ilustrasi dalam stadiun Piala Dunia 2026 (pexels.com/Md Jawadur Rahman)
Salah satu sumber pendapatan utama FIFA di Piala Dunia 2026 berasal dari penjualan tiket. Tercatat, FIFA memperoleh komisi sekitar 15 persen dari penjual dan pembeli setiap terjadi transaksi penjualan tiket.
Perlu diketahui juga bahwa harga tiket Piala Dunia 2026 menjadi salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah. Karena itu, komisi 15 persen sudah lebih dari cukup untuk mempertebal kantong FIFA.
Permintaan tiket Piala Dunia 2026, khususnya laga final, juga sangat tinggi. Hal itu membuat reseller bisa menjualnya dengan harga yang fantastis. Alhasil, hal tersebut kembali menguntungkan FIFA.
Bayangkan saja, harga tiket final Piala Dunia bisa mencapai 32,000 dolar Amerika atau setara dengan Rp572 jutaan. Ada juga tiket yang harganya tembus 2,3 juta dolar Amerika yang setara dengan Rp41 miliar.
Di samping tiket, FIFA juga mendapat keuntungan dari sektor lain seperti penjualan merhcandise resmi hingga berbagai kerja sama dengan sponsor. Harga lisensi penayangan Piala Dunia 2026 juga tinggi, sekitar Rp1,3 triliun, dua kali lipat lebih mahal dari Piala Dunia 2022 yang hanya Rpp600 miliar. Sistem hydration break juga dinilai menjadi salah satu metode cerdik FIFA untuk meraup cuan lebih.
Tak sampai di situ, pendapatan yang cukup besar juga didapat dari penjualan makanan dan minuman selama Piala Dunia 2026 berlangsung. Saat laga final, bahkan FIFA menjual bagian lapangan dengan harga 3 ribu dolar Amerika yang setara Rp53 jutaan. Jadi, penggemar bisa membeli sebagian rumput di lapangan tempat laga final berlangsung. Rumput tersebut akan diawetkan di resin dan bisa digunakan sebagai pajangan.