ilustrasi artificial intelligence (unsplash.com/Levart Photographer)
Menurut Niki, ancaman deepfake kini tidak hanya berupa manipulasi visual di depan kamera. Serangan juga dapat disisipkan ke dalam aliran data saat proses verifikasi identitas melalui kamera virtual atau yang dikenal sebagai injection attack.
Bentuk deepfake untuk penipuan pun beragam. Mulai dari wajah sintetis yang dibuat menggunakan foto KTP atau swafoto, video face swap, hingga rekaman proses verifikasi asli yang diputar ulang untuk menyamar sebagai pengguna yang sah.
“Kita tidak bisa membangun teknologi secara reaktif. Ketika ancaman seperti deepfake berkembang semakin cepat, industri juga harus membangun teknologi yang bersifat preventif. Perlindungan konsumen harus menjadi bagian dari inovasi, bukan sesuatu yang ditambahkan belakangan,” kata Niki.
Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, VIDA mengembangkan sistem pengamanan berlapis dalam proses verifikasi identitas dan akses akun. Salah satunya melalui Deepfake Shield yang dirancang untuk mendeteksi foto, rekaman video, wajah hasil rekayasa AI, hingga video yang disisipkan melalui kamera virtual saat proses pembukaan akun.
Pengamanan juga dilakukan melalui teknologi verifikasi dokumen untuk mendeteksi KTP palsu atau dokumen yang telah dimanipulasi secara digital.
"Sistem tersebut dilengkapi ID Fraud Shield yang membaca sinyal perangkat dan jaringan untuk mendeteksi indikasi penggunaan emulator maupun aplikasi kamera virtual," jelasnya.
Selain proses pembukaan akun, pengamanan diterapkan saat pengguna mengakses akun. VIDA menggunakan autentikasi biometrik yang terikat pada perangkat untuk memastikan akses dilakukan oleh pemilik akun yang sah.