ilustrasi tabungan (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)
Fenomena “makan tabungan” umumnya terjadi ketika seseorang mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Kondisinya sendiri bisa disebabkan beberapa hal seperti berikut.
Salah satu penyebab maraknya fenomena “makan tabungan” adalah naiknya biaya hidup. Faktornya ada banyak, termasuk kenaikan bahan pokok, harga bahan bakar meroket, inflasi, dan lain sebagainya.
Sebagai salah satu dampaknya, kenaikan biaya hidup bisa membuat pengeluaran harian masyarakat ikut membesar. Bayangkan saja, ketika harga makanan, transportasi, tempat tinggal, tagihan, hingga kebutuhan rumah tangga meningkat, pendapatan bulanan yang nominalnya stagnan akan terasa semakin terbatas. Efek lanjutannya, hal demikian dapat membuat seseorang terpaksa mengambil sebagian tabungannya untuk menutupi kekurangan biaya hidupnya.
Penurunan pendapatan juga bisa menjadi penyebab lain dari maraknya “makan tabungan”. Kondisi ini dapat terjadi ketika gaji bulanan berkurang, jam kerja atau lemburan dipangkas, hingga penghasilan bisnis yang turun.
Di sisi lain, kebutuhan sehari-hari belum tentu ikut berkurang. Akibatnya, tabungan yang dimiliki terpaksa dipakai guna menutup selisih antara pemasukan yang diterima dengan pengeluaran yang harus dibayar.
Kehilangan sumber pendapatan utama seperti terkena PHK tentu akan memberi tekanan pada kondisi keuangan. Tanpa adanya pemasukan rutin lagi, seseorang bakal kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama jika belum punya sumber pendapatan pengganti.
Dalam situasi tersebut, tabungan terpaksa dijadikan penyangga sementara untuk memenuhi kebutuhan. Setidaknya sampai mendapatkan pekerjaan atau sumber pemasukan baru.
Pengeluaran tidak terduga juga bisa membuat seseorang mengambil uang yang sebelumnya ditabung. Misal seperti harus membayar biaya pengobatan, memperbaiki kendaraan, atau memenuhi kebutuhan keluarga yang muncul mendadak. Di sini, menggunakan tabungan dirasa lebih masuk akal dibanding harus mengajukan pinjaman atau utang.
Saat penghasilannya meningkat, seseorang terkadang ikut menaikkan gaya hidup. Misalnya lebih sering beli jajan mahal, belanja barang viral, dan lain sebagainya.
Jika naiknya pengeluaran tidak diperhitungkan dengan baik, kebutuhan bulanan bisa menjadi lebih besar dari pemasukan. Akibatnya, orang tadi mungkin akan mulai mengambil uang dari tabungan untuk mempertahankan gaya hidup tersebut.