Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BPS: Defisit Dagang RI dengan China Tembus 10,17 Miliar Dolar AS
Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)
  • BPS mencatat defisit perdagangan Indonesia dengan China mencapai 10,17 miliar dolar AS pada Januari–Mei 2026, menjadi penyumbang terbesar dari total defisit neraca perdagangan nasional.
  • Selain China, Australia dan Singapura juga berkontribusi besar terhadap defisit perdagangan Indonesia, masing-masing sebesar 3,99 miliar dan 3,83 miliar dolar AS selama periode yang sama.
  • China tetap menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan nilai ekspor nonmigas 28,54 miliar dolar AS dan impor nonmigas 39,27 miliar dolar AS yang didominasi mesin serta peralatan mekanis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan Indonesia dengan China sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai 10,17 miliar dolar AS.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, secara keseluruhan neraca perdagangan barang Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS.

"Negara penyumbang defisit terdalam adalah China, dengan defisit mencapai 10,17 miliar dolar AS," kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Rabu (1/7/2026).

1. Indonesia juga defisit perdagangan dengan Australia, Singapura

Ilustrasi neraca perdagangan. (Dok. Antara)

Selain China, Australia, dan Singapura juga menjadi penyumbang defisit perdagangan terbesar Indonesia. Defisit perdagangan dengan Australia mencapai 3,99 miliar dolar AS, sedangkan dengan Singapura sebesar 3,83 miliar dolar AS.

Di sisi lain, China masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia selama Januari–Mei 2026 dengan pangsa sebesar 25,90 persen.

"Posisi berikutnya ditempati ASEAN sebesar 20,08 persen, Amerika Serikat 11,56 persen, Uni Eropa 7,25 persen, dan India 6,74 persen. Sementara itu, pangsa ekspor ke negara dan kawasan lainnya mencapai 28,47 persen," ujarnya. ⁷

Ateng mengatakan, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai 28,54 miliar dolar AS. Ekspor tersebut didominasi komoditas besi dan baja (HS72) dengan pangsa 26,02 persen. Namun, ekspor besi dan baja ke China turun 2,97 persen secara tahunan.

2. Ekspor nonmigas ke Amerika Serikat (AS) capai 12,73 miliar dolar AS

ilustrasi ekspor (pexels.com/Wolfgang Weiser)

Sementara itu, ekspor nonmigas ke Amerika Serikat (AS) mencapai 12,73 miliar dolar AS, dengan komoditas utama berupa mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesori.

Adapun ekspor nonmigas ke India tercatat sebesar 7,43 miliar dolar AS, yang didominasi bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani atau nabati, serta mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya.

3. Nilai impor nonmigas dari China capai 39,27 miliar dolar AS

ilustrasi ekspor (pexels.com/Kai Pilger)

Di sisi impor, China masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–Mei 2026 dengan pangsa mencapai 41,83 persen. Posisi berikutnya ditempati ASEAN dengan pangsa 14,88 persen, Uni Eropa 6,59 persen, Jepang 5,51 persen, Australia 5,35 persen, serta negara dan kawasan lainnya sebesar 25,84 persen.

"Nilai impor nonmigas dari China mencapai 39,27 miliar dolar AS. Impor tersebut didominasi mesin dan peralatan mekanis (HS84) yang menyumbang 22,24 persen dari total impor nonmigas Indonesia dari China," ujarnya.

Sementara itu, nilai impor migas Indonesia mencapai 20,30 miliar dolar AS, meningkat 14,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun impor nonmigas dari Jepang tercatat sebesar 5,17 miliar dolar AS, terutama berupa mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya, besi dan baja, serta kendaraan dan komponennya. Sementara impor nonmigas dari Australia mencapai 5,02 miliar dolar AS, yang didominasi logam mulia dan perhiasan atau permata, serealia, serta bahan bakar mineral.

Editorial Team

Related Article