Waspada Penipuan Mengatasnamakan Bank, Jangan Angkat Telepon Asing!

Penipu dapat menyamarkan nomor sebagai bank dan memanfaatkan data pribadi serta kepanikan korban untuk mendorong keputusan finansial terburu-buru.
Jangan menanggapi panggilan, pesan, atau tautan mencurigakan; periksa kondisi rekening dengan menghubungi bank melalui aplikasi, kartu ATM, situs, atau kontak resmi.
Jangan bagikan OTP, PIN, password, nomor kartu, maupun data sensitif; hentikan komunikasi yang mendesak atau meminta kerahasiaan, lalu lakukan verifikasi mandiri.
Mendapat telepon dari nomor yang mengaku berasal dari bank memang bisa bikin panik, apalagi jika penelepon mengetahui nama atau informasi pribadi kamu. Modus penipuan sekarang juga semakin meyakinkan karena pelaku bisa membuat nomor telepon terlihat seperti nomor resmi milik bank. Mereka kemudian memanfaatkan kepanikan agar kamu mengambil keputusan tanpa sempat mengecek kebenarannya.
Kondisi ini membuat siapa pun bisa terjebak, termasuk orang yang merasa sudah cukup paham soal keamanan finansial. Karena itu, penting untuk mengetahui cara mengenali dan menghadapi telepon mencurigakan sebelum uang atau data pribadimu menjadi sasaran.
Table of Content
1. Jangan angkat telepon yang tidak kamu nantikan

ilustrasi panggilan telepon, menelepon (pexels.com/cottonbro studio) Salah satu langkah sederhana untuk mengurangi risiko adalah jangan langsung mengangkat telepon dari nomor asing atau panggilan yang tidak kamu nantikan. Menurut penjelasan pakar keamanan siber Kurt Knutsson, penipu kini memanfaatkan teknologi untuk menyamarkan identitas dan membuat panggilan terlihat seolah-olah berasal dari perusahaan atau institusi yang dikenal. Bahkan, nomor yang muncul di layar ponsel bisa dibuat menyerupai nomor resmi perusahaan tertentu. Artinya, melihat nama bank atau nomor resmi di layar belum cukup untuk memastikan penelepon benar-benar berasal dari bank.
Pelaku biasanya mengandalkan percakapan langsung untuk menciptakan rasa takut dan terburu-buru. Kamu mungkin diberi tahu bahwa rekening sedang dibobol, ada transaksi mencurigakan, atau uang harus segera dipindahkan agar aman. Dalam kondisi panik, kamu bisa saja memberikan informasi atau mengikuti instruksi yang sebenarnya gak akan kamu lakukan jika sedang tenang. Karena itu, membiarkan panggilan tersebut tidak terjawab dapat memutus kesempatan pelaku untuk memengaruhi keputusanmu secara langsung.
2. Hubungi bank lewat jalur resmi

ilustrasi customer service (pexels.com/MART PRODUCTION) Kalau ada pesan suara, SMS, atau email yang mengabarkan masalah pada rekeningmu, jangan langsung mengikuti nomor atau tautan yang diberikan. Kamu bisa mencari nomor layanan pelanggan melalui aplikasi resmi bank, kartu ATM, situs resmi, atau dokumen rekening yang memang kamu miliki.
Cara ini membuatmu yang memegang kendali atas komunikasi, bukan mengikuti jalur yang sudah disiapkan oleh penipu. Setelah tersambung dengan pihak bank melalui kanal resmi, kamu bisa menanyakan apakah benar ada aktivitas mencurigakan pada rekening.
Langkah tersebut juga berlaku ketika penelepon mengetahui cukup banyak informasi tentang kamu. Nama, nomor rekening, bahkan informasi pribadi tertentu gak otomatis membuktikan bahwa orang tersebut adalah pegawai bank.
Penipu bisa menggunakan data pribadi yang diperoleh dari berbagai cara untuk membuat percakapan terdengar meyakinkan. Jadi, jangan menjadikan banyaknya informasi yang diketahui penelepon sebagai alasan untuk langsung memercayainya, ya.
3. Jangan berikan kode keamanan atau data sensitif

