Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

9 Cara Mengontrol Pengeluaran Impulsif selama Ramadan agar Dompet Aman

ilustrasi uang
ilustrasi uang (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
Intinya sih...
  • Menyusun anggaran khusus Ramadan sejak awal untuk mengendalikan pengeluaran impulsif.
  • Pisahkan kebutuhan rutin dan pengeluaran musiman agar stabilitas keuangan tetap terjaga.
  • Susun skala prioritas sebelum belanja untuk mengontrol pengeluaran impulsif selama Ramadan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan adalah bulan penuh berkah yang membawa perubahan besar dalam rutinitas harian, termasuk pola konsumsi dan pengeluaran masyarakat. Selama bulan ini, frekuensi belanja cenderung meningkat karena kebutuhan sahur dan berbuka puasa, aktivitas sosial, hingga persiapan menyambut Lebaran. Di sisi lain, banyak orang tidak menyadari bahwa pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dapat memicu pemborosan.

Jika tidak dikendalikan sejak awal, pengeluaran impulsif tersebut berpotensi mengganggu kestabilan keuangan. Kondisi ini tentu bisa menimbulkan stres finansial yang mengurangi kekhusyukan dalam beribadah. Oleh karena itu, penting memahami cara mengontrol pengeluaran impulsif selama Ramadan agar kamu tetap bisa menjalani bulan puasa dengan tenang dan keuangan tetap terjaga lewat langkah-langkah praktis berikut ini.

1. Tentukan anggaran khusus Ramadan sejak awal

ilustrasi menghitung uang
ilustrasi menghitung uang (pexels.com/Karolina Grabowska)

Menyusun anggaran khusus Ramadan merupakan langkah awal yang sangat krusial dalam mengendalikan pengeluaran impulsif. Anggaran ini sebaiknya disiapkan sebelum Ramadan dimulai agar kamu tidak mengambil keputusan keuangan secara spontan saat kebutuhan meningkat. Dengan memiliki gambaran pengeluaran sejak awal, kamu akan lebih siap menghadapi berbagai kebutuhan yang muncul selama bulan puasa.

Anggaran Ramadan idealnya mencakup konsumsi tambahan, dana sosial seperti zakat dan sedekah, serta kebutuhan menjelang Lebaran. Pembagian pos anggaran ini membantu kamu melihat prioritas pengeluaran secara lebih objektif. Ketika batas anggaran sudah jelas, dorongan untuk belanja berlebihan pun bisa ditekan dengan lebih efektif.

2. Pisahkan kebutuhan rutin dan pengeluaran musiman

ilustrasi uang belanja
ilustrasi uang belanja (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Pengeluaran selama Ramadan bersifat musiman dan berbeda dari kebutuhan bulanan yang bersifat rutin. Oleh karena itu, memisahkan dana untuk kebutuhan tetap seperti tagihan, transportasi, dan cicilan dari dana Ramadan menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas keuangan. Pemisahan ini membantu kamu tetap memenuhi kewajiban utama tanpa terganggu oleh pengeluaran tambahan.

Dengan dana yang terpisah, kamu bisa lebih mudah memantau penggunaan uang selama Ramadan. Cara ini juga mencegah terjadinya penarikan dana kebutuhan pokok untuk memenuhi keinginan sesaat. Hasilnya, arus kas tetap terjaga dan kondisi keuangan lebih terkendali.

3. Susun skala prioritas sebelum belanja

ilustrasi berpikir
ilustrasi berpikir (pexels.com/Michael Burrows)

Ramadan sering kali dipenuhi godaan belanja, terutama ketika melihat berbagai rekomendasi makanan, promo, dan tren musiman. Tanpa skala prioritas yang jelas, keputusan belanja bisa didorong oleh emosi dan keinginan sesaat. Oleh sebab itu, menyusun prioritas sebelum berbelanja menjadi langkah penting untuk mengontrol pengeluaran impulsif.

Dengan skala prioritas, kamu dapat membedakan kebutuhan utama dan keinginan tambahan. Kebiasaan ini membantu kamu lebih sadar terhadap tujuan keuangan yang ingin dicapai. Dalam jangka panjang, pola pikir ini akan membentuk kebiasaan belanja yang lebih bijak.

4. Terapkan aturan menunda pembelian 24 jam

ilustrasi purchase order
ilustrasi purchase order (freepik.com/rawpixel.com)

Keputusan belanja impulsif sering kali muncul karena dorongan emosional yang bersifat sementara. Untuk mengatasinya, kamu bisa menerapkan aturan menunda pembelian selama 24 jam, khususnya untuk barang yang tidak bersifat mendesak. Jeda waktu ini memberi ruang bagi pertimbangan yang lebih rasional.

