Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AI Makin Banyak Dipakai Fintech, Risiko Deepfake Mengintai
ilustrasi seorang hacker melakukan manipulasi konten deepfake (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)
  • Adopsi AI di fintech Indonesia meningkat, dengan 84 persen anggota AFTECH telah menggunakannya, tetapi akses tools AI juga memperbesar risiko penipuan impersonasi berbasis deepfake.
  • Ancaman mencakup wajah sintetis, face swap, rekaman verifikasi yang diputar ulang, serta injection attack melalui kamera virtual; VIDA menerapkan deteksi deepfake, dokumen palsu, perangkat, dan autentikasi biometrik.
  • OJK dan ASPI menekankan keseimbangan inovasi, tata kelola, serta perlindungan konsumen melalui penguatan identitas digital dan pengamanan berlapis dari verifikasi hingga transaksi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di industri fintech Indonesia semakin meluas. Namun perkembangan tersebut juga diikuti meningkatnya risiko fraud berbasis AI, salah satunya impersonasi menggunakan teknologi deepfake yang semakin sulit dideteksi.

Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) Annual Members Survey 2025-2026 mencatat, sebanyak 84 persen anggota asosiasi telah mengadopsi AI dalam proses bisnisnya. Dengan demikian risiko adanya praktik penipuan dalam operasional fintech dengan menggunakan teknologi deepfake pun semakin besar.

1. Semakin mudah AI, tingkatkan risiko teknologi deepfake

Logo Vida. (Dok/Istimewa).

VIDA menyoroti risiko tersebut, terutama dalam proses verifikasi identitas dan autentikasi transaksi secara digital. Founder dan Group CEO VIDA sekaligus Anggota Pengawas AFTECH Niki Luhur mengatakan, semakin mudahnya akses terhadap berbagai tools AI turut meningkatkan risiko impersonasi menggunakan teknologi deepfake. Menurut dia, teknologi tersebut membuat praktik penipuan semakin meyakinkan dan sulit dideteksi, terutama dalam proses onboarding pengguna secara jarak jauh dan autentikasi transaksi.

"Akses terhadap berbagai tools AI membuat praktik tersebut semakin meyakinkan dan sulit dideteksi, terutama dalam proses onboarding pengguna secara jarak jauh dan autentikasi transaksi," tegasnya, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Jumat (2/10/2026).

2. Ada sejumlah risiko ancaman deepfake

ilustrasi artificial intelligence (unsplash.com/Levart Photographer)

Menurut Niki, ancaman deepfake kini tidak hanya berupa manipulasi visual di depan kamera. Serangan juga dapat disisipkan ke dalam aliran data saat proses verifikasi identitas melalui kamera virtual atau yang dikenal sebagai injection attack.

Bentuk deepfake untuk penipuan pun beragam. Mulai dari wajah sintetis yang dibuat menggunakan foto KTP atau swafoto, video face swap, hingga rekaman proses verifikasi asli yang diputar ulang untuk menyamar sebagai pengguna yang sah.

“Kita tidak bisa membangun teknologi secara reaktif. Ketika ancaman seperti deepfake berkembang semakin cepat, industri juga harus membangun teknologi yang bersifat preventif. Perlindungan konsumen harus menjadi bagian dari inovasi, bukan sesuatu yang ditambahkan belakangan,” kata Niki.

Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, VIDA mengembangkan sistem pengamanan berlapis dalam proses verifikasi identitas dan akses akun. Salah satunya melalui Deepfake Shield yang dirancang untuk mendeteksi foto, rekaman video, wajah hasil rekayasa AI, hingga video yang disisipkan melalui kamera virtual saat proses pembukaan akun.

Pengamanan juga dilakukan melalui teknologi verifikasi dokumen untuk mendeteksi KTP palsu atau dokumen yang telah dimanipulasi secara digital.

"Sistem tersebut dilengkapi ID Fraud Shield yang membaca sinyal perangkat dan jaringan untuk mendeteksi indikasi penggunaan emulator maupun aplikasi kamera virtual," jelasnya.

Selain proses pembukaan akun, pengamanan diterapkan saat pengguna mengakses akun. VIDA menggunakan autentikasi biometrik yang terikat pada perangkat untuk memastikan akses dilakukan oleh pemilik akun yang sah.

2. Perlu ada keseimbangan antara inovasi dan perlindungan konsumen

Ilustrasi Artificial Intelligence atau AI (Freepik/Rawpixel)

Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan OJK Gonthor Ryantori Aziz mengatakan, perlu ada keseimbangan antara inovasi, tata kelola, dan perlindungan konsumen seiring dengan perkembangan teknologi.

“Inovasi baru bisa berkembang jika dipercaya masyarakat. Inovasi bukan sekedar kecanggihan teknologi, melainkan suatu terobosan yang memperoleh kepercayaan masyarakat melalui penerapan tata kelola dan mitigasi risiko yang baik,” ujar Gonthor.

3. Perlunya penguatan identitas digital dalam ekosistem pembayaran

ilustrasi Artificial Intelligence (Unsplash.com/Growtika)

Ketua Komite 2 Sistem Pembayaran Ritel Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) Gretel Griselda menambahkan, penguatan identitas digital dalam ekosistem pembayaran bukan hanya untuk memastikan identitas pihak yang melakukan transaksi. Menurut dia, sistem juga harus memastikan transaksi dilakukan oleh pihak yang tepat dan memiliki hak untuk melakukan transaksi tersebut.

Gretel menilai, aspek keamanan perlu diperkuat melalui pendekatan Fraud Intelligence untuk mengidentifikasi pola transaksi mencurigakan, termasuk keterkaitan dengan rekening perantara atau mule account dan aktivitas ilegal lainnya.

“Karena itu, pengamanan perlu dilakukan secara berlapis di sepanjang user journey, mulai dari proses verifikasi identitas dan dokumen, perangkat yang digunakan, hingga transaksi. Pendekatan menyeluruh seperti ini penting untuk menjaga keamanan sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem sistem pembayaran,” kata Gretel.

Curated For You

Editorial Team

Related Article