Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Hindari Rugi saat Warisi Rumah Bareng Saudara, Simak Tipsnya
ilustrasi keluarga besar, kumpul bareng keluarga (pexels.com/Catalina Herrera)
  • Ahli waris perlu menyamakan tujuan sejak awal, apakah rumah akan dijual, disewakan, atau dipertahankan, agar keputusan tidak terasa dipaksakan dan pengelolaan lebih terarah.
  • Sebelum mempertahankan rumah, keluarga harus menghitung pajak, asuransi, perawatan, dan perbaikan; penundaan dapat menumpuk biaya, memperburuk kondisi properti, serta menurunkan nilainya.
  • Jika menjual, nilai rumah perlu dinilai secara objektif dan ketentuan pajak diperiksa; keluarga juga sebaiknya menetapkan tenggat keputusan serta menyiapkan wasiat atau dokumen warisan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rumah warisan memang bisa menjadi aset berharga, tapi mengelolanya bersama saudara gak selalu mudah. Setiap orang mungkin punya keinginan berbeda, mulai dari menjual rumah, menyewakannya, sampai mempertahankannya sebagai aset keluarga.

Di sisi lain, biaya perawatan, pajak, asuransi, dan perbaikan tetap berjalan selama rumah masih dimiliki bersama. Kalau keputusan terlalu lama ditunda, biaya tersebut bisa semakin besar dan kondisi rumah berisiko ikut menurun. Supaya rumah warisan gak malah menjadi sumber kerugian dan konflik, ada beberapa hal penting yang perlu kamu perhatikan sejak awal.

1. Bicarakan tujuan setiap ahli waris

ilustrasi keluarga besar, kumpul bareng keluarga, diskusi (pexels.com/Julia M Cameron)

Langkah pertama adalah membicarakan keinginan masing-masing saudara terhadap rumah tersebut. Jangan langsung berasumsi semua orang punya tujuan yang sama hanya karena kalian berasal dari keluarga yang sama. Bisa saja salah satu saudara ingin menjual rumah untuk mendapatkan uang tunai, sedangkan lainnya ingin mempertahankan rumah sebagai aset keluarga atau properti sewaan. Perbedaan tujuan seperti ini perlu dibicarakan sejak awal supaya keputusan nantinya gak terasa dipaksakan.

Dilansir CNBC, kisah keluarga Ashton dan Adison Lawrence yang mewarisi rumah nenek mereka di South Carolina menunjukkan pentingnya komunikasi tersebut. Keduanya masih membicarakan apakah rumah itu akan dijual atau dijadikan properti sewaan karena keputusan tersebut berkaitan dengan pertimbangan finansial sekaligus emosional. Penasihat keuangan Lazetta Rainey Braxton juga menjelaskan bahwa rumah warisan perlu dibicarakan karena aset tersebut membutuhkan perhatian, biaya, dan pengelolaan. Artinya, jangan hanya melihat harga jual rumah, tapi pertimbangkan juga kemampuan keluarga dalam mengelolanya.

2. Hitung semua biaya sebelum mempertahankan rumah

ilustrasi menghitung dengan kalkulator, budgeting, anggaran (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Memiliki rumah warisan bukan berarti kamu dan saudara otomatis mendapatkan keuntungan tanpa mengeluarkan uang, lho. Selama rumah masih dimiliki bersama, berbagai biaya tetap berjalan, mulai dari pajak properti, asuransi, perawatan sampai perbaikan ketika ada kerusakan. Semakin lama keputusan ditunda, semakin besar kemungkinan biaya tersebut menumpuk. Kondisi rumah juga bisa memburuk apabila gak ada saudara yang bersedia mengurusnya secara rutin.

Braxton menggambarkan pengelolaan rumah seperti mengelola sebuah bisnis karena pemilik harus mengetahui kebutuhan properti dan memiliki arus kas untuk merawatnya. Dalam pengalamannya, keluarganya pernah mewarisi rumah dari kakek dan neneknya, tapi keputusan mengenai rumah tersebut terlalu lama sehingga akhirnya properti itu harus dihancurkan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menunda keputusan juga bisa memiliki konsekuensi finansial. Jadi, sebelum memutuskan mempertahankan rumah, hitung dulu seluruh biaya yang mungkin muncul dan tentukan siapa yang akan menanggungnya.

