Inflasi Thailand Melonjak Menjadi 3,9 Persen pada Oktober 2026

Inflasi Thailand mencapai 3,90 persen secara tahunan pada Oktober 2026, melampaui target bank sentral 1–3 persen untuk pertama kalinya sejak Februari 2023.
Lonjakan harga bahan bakar 29,18 persen menyumbang sekitar 56 persen inflasi, sekaligus mendorong kenaikan biaya transportasi akibat krisis energi di Timur Tengah.
Harga makanan dan minuman non-alkohol naik 4,26 persen, dipicu banjir yang mengerek harga sayuran segar; inflasi inti tercatat 1,58 persen.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Perdagangan Thailand merilis data resmi yang menunjukkan lonjakan inflasi utama negara tersebut hingga 3,90 persen secara tahunan pada Oktober 2026. Peningkatan indeks harga konsumen ini dipicu oleh lonjakan harga bahan bakar minyak akibat krisis energi di Timur Tengah serta kenaikan harga pangan imbas banjir.
Catatan inflasi pada Oktober 2026 ini melampaui rentang target bank sentral setempat sebesar 1 persen hingga 3 persen untuk pertama kalinya sejak Februari 2023. Meski demikian, otoritas perdagangan mempertahankan proyeksi inflasi tahunan penuh 2026 pada kisaran 1,8 persen hingga 2,2 persen dengan titik tengah 2,0 persen.
Table of Content
1. Lonjakan harga bahan bakar dan sektor transportasi

ilustrasi pengisian bensin (pexels.com/Engin Akyurt) Dilansir Xinhua, harga bahan bakar melonjak 29,18 persen secara tahunan dan menyumbang sekitar 56 persen dari total inflasi utama. Kenaikan harga minyak dunia ini terjadi menyusul serangan terhadap fasilitas produksi minyak di Arab Saudi serta faktor basis rendah dari tahun sebelumnya. Situasi tersebut turut mendorong harga rata-rata minyak mentah Dubai menyentuh tingkat tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.
Kategori kendaraan, transportasi, dan komunikasi tercatat mengalami kenaikan harga tahunan sebesar 10,93 persen. Kenaikan tarif meliputi bahan bakar, transportasi sekolah, layanan mobil van antarprovinsi, bus ber-AC, ojek sepeda motor, minibus, dan songthaew (angkutan pikap bersama).
Sementara itu, kategori non-makanan dan minuman naik 3,66 persen. Di dalamnya, kelompok rekreasi, membaca, pendidikan, dan kegiatan keagamaan meningkat 1,51 persen yang dipicu oleh naiknya biaya wisata domestik dan luar negeri, perjalanan mengunjungi kerabat serta ritual kebajikan, dan makanan hewan.
2. Pergerakan harga komoditas pangan dan sayuran

ilustrasi pasar (pixabay.com/tayphuong388) Dilansir The Nation Thailand, harga kelompok makanan dan minuman non-alkohol meningkat 4,26 persen secara tahunan. Bencana banjir di wilayah sentra pertanian menaikkan harga sayuran segar sebesar 17,34 persen secara tahunan, meski sempat berangsur normal menjelang akhir Oktober. Sayuran yang mengalami kenaikan harga mencakup jeruk nipis, kemangi, kailan, terung, daun bawang, kacang panjang, dan sawi hijau.
Kenaikan juga tercatat pada makanan siap saji sebesar 4,06 persen, seperti hidangan mi, nasi kari, nasi lauk tumis kemangi, dan nasi goreng. Kenaikan harga pangan lain terjadi pada daging babi, ayam segar, ikan kembung, udang vaname, cumi-cumi, beras putih, beras ketan, roti tawar, dan produk telur. Di sisi lain, harga buah-buahan segar justru turun 0,15 persen untuk komoditas buah naga, mangga, longkong, dan pisang nam wa.
3. Penurunan tarif utilitas dan perbandingan regional

Bangkok, Thailand (pexels.com/Michal Vaško) Di tengah tekanan harga energi kendaraan, tarif listrik mengalami penurunan bersamaan dengan turunnya biaya kontrak perbaikan rumah untuk tenaga kerja dan material. Penurunan harga juga terjadi pada perlengkapan rumah tangga seperti seprai, mesin cuci, dan pendingin ruangan, serta produk perawatan diri seperti sabun dan pasta gigi. Selain itu, produk pakaian dan alas kaki untuk pria, wanita, maupun anak-anak dilaporkan lebih murah.
Direktur Jenderal Kantor Kebijakan dan Strategi Perdagangan (TPSO), Nantapong Chiralerspong, mencatat inflasi inti Thailand berada di angka 1,58 persen. Berdasarkan data perbandingan internasional per September, tingkat inflasi Thailand sebesar 2,82 persen tercatat sebagai yang terendah ke-37 dari 139 ekonomi dunia. Di kawasan Asia Tenggara, posisi tersebut menempatkan Thailand sebagai negara dengan tingkat inflasi terendah kelima di antara 10 negara anggota ASEAN, dengan laju inflasi yang lebih rendah daripada Indonesia, Vietnam, Kamboja, Filipina, dan Laos.




















