CEK FAKTA: Benarkah Kabar Rencana Privatisasi Saham CIMB Niaga?

CIMB Group membantah rencana privatisasi saham CIMB Niaga dan menyatakan belum mengambil keputusan atau mengajukan proposal resmi.
CIMB Niaga tetap beroperasi di Indonesia dan akan memenuhi ketentuan regulator, termasuk batas minimum saham publik.
Informasi privatisasi muncul dari penjajakan sejumlah opsi, dengan estimasi biaya berdasarkan harga saham dan premi tertentu.
Jakarta, IDN Times - CIMB Group Holdings Berhad membantah pemberitaan yang menyebut pihaknya berencana melakukan privatisasi saham PT Bank CIMB Niaga Tbk. Grup perbankan asal Malaysia itu menegaskan belum mengambil keputusan maupun mengajukan proposal resmi terkait kemungkinan privatisasi saham CIMB Niaga.
"CIMB Group Holdings Berhad (CIMB atau Grup) dengan tegas membantah adanya rencana untuk melakukan privatisasi saham terhadap CIMB Niaga," demikian dikutip dari pernyataan resmi CIMB Group, Kamis (22/10/2026).
1. CIMB Niaga tetap beroperasi di Indonesia

Ilustrasi mobile banking OCTO Mobile by CIMB Niaga (dok. CIMB Niaga) CIMB Group menyatakan CIMB Niaga tetap menjadi bagian penting dari jaringan operasional regional grup. Perusahaan juga menegaskan komitmen untuk melanjutkan kegiatan usaha di Indonesia.
Pihaknya menyebut akan memenuhi seluruh ketentuan regulator, termasuk batas minimum saham publik atau free float, secara tepat waktu dan terstruktur.
"CIMB Niaga tetap menjadi bagian integral dari jejak operasional regional Grup, dan Grup tetap berkomitmen untuk melanjutkan kegiatan operasionalnya di Indonesia," kata perusahaan.
2. Mencuat informasi privatisasi jadi salah satu opsi

Ilustrasi Logo CIMB Group/Dok CIMB Sebelumnya, dilansir The Star, CIMB Investment Bank Bhd (CIMB IB) menyebut CIMB Group meningkatkan upaya untuk menjajaki kemungkinan penghapusan pencatatan saham CIMB Niaga dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
CIMB IB juga menyebut grup tersebut berencana berdiskusi dengan regulator terkait langkah itu. Dalam catatan risetnya, CIMB IB menyebut penjajakan tersebut didasari pandangan bahwa saham CIMB Niaga masih dinilai terlalu rendah (undervalued), serta prospek jangka panjang Indonesia yang dinilai positif.
CIMB Niaga dinilai memiliki keunggulan di bidang pengelolaan kekayaan (wealth management), perbankan korporasi, konektivitas ASEAN, layanan perbankan bagi nasabah kelas menengah atas (mass affluent banking), dan perbankan syariah.
CIMB IB menyebut ada tiga opsi yang dipertimbangkan untuk memenuhi ketentuan minimum free float CIMB Niaga. Opsi tersebut meliputi penjualan saham kepada investor strategis dengan valuasi yang dapat diterima, penawaran umum perdana saham kembali (re-IPO), dan privatisasi.
Opsi re-IPO dinilai kurang memungkinkan dalam kondisi pasar Indonesia saat ini. Sementara itu, privatisasi dinilai sebagai opsi yang lebih strategis dan realistis.
"CIMB menyebut terdapat berbagai opsi untuk menghapus pencatatan saham dari bursa, termasuk skema yang memungkinkan pemegang saham minoritas tetap memiliki sebagian kecil saham setelah penghapusan pencatatan," kata CIMB IB.
Pengaturan kepemilikan saham minoritas di CIMB Thai dan CIMB Bank Malaysia pada masa lalu disebut sebagai preseden. Selain itu, CIMB IB mencatat kelangsungan aliran dividen dari CIMB Niaga kepada grup induk menjadi salah satu pertimbangan dalam mengevaluasi langkah strategis.
3. Estimasi biaya privatisasi CIMB Niaga

Logo CIMB NIAGA (Website/cimbniaga.co.id) CIMB IB menyebut rasio modal inti utama atau Common Equity Tier 1 (CET1) CIMB mencapai 23 persen. Kondisi tersebut dinilai memberi ruang untuk optimalisasi modal, yang berpotensi menurunkan rasio tersebut menjadi sekitar 20 persen. Namun, belum ada target resmi yang ditetapkan.
Dalam catatan risetnya, CIMB IB menyebut CIMB tetap menerapkan pendekatan disiplin dalam merger dan akuisisi. