Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Warga AS Tanggung Biaya Bensin Rp1.758 Triliun akibat Perang Iran

Warga AS Tanggung Biaya Bensin Rp1.758 Triliun akibat Perang Iran
ilustrasi pengisian bahan bakar minyak (pexels.com/Engin Akyurt)
  • Warga AS menanggung tambahan biaya bensin dan solar 100 miliar dolar AS selama enam bulan sejak serangan AS-Israel ke Iran, dipicu penutupan Selat Hormuz.
  • Harga bensin AS naik 39 persen menjadi 4,15 dolar AS per galon, sementara solar melonjak lebih dari 60 persen; dampaknya merembet ke biaya pangan dan distribusi.
  • Trump membela kenaikan biaya energi sebagai harga untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, sementara Texas, California, dan Florida mencatat beban tambahan terbesar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Pengeluaran warga Amerika Serikat (AS) untuk bensin dan solar membengkak hingga 100 miliar dolar AS (setara Rp1.758 triliun) selama enam bulan terakhir. Lonjakan biaya ini terjadi sejak AS bersama Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Pelacak Biaya Energi Perang Iran dari Universitas Brown mencatat beban tersebut bertambah sekitar 1 juta dolar AS (setara Rp17,58 miliar) setiap dua menit, atau rata-rata 763 dolar AS (setara Rp13,4 juta) per rumah tangga.

Penyebab utamanya berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang mengganggu jalur 20 persen pasokan minyak dunia. Kondisi ini langsung berdampak pada kenaikan harga bahan bakar di 50 negara bagian AS. Perang ini pun memicu penolakan publik dengan mayoritas warga menyalahkan Presiden AS Donald Trump atas lonjakan harga tersebut.

  1. 1. Trump membela kenaikan biaya energi

    Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
    Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

    Trump merespons kritik publik dalam rapat umum politik di New York pada 14 Agustus 2026. Ia menilai membayar sedikit lebih mahal untuk bensin sepadan demi memastikan negara jahat tidak memiliki senjata nuklir.

    “Setelah kita selesai mengalahkan Iran ... segera saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS,” ujar Trump, dikutip The Independent.

    Mengutip wawancaranya dengan Reuters yang dilaporkan Al Jazeera, Trump menepis kekhawatiran masyarakat terkait tingginya biaya energi. Ia justru balik menuding perusahaan minyak melakukan permainan harga.

    “Jika mereka naik, mereka naik,” kata Trump.

  2. 2. Harga bahan bakar mencatatkan rekor baru

    ilutrasi bahan bakar minyak
    ilustrasi bahan bakar minyak (pexels.com/cottonbro studio)

    Konflik yang semula diperkirakan Trump hanya berlangsung empat hingga lima minggu kini justru memasuki bulan keenam tanpa terobosan diplomatik. Meski begitu, ia tetap berjanji harga bahan bakar akan "jatuh seperti batu" setelah perang usai. Trump juga mengklaim militer Iran telah hancur dan AS berhasil mengambil alih Selat Hormuz.

    Dampak lonjakan harga bahan bakar minyak ini merembet ke sektor pangan akibat membengkaknya biaya operasional traktor, pendingin gudang, hingga truk distribusi. Akumulasi biaya tersebut akhirnya mendongkrak harga makanan di supermarket. Kondisi ini berisiko memicu krisis pangan di negara-negara berpenghasilan rendah yang bergantung pada impor biji-bijian serta pupuk.

  3. 3. Negara bagian AS menanggung beban biaya berbeda

    ilustrasi kapal pengangkut minyak
    ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

    Data Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) menunjukkan harga bensin melonjak 39 persen menjadi 4,15 dolar AS (setara Rp73 ribu) per galon pada akhir pekan Hari Buruh. Angka ini berhasil menembus rekor tertinggi sebelumnya sebesar 3,82 dolar AS (setara Rp67,2 ribu) pada 2012. Bensin menjadi penyumbang beban terbesar karena tingkat konsumsinya jauh melampaui solar.

    Sementara itu, harga solar naik lebih dari 60 persen hingga menyentuh 5,90 dolar AS (setara Rp103,7 ribu) per galon. Variasi harga terlihat antarwilayah, di mana Indiana mencatat rata-rata terendah 3,43 dolar AS (setara Rp60,3 ribu) per galon. California menjadi yang tertinggi di kisaran 5,85 hingga 5,86 dolar AS (setara Rp102,8–Rp103 ribu), disusul Washington, Hawaii, Alaska, dan Oregon.

    Texas menanggung pembengkakan biaya terbesar di tingkat negara bagian dengan nilai mencapai 11 miliar dolar AS (setara Rp193,4 triliun). California menyusul di posisi berikutnya dengan biaya ekstra 8 miliar dolar AS (setara Rp140,6 triliun), sedangkan Florida mencatat beban 5 miliar dolar AS (setara Rp87,9 triliun).

    Ketidakpastian harga bahan bakar diperkirakan masih membayangi aktivitas harian masyarakat selama jalur distribusi internasional belum pulih. Berbagai pihak kini menunggu langkah lanjutan untuk meredam krisis energi yang terus menekan rantai pasok global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More