Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Aset Andalan di Masa Sulit: Emas, Perak, dan Bitcoin
Ilustrasi emas batangan dan koin (freepik.com)
  • Emas terbukti stabil dan likuid di tengah ketidakpastian ekonomi, dengan kenaikan harga hampir 20 persen sepanjang 2020 berkat statusnya sebagai aset lindung nilai global.
  • Perak menunjukkan ketangguhan dengan lonjakan harga lebih dari 46 persen pada 2020, didorong perannya sebagai logam industri sekaligus aset pelindung nilai saat pasar bergejolak.
  • Bitcoin mengalami fluktuasi tajam selama masa krisis, mencatat penurunan besar di awal pandemi namun melonjak hingga lebih dari 300 persen pada akhir 2020 karena volatilitas tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Apakah ada cara yang benar-benar aman untuk menghindari fluktuasi besar dalam portofolio investasi? Baik kamu masih berada di awal perjalanan investasi maupun mendekati masa pensiun dan ingin melindungi nilai aset, memahami bagaimana aset tertentu bertahan dalam kondisi ekonomi tidak pasti menjadi hal yang sangat penting.

Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana emas, perak, dan bitcoin berperilaku saat terjadi ketidakpastian ekonomi, serta apa artinya bagi strategi pengelolaan portofoliomu.

1. Emas bersinar di tengah ketidakpastian

Ilustrasi kenaikan harga emas (freepik.com)

Dikutip dari GOBankingRates, emas sejak lama dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Ketika volatilitas pasar meningkat, harga emas cenderung lebih stabil dibandingkan banyak instrumen investasi lainnya. Selain mampu menjaga nilainya, emas juga sangat likuid. Kamu dapat dengan mudah menjual emas kapan saja, bahkan di toko perhiasan atau pegadaian, dan langsung mendapatkan dana tunai.

Saat pandemik melanda, harga emas justru menguat. Pada Januari 2020, harga emas berada di kisaran 1.581 dolar AS per ons. Hingga akhir 2020, harganya naik menjadi sekitar 1.895 dolar AS per ons, atau tumbuh hampir 20 persen. Stabilitas ini tidak lepas dari status emas yang diakui secara global sebagai penyimpan nilai.

2. Perak tetap tangguh saat kondisi tidak menentu

Perak kerap digunakan bersama emas sebagai aset pelindung nilai, meskipun tingkat stabilitasnya masih berada di bawah emas. Nilai intrinsik perak sangat dipengaruhi oleh perannya sebagai logam industri sekaligus aset moneter.

Pada Januari 2020, harga perak tercatat sekitar US$18,01 per ons. Menjelang akhir 2020, harganya melonjak menjadi sekitar 26,39 dolar AS per ons, mencatatkan kenaikan lebih dari 46 persen. Tingginya rasio emas terhadap perak pada tahun tersebut mendorong banyak investor mengalihkan sebagian portofolionya ke perak sebagai bentuk perlindungan dari ketidakpastian ekonomi.

3. Bitcoin cenderung berfluktuasi di masa tidak pasti

Ilustrasi bitcoin (freepik.com)

Berbeda dengan emas dan perak yang telah digunakan selama ratusan tahun, bitcoin tergolong aset yang relatif baru sehingga volatilitasnya jauh lebih tinggi. Lonjakan dan penurunan harga yang tajam kerap terjadi, terutama dipengaruhi oleh kebijakan moneter, tingkat pengangguran, dan inflasi.

Pada Januari 2020, harga bitcoin berada di kisaran 6.985 dolar AS. Namun, saat awal pandemik, harganya sempat anjlok ke sekitar 4.970 dolar AS pada Maret 2020. Meski kemudian melonjak hingga sekitar 29.001 dolar AS pada akhir tahun, penurunan tajam tersebut menunjukkan bahwa bitcoin sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi yang tidak stabil.

4. Menjaga kekayaan di tengah ketidakpastian

Ilustrasi investasi (freepik.com)

Strategi menyimpan kekayaan di masa penuh ketidakpastian akan berbeda bagi setiap investor, tergantung pada toleransi risiko masing-masing. Sebagian investor lebih nyaman menempatkan dana pada aset yang relatif stabil seperti emas dan perak, sementara lainnya bersedia mengambil risiko lebih tinggi dengan aset volatil seperti bitcoin.

Meski emas dan perak cenderung mengalami kenaikan nilai dalam jangka panjang, pertumbuhannya biasanya lebih lambat dibandingkan aset berisiko tinggi. Sebaliknya, bitcoin mencatat kenaikan lebih dari 300 persen sepanjang 2020, meskipun sempat mengalami penurunan tajam di tengah krisis.

Karena itu, membangun portofolio yang seimbang menjadi kunci untuk menjaga kekayaan sekaligus menangkap peluang pertumbuhan. Diversifikasi aset ke dalam emas, perak, bitcoin, dan instrumen investasi lainnya dapat membantu mengurangi risiko sekaligus mengoptimalkan potensi imbal hasil jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article