Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sederet Daftar Bauran Kebijakan BI, Mulai dari GWM hingga LTV

2 min read
Sederet Daftar Bauran Kebijakan BI, Mulai dari GWM hingga LTV
Logo Bank Indonesia
  • Bank Indonesia memperkuat kebijakan makroprudensial melalui penyesuaian Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial untuk menjaga likuiditas rupiah perbankan dan mendorong pembiayaan sektor riil.
  • GWM rata-rata BUK akan turun bertahap dari 9 persen menjadi 7 persen, sedangkan BUS dan UUS dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen pada November-Desember 2026.
  • BI melanjutkan insentif swap lindung nilai, memperpanjang pelonggaran LTV/FTV properti hingga 31 Desember 2027, serta mempertahankan BI Rate di 5,75 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) memperkuat kebijakan makroprudensial untuk menjaga likuiditas perbankan dan mendorong penyaluran kredit ke sektor riil.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan secara bertahap, meski BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen.

  1. 1. Penyesuaian GWM dilakukan melalui perubahan kebijakan insentif LKM

    Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti. (Instagram/Bank Indonesia)
    Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti. (Instagram/Bank Indonesia)

    Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan, penyesuaian GWM dilakukan melalui perubahan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

    "Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat likuiditas rupiah di perbankan sekaligus mendorong pembiayaan bagi sektor riil di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi," kata dia.

  2. 2. Pemberlakuan aturan GWM BUK, UUS dan BUS

    Ilustrasi bank (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi bank (IDN Times/Arief Rahmat)

    Dalam kebijakan teranyar tersebut, GWM rata-rata bank umum konvensional (BUK) diturunkan dari 9 persen menjadi 7 persen. Sementara itu, GWM rata-rata bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) dipangkas dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.

    "Penurunan GWM dilakukan secara bertahap. Untuk BUK, GWM rata-rata diturunkan menjadi 8 persen mulai 1 November 2026 dan kembali turun menjadi 7 persen mulai 1 Desember 2026," kata dia.

    Adapun GWM rata-rata BUS dan UUS diturunkan menjadi 6,5 persen mulai 1 November 2026, kemudian menjadi 5,5 persen mulai 1 Desember 2026.

  3. 3. BI melanjutkan insentif untuk instrumen swap beli lindung nilai konvensional

    Ilustrasi Bank. (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi Bank. (IDN Times/Aditya Pratama)

    Selain menyesuaikan GWM, BI melanjutkan insentif untuk instrumen swap beli lindung nilai konvensional kepada BI dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri.

    Transaksi tersebut mencakup arus masuk investasi portofolio (portfolio inflows), pinjaman luar negeri oleh bank, dan investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI).

    Insentif diberikan melalui pengurangan premi sebesar 15 persen untuk tenor tiga bulan, 20 persen untuk tenor enam bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan.

  4. 4. Pelonggaran LTV diperpanjang Desember 2027

    ilustrasi uang kertas (unsplash.com/@alexandermils)
    ilustrasi uang kertas (unsplash.com/@alexandermils)

    BI juga memperpanjang pelonggaran rasio loan to value/financing to value (LTV/FTV) untuk kredit atau pembiayaan properti hingga 31 Desember 2027.

    Melalui kebijakan tersebut, bank dapat memberikan kredit atau pembiayaan hingga 100 persen dari nilai properti, sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan BI.

    Di sisi suku bunga, BI mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen dan suku bunga lending facility sebesar 6,50 persen. Sementara itu, suku bunga deposit facility dinaikkan menjadi 5 persen.

    "Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dan pemangku kepentingan lainnya dalam upaya memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas perekonomian dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Destry.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More