penyebab utamanya berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang mengganggu jalur 20 persen pasokan minyak dunia. Kondisi ini langsung berdampak pada kenaikan harga bahan bakar di 50 negara bagian AS. Perang ini pun memicu penolakan publik dengan mayoritas warga menyalahkan Presiden AS Donald Trump atas lonjakan harga tersebut.
