Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Yield Obligasi AS Terkoreksi, Rupiah Menguat ke Level Rp14.390

Yield Obligasi AS Terkoreksi, Rupiah Menguat ke Level Rp14.390
Ilustrasi rupiah (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat 15 poin pagi ini. Mengutip Bloomberg, rupiah berada di level Rp14.390 atau menguat 0,10 persen.

"Potensi pergerakan rupiah hari ini di kisaran Rp14.360-Rp14.450," kata Pengamat Pasar Keuangan Ariston Tjendra kepada IDN Times, Rabu (10/3/2021).

1. Yield obligasi AS terkoreksi

Karyawan memantau pergerakan harga saham (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
Karyawan memantau pergerakan harga saham (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Menurut Ariston, penguatan rupiah merespons terkoreksinya yield atau tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun. Kemarin, yield terkoreksi sebesar 4,4 persen ke level 1,528 persen.

"Pasar saham Asia juga menguat hari ini. Risk appetite menguat," ucapnya.

2. Nilai tukar rupiah masih berpotensi tertekan

Ilustrasi dolar AS (IDN Times/Holy Kartika)
Ilustrasi dolar AS (IDN Times/Holy Kartika)

Ariston mengatakan terkoreksinya yield seiring dengan penantian pelaku pasar terhadap persetujuan stimulus jumbo AS sebesar 1,9 triliun dolar AS di DPR dan presiden. DPR kemungkinan akan memberi pengesahan hari Rabu ini waktu AS, lalu langsung diserahkan ke presiden untuk disahkan dan dijalankan sebelum 14 Maret.

"Tapi penguatan rupiah hari ini masih rentan. Yield obligasi pemerintah AS masih berpeluang rebound dan ini bisa menekan kembali nilai tukar rupiah," paparnya.

3. Rupiah melemah di level Rp14.405 pada perdagangan kemarin

default-image.png
Default Image IDN

Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup melemah 45 poin. Mengutip Bloomberg, rupiah berada di level Rp14.405 dari penutupan sebelumnya di level Rp.14.360.

Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, faktor pelemahan rupiah adalah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat(PPKM) Mikro mulai 23 Februari-8 Maret 2021. Kemudian, pemerintah DKI Jakarta juga kembali memperpanjang PPKM Mikro mulai 8-22 Maret mendatang.

"Secara bersamaan rilis penjualan ritel Indonesia masih lemah, pertumbuhan negatif terus terjadi. Kebijakan PPKM ditengarai menjadi penyebab rendahnya permintaan yang membuat penjualan ritel lesu," katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hana Adi Perdana
EditorHana Adi Perdana
Follow Us

Latest in Business

See More

4 Sektor Investasi yang Tahan terhadap Krisis Global

07 Apr 2026, 10:01 WIBBusiness