Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Biaya Tersembunyi saat Investasi Kripto yang Jarang Disadari

Biaya Tersembunyi saat Investasi Kripto yang Jarang Disadari
Ilustrasi koin kripto (freepik.com)

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial, cryptocurrency sering dipandang sebagai inovasi baru yang revolusioner. Banyak orang tergoda oleh potensi keuntungannya yang tinggi, namun tidak sedikit pula yang masih ragu karena kompleksitasnya. Padahal, jika ditarik ke belakang, aset digital seperti Bitcoin sudah hadir sejak lebih dari satu dekade lalu dan telah melalui berbagai fase naik-turun yang ekstrem. Sebelum terjun lebih dalam, penting bagi investor untuk memahami bukan hanya peluangnya, tetapi juga berbagai biaya tersembunyi yang sering luput dari perhatian.

Banyak yang mengira cryptocurrency adalah teknologi yang benar-benar baru. Namun, kenyataannya, Bitcoin pertama kali diperkenalkan sekitar 17 tahun lalu melalui peluncuran “Genesis Block” pada 3 Januari 2009. Sejak saat itu, mata uang digital ini bersama industri kripto secara keseluruhan telah mengalami volatilitas harga yang signifikan, berbagai kasus peretasan, serta sorotan tajam dari regulator dan publik.

Hingga kini, cryptocurrency masih tergolong sebagai instrumen investasi niche. Sebagian besar investor ritel belum sepenuhnya memahami cara kerjanya. Hal ini tercermin dari survei yang menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil orang yang benar-benar memiliki atau berencana membeli aset kripto, sementara mayoritas masih menganggapnya sebagai investasi berisiko tinggi.

Meningkatnya jumlah pengguna kripto tidak serta-merta diiringi dengan pemahaman yang memadai. Salah satu aspek yang sering diabaikan adalah biaya-biaya tambahan di luar harga beli aset itu sendiri. Berikut beberapa jenis biaya tersembunyi saat investasi kripto yang jarang disadari dan perlu diperhatikan.

1. Biaya trading dan transaksi

Ilustrasi bitcoin
Ilustrasi bitcoin (freepik.com)

Setiap kali kamu membeli, menjual, atau menukar cryptocurrency di platform exchange, akan ada biaya yang dikenakan. Umumnya, biaya ini terbagi menjadi:

  • Maker fee: dikenakan untuk order yang menambah likuiditas pasar

  • Taker fee: dikenakan untuk order yang langsung mengeksekusi transaksi yang sudah ada

Selain itu, ada juga:

  • Biaya bertingkat (tiered fees) berdasarkan frekuensi trading

  • Spread yaitu selisih antara harga pasar dan harga eksekusi

  • Biaya jaringan (network fees) yang bisa meningkat saat trafik tinggi

Bahkan, pada beberapa blockchain, transaksi yang gagal pun tetap dikenakan biaya. Kondisi pasar yang cepat berubah juga bisa menyebabkan harga bergeser saat order sedang diproses, sehingga menambah biaya tanpa disadari.

Cara penyimpanan aset juga memengaruhi biaya. Menyimpan kripto di exchange memang praktis, tetapi kamu harus membayar biaya platform dan bergantung pada sistem keamanan mereka. Sebaliknya, menggunakan hardware wallet mengurangi risiko platform, namun menambah biaya perangkat dan tanggung jawab pengelolaan sendiri.

2. Biaya tidak langsung (hidden charges)

Ilustrasi koin kripto
Ilustrasi koin kripto (freepik.com)

Banyak investor mengira harga Bitcoin atau Ethereum yang terlihat adalah total biaya yang harus dibayar. Faktanya, ada sejumlah biaya tersembunyi yang dapat menggerus keuntungan secara perlahan.

Salah satu yang paling umum adalah slippage, yaitu selisih antara harga yang diharapkan dan harga aktual saat transaksi terjadi. Hal ini biasanya terjadi karena perubahan harga yang sangat cepat dalam waktu singkat.

Dalam kondisi pasar yang sangat volatil, slippage bisa menjadi signifikan. Bahkan, pada aset tertentu seperti meme coin, slippage bisa mencapai 30% hingga 40%. Oleh karena itu, penting untuk mengatur batas maksimal slippage saat melakukan trading.

3. Kewajiban pajak

Ilustrasi pajak
Ilustrasi pajak (freepik.com)

Dalam sistem perpajakan, cryptocurrency sering diperlakukan sebagai aset atau properti. Artinya, setiap aktivitas seperti empat poin di bawah ini dapat menimbulkan kewajiban pajak:

  • Menukar kripto ke mata uang fiat

  • Trading antar aset kripto

  • Menggunakan kripto untuk membeli barang atau jasa

  • Mendapatkan reward atau staking

Berbeda dengan sistem keuangan tradisional yang menyediakan laporan biaya secara rutin, biaya dalam dunia kripto tersebar di berbagai platform seperti blockchain, exchange, dan protokol DeFi. Setiap transaksi, termasuk penarikan likuiditas atau swap, dapat memengaruhi kewajiban pajakmu.

Jika kamu aktif bertransaksi di banyak platform, kamu perlu mencatat:

  • Harga beli (cost basis)

  • Tanggal transaksi

  • Nilai transaksi

Tanpa pencatatan yang baik, biaya terbesar justru bukan berasal dari fee, melainkan dari kesalahan atau kelalaian dalam pelaporan. Di sisi lain, ada keuntungan tertentu—misalnya tidak adanya aturan wash sale pada beberapa yurisdiksi—yang memungkinkan investor merealisasikan kerugian untuk mengurangi beban pajak. Namun, strategi ini tetap perlu dipertimbangkan dengan hati-hati karena regulasi dapat berubah sewaktu-waktu.

Cryptocurrency memang menawarkan peluang besar di era digital saat ini. Meski begitu, terdapat biaya tersembunyi saat investasi kripto yang dapat memengaruhi keuntungan secara signifikan. Tanpa pemahaman yang matang, investor bisa saja terjebak dalam biaya-biaya kecil yang jika dikumpulkan menjadi beban besar.

Oleh karena itu, sebelum berinvestasi, penting untuk membekali diri dengan pengetahuan yang cukup, memahami setiap komponen biaya, serta menerapkan strategi yang bijak. Dengan pendekatan yang tepat, kamu tidak hanya dapat memaksimalkan potensi keuntungan, tetapi juga meminimalkan risiko yang mungkin muncul.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Business

See More

5 Fakta Menarik tentang Inflasi Gaya Hidup, Semua Serba Naik

18 Apr 2026, 22:00 WIBBusiness