Dalam banyak kasus, keinginan membeli akan berkurang setelah emosi mereda. Teknik ini membantu kamu menilai kembali urgensi sebuah pembelian secara objektif. Dengan cara sederhana ini, pengeluaran impulsif selama Ramadan dapat ditekan secara signifikan.

5. Catat pengeluaran harian secara konsisten

ilustrasi mencatat pengeluaran
ilustrasi mencatat pengeluaran (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Mencatat pengeluaran harian merupakan cara efektif untuk meningkatkan kesadaran finansial. Dengan melihat langsung ke mana uang digunakan setiap hari, kamu bisa memahami pola belanja yang selama ini mungkin luput dari perhatian. Tidak perlu mencatat secara detail, yang terpenting adalah konsistensi.

Dari catatan tersebut, kamu bisa melakukan evaluasi sederhana terhadap kebiasaan belanja. Jika ditemukan pengeluaran yang tidak perlu, kamu bisa segera melakukan penyesuaian. Kebiasaan ini membantu menjaga pengeluaran tetap sejalan dengan anggaran yang telah ditetapkan.

6. Batasi agenda buka bersama di luar rumah

ilustrasi makan bersama
ilustrasi makan bersama (pexels.com/Nicole Michalou)

Buka bersama menjadi tradisi sosial yang sulit dipisahkan dari Ramadan. Meski bermanfaat untuk menjaga silaturahmi, terlalu sering menghadiri acara buka bersama di luar rumah dapat meningkatkan pengeluaran secara signifikan. Tanpa disadari, biaya makan, transportasi, dan kebutuhan pendukung lainnya bisa menumpuk.

Oleh karena itu, penting untuk menentukan prioritas agenda buka bersama yang benar-benar ingin dihadiri. Kamu tidak harus menerima semua undangan demi menjaga hubungan sosial. Dengan memilih secara selektif, pengeluaran tetap terkendali tanpa mengurangi makna kebersamaan.

7. Masak menu sahur dan berbuka secara terencana

ilustrasi memasak
ilustrasi memasak (pexels.com/Amar Preciado)

Memasak sendiri untuk sahur dan berbuka puasa umumnya lebih hemat dibandingkan membeli makanan jadi. Dengan perencanaan menu yang matang, kamu bisa mengontrol belanja bahan makanan agar tidak berlebihan. Selain itu, risiko makanan terbuang juga bisa diminimalkan.

Menu sederhana yang bergizi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan energi selama puasa. Perencanaan ini juga membantu mengurangi kebiasaan jajan impulsif menjelang waktu berbuka. Dampaknya, pengeluaran lebih terkendali dan pola makan menjadi lebih sehat.

8. Manfaatkan promo dengan lebih rasional

ilustrasi diskon
ilustrasi diskon (pexels.com/Karola G)

Promo Ramadan memang dirancang untuk menarik perhatian dan mendorong konsumsi. Namun, tidak semua promo perlu dimanfaatkan, terutama jika barang yang ditawarkan tidak sesuai kebutuhan. Tanpa sikap rasional, promo justru bisa memicu pengeluaran impulsif.

Sebelum memanfaatkan promo, pastikan barang tersebut memang sudah masuk dalam rencana belanja. Diskon tetaplah pengeluaran jika tidak dibarengi kebutuhan nyata. Dengan pertimbangan yang matang, promo bisa dimanfaatkan tanpa merusak anggaran.

9. Tetap sisihkan tabungan dan dana ibadah

ilustrasi menabung di celengan
ilustrasi menabung di celengan (pexels.com/maitree rimthong)

Ramadan bukan alasan untuk berhenti menabung atau berinvestasi. Justru, momen ini bisa menjadi latihan pengendalian diri yang berdampak positif pada kebiasaan finansial jangka panjang. Menyisihkan tabungan sejak awal membantu menjaga keseimbangan keuangan.

Selain itu, perencanaan dana zakat dan sedekah juga perlu dilakukan secara proporsional. Dengan target yang jelas, kamu bisa berbagi tanpa mengorbankan stabilitas finansial. Cara ini membuat pengelolaan keuangan selama Ramadan tetap sehat dan berkelanjutan.

Mengontrol pengeluaran impulsif selama Ramadan bukan berarti menahan diri dari kebahagiaan, melainkan menjaga keseimbangan antara kebutuhan, ibadah, dan kondisi finansial secara lebih sadar. Dengan perencanaan yang matang dan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, Ramadan bisa dijalani dengan lebih tenang, bermakna, dan bebas dari tekanan keuangan. Melalui langkah-langkah di atas, kamu dapat tetap fokus beribadah sekaligus menjaga kesehatan dompet hingga akhir bulan puasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya
Follow Us

Latest in Business

See More

Pemerintah Berlakukan 5 Hari WFA di Libur Lebaran 2026, Cek Tanggalnya

10 Feb 2026, 15:07 WIBBusiness