ilustrasi pekerjaan digital marketing (pexels.com/Mikael Blomkvist)
Setelah memahami pengertian dan cara menghitungnya, sekarang muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana jika conversion rate sebuah campaign ternyata rendah?
Kabar baiknya, conversion rate bisa ditingkatkan melalui proses optimasi yang dikenal sebagai Conversion Rate Optimization (CRO). Namun, sebelum mengubah strategi, kamu perlu mencari tahu terlebih dahulu mengapa pengunjung belum melakukan tindakan yang diharapkan.
Berikut beberapa cara yang bisa dicoba.
1. Pastikan target audiens sudah tepat
Iklan yang menarik belum tentu menghasilkan pembelian jika ditampilkan kepada audiens yang tidak membutuhkan produk tersebut. Karena itu, perhatikan karakteristik calon customer, mulai dari kebutuhan, minat, hingga masalah yang ingin mereka selesaikan.
2. Buat konten iklan yang sesuai dengan landing page
Bayangkan kamu melihat iklan yang menawarkan diskon 50 persen, tetapi setelah diklik ternyata harga di website tidak sesuai dengan promosi. Pengalaman seperti ini tentu membuat calon customer kehilangan kepercayaan. Pastikan informasi dalam iklan sesuai dengan isi landing page, termasuk produk, harga, penawaran, dan ketentuan promosinya.
3. Gunakan Call to Action (CTA) yang jelas
CTA merupakan ajakan yang mendorong audiens melakukan tindakan tertentu, seperti membeli produk, mendaftar layanan, atau menghubungi bisnis.
Nah, daripada menggunakan kalimat yang terlalu umum, kamu bisa membuat copywriting CTA dengan permainan rima agar lebih menarik dan mudah diingat.
Contohnya:
Produk fashion: "Gaya makin berkelas, budget tetap waras!" — Lihat Koleksi
Produk skincare: "Kulit kusam bikin resah? Yuk, cari solusi biar makin cerah!" — Temukan Produkmu
Promosi diskon: "Belanja hemat, dompet tetap selamat!" — Cek Promonya
Jasa konsultasi bisnis: "Bisnis jalan di tempat? Cari strategi yang lebih tepat!" — Jadwalkan Konsultasi
Aplikasi produktivitas: "Kerjaan makin padat? Atur lebih rapi, kerja lebih cepat!" — Coba Fiturnya
Ingat ini masih contoh sederhana umumnya, alangkah baiknya dipersonalisasi sesuai kebutuhan campaign, dan tempatkan pada bagian yang mudah ditemukan pengunjung.
4. Permudah proses pembelian
Terlalu banyak tahapan saat checkout bisa membuat calon customer membatalkan transaksi. Untuk mengurangi hambatan tersebut, pastikan halaman website mudah digunakan, proses pembayaran tidak berbelit-belit, serta informasi biaya ditampilkan dengan jelas.
5. Lakukan A/B Testing
A/B testing adalah metode membandingkan dua versi elemen marketing untuk melihat mana yang memberikan hasil lebih baik. Misalnya, kamu membuat dua variasi iklan dengan produk dan audiens yang sama, tetapi menggunakan visual atau pesan promosi berbeda.
Dari hasil pengujian, kamu dapat melihat versi mana yang menghasilkan conversion rate lebih baik sebelum menentukan langkah optimasi berikutnya.
6. Evaluasi Metrik Pendukung
Jangan hanya terpaku pada conversion rate. Dalam performance marketing, ada beberapa metrik lain yang sebaiknya diperhatikan, seperti:
CTR (Click-Through Rate): Mengukur persentase klik dibandingkan jumlah tayangan iklan.
CPC (Cost per Click): Menunjukkan rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk setiap klik.
CPA (Cost per Acquisition/Action): Mengukur rata-rata biaya untuk memperoleh tindakan atau akuisisi yang ditetapkan.
ROAS (Return on Ad Spend): Membandingkan pendapatan yang diatribusikan kepada iklan dengan biaya iklan yang dikeluarkan.
Sebagai contoh, sebuah campaign mungkin memiliki conversion rate tinggi, tetapi biaya iklannya terlalu mahal dibandingkan keuntungan dari setiap penjualan. Sebaliknya, campaign dengan conversion rate lebih rendah belum tentu buruk jika mampu menghasilkan pendapatan yang lebih besar dengan biaya yang efisien.
Karena itu, tidak ada angka conversion rate yang otomatis dianggap bagus untuk semua jenis bisnis. Conversion rate yang ideal bergantung pada industri, harga produk, target audiens, jenis konversi, serta sumber trafik yang digunakan.
Jadi, ketika melihat laporan conversion rate di Meta Ads, TikTok Ads, atau website, jangan langsung fokus pada persentasenya saja. Coba perhatikan berapa banyak pengunjung yang datang, tindakan apa yang berhasil dilakukan, dan berapa biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan konversi tersebut.
Dengan memahami hubungan antarmetrik tersebut, kamu bisa mengevaluasi strategi digital marketing secara lebih objektif dan mengambil keputusan berdasarkan hasil bisnis, bukan sekadar angka yang terlihat menarik di dashboard.