BCA Syariah Catat Pembiayaan Konsumer Tumbuh 34,69 Persen

Pembiayaan konsumer BCA Syariah mencapai Rp2,46 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 34,69 persen secara tahunan, ditopang terutama oleh pembiayaan emas.
Pembiayaan emas melonjak 81,76 persen menjadi Rp598 miliar, sementara KPR iB mencapai Rp1,78 triliun dan KKB iB Rp78 miliar; bank tetap menerapkan prinsip kehati-hatian.
Aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp3.264 triliun pada Juni 2026, tumbuh 9,82 persen secara tahunan, dengan pangsa pasar 11,24 persen dari industri keuangan nasional.
Jakarta, IDN Times - PT Bank BCA Syariah mencatatkan pertumbuhan pembiayaan konsumer yang cukup tinggi hingga Agustus 2026. Pembiayaan konsumer BCA Syariah mencapai Rp2,46 triliun, naik 34,69 persen secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp1,83 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Kepala Satuan Kerja Bisnis Ritel dan Konsumer BCA Syariah Bukit Mas Siahaan mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang oleh sejumlah produk konsumer, terutama pembiayaan emas.
“Konsumer kita itu secara year on year bisa tumbuh sekitar 30 persen,” kata Bukit Kamis (1/10/2026).
1. Pembiayaan emas BCA Syariah tumbuh paling tinggi, yakni 81,76 persen
BCA Syariah Corner di BCA Expoversary 2026 (IDN Times/Bima Prakasa) Hingga Agustus 2026, pembiayaan emas BCA Syariah tumbuh paling tinggi, yakni 81,76 persen YoY menjadi Rp598 miliar. Menurut Bukit, pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Selain itu, pertumbuhan pembiayaan emas turut didukung oleh layanan Cicil Emas yang dapat diakses melalui aplikasi mobile banking BCA Syariah, BSya.
“Fitur ini yang menurut kami juga salah satu penunjang untuk pertumbuhan emas kita yang cukup tinggi,” ujar Bukit.
2. BCA Syariah tetap perhatikan kualitas penyaluran pembiayaan
BCA Syariah Corner di BCA Expoversary 2026 (IDN Times/Bima Prakasa) Sementara itu, pembiayaan KPR iB hingga Agustus 2026 tumbuh 24,17 persen YoY menjadi Rp1,78 triliun. Adapun pembiayaan KKB iB meningkat 32,59 persen YoY menjadi Rp78 miliar.
Meski mencatatkan pertumbuhan tinggi, BCA Syariah tetap memperhatikan kualitas penyaluran pembiayaan. Bukit menegaskan perseroan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan konsumer.
“Kita harus berperilaku sebagai bank yang prudent. Jadi, know your customer itu tetap harus dijaga,” katanya.
Ke depan, BCA Syariah akan terus mengembangkan pembiayaan konsumer dengan menyesuaikan produk dan layanan terhadap kebutuhan nasabah. Salah satunya dengan menghimpun berbagai kebutuhan nasabah yang belum terakomodasi untuk dikembangkan melalui aplikasi BSya.
“Semuanya itu nanti akan bisa kita rekap semua, kita kumpulkan semua calon tema seperti itu di dalam satu aplikasi kita, mobile banking kita, BSya,” tutur Bukit.
Selain mengembangkan layanan digital, BCA Syariah juga memperkuat sinergi dengan induk usaha, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Salah satu bentuk sinergi yang akan direalisasikan dalam waktu dekat adalah pembiayaan emas.
3. Potensi pengembangan keuangan syariah di Indonesia masih besar

ilustrasi mobile banking BCA Syariah (bcasyariah.co.id) Pada kesempatan yang sama, Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah OJK, Dian Masyita melihat potensi pengembangan keuangan syariah di Indonesia masih sangat besar. Hal ini tercermin dari pertumbuhan aset keuangan syariah yang masih mendekati dua digit.
Ia mengatakan aset keuangan syariah mencapai Rp3.264 triliun hingga Juni 2026. Nilai tersebut tumbuh 9,82 persen secara tahunan dibandingkan pertumbuhan aset konvensional yang sudah mentok.
"Tren aset syariah meningkat, jadi ini masih optimis tapi untuk mengejar potensi bangsa pasarnya sangat besar. Berarti BCA syariah masih punya pasar yang sangat besar untuk minimal mencapai Malaysia lah secara aset," tegasnya.
Menurutnya, besarnya jumlah penduduk Indonesia menjadi salah satu modal utama dalam pengembangan industri keuangan syariah. Dengan jumlah penduduk sekitar 285 juta jiwa, Indonesia memiliki basis pasar yang jauh lebih besar dibandingkan Malaysia yang berpenduduk sekitar 25 juta jiwa.
"Berarti kita punya pasar yang sangat besar. Aset kita bisa besar walaupun persentasenya tidak terlalu besar," ujarnya.
Dian menjelaskan, aset keuangan syariah Indonesia terbagi dalam tiga kelompok utama, yakni perbankan syariah, pasar modal syariah, dan industri keuangan non-bank (IKNB) syariah. Pasar modal syariah masih menjadi kontributor terbesar, antara lain karena adanya instrumen sukuk. Sementara itu, aset perbankan syariah mencapai sekitar Rp1.075 triliun dan aset IKNB syariah sekitar Rp158 triliun.
Pertumbuhan aset keuangan syariah tersebut juga masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan aset keuangan konvensional.
"Pangsa pasar keuangan syariah terhadap total industri keuangan nasional saat ini mencapai sekitar 11,24 persen," tegasnya.
Dian menilai pengembangan ekonomi dan keuangan syariah juga telah menjadi bagian dari agenda pembangunan jangka panjang pemerintah.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, penguatan ekonomi dan keuangan syariah menjadi bagian dari arah transformasi ekonomi nasional.
"Ini bagian dari visi-visi yang besar," kata Dian.
Ia menjelaskan, RPJPN 2025-2045 mencakup sejumlah sasaran pembangunan, mulai dari peningkatan pendapatan per kapita hingga setara negara maju, penurunan kemiskinan, peningkatan kepemimpinan dan pengaruh internasional, peningkatan daya saing sumber daya manusia, hingga penurunan intensitas emisi menuju net zero emission.
Sasaran tersebut kemudian diturunkan ke dalam sejumlah misi pembangunan, termasuk transformasi sosial, transformasi ekonomi, tata kelola, pembangunan infrastruktur, pembangunan kewilayahan, serta ketahanan sosial, budaya, dan ekologi.
Dalam transformasi ekonomi, pemerintah memasukkan penguatan ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu bagian dari strategi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan produktivitas ekonomi.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