ilustrasi password, kata sandi, data personal, cyber crime, kejahatan siber, hack (pexels.com/indra projects) Kode OTP, PIN, password, nomor kartu, dan informasi keamanan lainnya sebaiknya jangan diberikan melalui telepon atau pesan yang mencurigakan, ya. Pelaku bisa mengaku membutuhkan kode tersebut untuk membatalkan transaksi, mengamankan rekening, atau memastikan identitas kamu. Padahal, kode keamanan yang kamu berikan dapat membantu mereka melewati lapisan perlindungan akun. Ketika seseorang meminta informasi sensitif sambil mengaku sedang membantu menyelamatkan uangmu, justru saat itulah kamu perlu semakin waspada.
Jika kamu terlanjur menerima telepon tersebut, kamu gak perlu merasa harus terus melayani percakapan sampai selesai. Akhiri panggilan, kemudian hubungi bank menggunakan kontak resmi untuk memeriksa kondisi rekening.
Kalau memang ada masalah, pihak bank dapat memberikan langkah penanganan melalui jalur yang aman. Dengan begitu, kamu tetap bisa menangani persoalan keuangan tanpa memberikan kesempatan kepada penipu untuk mengendalikan situasi.
4. Waspadai tekanan untuk bertindak cepat

ilustrasi tarik tunai, ATM (magnific.com/Dragana_Gordic) Penipu sering menggunakan rasa terburu-buru sebagai bagian dari modus mereka. Kamu mungkin diminta segera menarik uang, memindahkan dana, membeli sesuatu, memberikan kode keamanan, atau melakukan tindakan tertentu karena rekening disebut sedang dalam bahaya.
Menurut penjelasan Kurt Knutsson, menciptakan kepanikan menjadi salah satu cara yang membuat korban mengambil tindakan tanpa berpikir jernih. Karena itu, ketika seseorang memaksamu mengambil keputusan finansial dalam hitungan menit, berhenti sejenak dan verifikasi informasinya.
Kamu juga perlu waspada jika penelepon meminta percakapan tersebut dirahasiakan. Misalnya, kamu dilarang menghubungi bank secara langsung atau diminta tidak menceritakan masalah tersebut kepada petugas bank. Permintaan seperti itu seharusnya menjadi tanda untuk menghentikan komunikasi dan melakukan pengecekan melalui jalur resmi. Ingat, kamu selalu punya hak untuk menutup telepon dan mencari informasi sendiri sebelum mengambil keputusan terkait uang.
5. Buat kode rahasia untuk keluarga

ilustrasi menelepon, telepon, panggilan telepon, komunikasi, unhappy (pexels.com/SHVETS production) Perkembangan teknologi juga membuat penipuan berbasis suara semakin perlu diwaspadai. Teknologi kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk meniru suara sehingga pelaku bisa berpura-pura sebagai anggota keluarga dalam situasi darurat. Mereka kemudian dapat meminta uang atau informasi dengan alasan membutuhkan bantuan segera. Kondisi tersebut akan semakin sulit dikenali jika kamu langsung percaya hanya karena suara yang terdengar familier.
Salah satu langkah yang disarankan adalah membuat kata atau frasa rahasia bersama anggota keluarga. Kode tersebut sebaiknya jangan dipublikasikan atau dibagikan sembarangan sehingga hanya diketahui oleh orang-orang yang memang disepakati.
Jika suatu saat ada telepon darurat yang mengaku berasal dari anggota keluarga, kamu bisa meminta kode tersebut sebelum mengambil tindakan. Cara sederhana ini dapat memberikan lapisan pemeriksaan tambahan ketika kamu menghadapi panggilan yang terasa mencurigakan.
Penipuan yang mengatasnamakan bank memang semakin sulit dikenali karena pelaku dapat memanfaatkan teknologi dan informasi pribadi untuk membuat modus terlihat nyata. Meski begitu, kamu masih bisa mengurangi risikonya dengan tidak mudah menerima panggilan asing, gak memberikan data sensitif, dan selalu menghubungi bank melalui jalur resmi.
Jangan biarkan rasa panik membuatmu mengambil keputusan terkait uang dalam waktu singkat. Saat menghadapi telepon mencurigakan, berhenti sejenak, verifikasi informasi, dan pastikan kamu tetap memegang kendali atas komunikasi.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