3. Pertimbangkan waktu saat menjual rumah

ilustrasi jual beli rumah, properti, appraisal (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Kalau semua ahli waris sepakat menjual rumah, jangan buru-buru menentukan harga hanya berdasarkan perkiraan atau harga rumah di sekitar lokasi. Nilai properti perlu diketahui secara lebih akurat agar setiap saudara punya dasar yang sama ketika membicarakan pembagian hasil penjualan. Sebaiknya rumah dinilai sesegera mungkin setelah pemilik meninggal.

Penilaian ini dapat membantu keluarga mengetahui nilai aset secara lebih jelas sekaligus menjadi pertimbangan dalam urusan perpajakan sesuai aturan yang berlaku. Dengan mengetahui nilai rumah secara objektif, pembicaraan mengenai menjual, mempertahankan, atau membagi kepemilikan bisa dilakukan berdasarkan data. Kalau rumah akhirnya dijual, kamu juga sebaiknya mengecek ketentuan pajak dan waris yang berlaku terlebih dahulu, ya.

4. Buat batas waktu untuk mengambil keputusan

ilustrasi time, waktu (unsplash.com/Lukas Blazek)

Masalah rumah warisan bisa menjadi semakin rumit ketika setiap saudara terus menunggu keputusan dari pihak lain. Sementara itu, rumah tetap membutuhkan perawatan dan biaya operasional meskipun belum ada kesepakatan mengenai masa depannya. Karena itu, keluarga sebaiknya menentukan batas waktu untuk membicarakan dan menetapkan pilihan. Batas waktu tersebut bisa membantu semua pihak memahami bahwa keputusan mengenai rumah gak bisa ditunda tanpa batas.

Braxton bahkan menyarankan agar rencana warisan memiliki ketentuan mengenai batas waktu pengambilan keputusan. Apabila keluarga belum mencapai kesepakatan setelah enam bulan atau satu tahun, pihak tertentu dapat diberi kewenangan untuk menjual rumah. Tujuannya agar penundaan gak membuat kondisi properti memburuk dan nilainya ikut terdampak.

5. Siapkan aturan sebelum pewaris meninggal

ilustrasi lansia, orang tua, waris, warisan, wasiat (pexels.com/Büşranur Aydın)

Persoalan rumah warisan sebenarnya bisa dibicarakan sebelum seseorang meninggal. Pemilik rumah dapat menyampaikan keinginannya kepada anggota keluarga sehingga anak atau ahli waris gak harus menebak-nebak apa yang seharusnya dilakukan terhadap properti tersebut. Dokumen seperti wasiat dan dokumen perencanaan warisan lainnya juga dapat membantu memperjelas pembagian serta pengelolaan aset setelah pemilik meninggal. Dengan perencanaan lebih awal, keluarga memiliki pedoman yang lebih jelas ketika harus mengambil keputusan dalam situasi emosional.

Pengaturan mengenai rumah dan aset lainnya juga sebaiknya dibuat secara jelas dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Kamu bisa mendiskusikan rencana tersebut bersama notaris atau ahli hukum agar dokumen yang dibuat memiliki dasar hukum yang tepat dan keinginan pemilik aset dapat dituangkan dengan jelas. Langkah ini juga membantu mengurangi kemungkinan munculnya perbedaan pendapat antaranggota keluarga setelah rumah diwariskan. Semakin jelas aturan dan pembagian sejak awal, semakin mudah pula keluarga menentukan langkah ketika aset tersebut akhirnya berpindah tangan.

Rumah warisan memang bisa menjadi aset berharga, tapi pengelolaannya membutuhkan kesepakatan dan perhitungan yang matang. Kamu dan saudara perlu membicarakan tujuan masing-masing, menghitung biaya kepemilikan, memahami nilai rumah, serta menentukan batas waktu pengambilan keputusan.

Jangan sampai kenangan terhadap rumah justru membuat keluarga menunda keputusan sampai biaya dan masalahnya semakin besar. Dengan komunikasi terbuka dan perencanaan yang jelas, rumah warisan bisa dikelola secara lebih teratur tanpa mengorbankan hubungan antaranggota keluarga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article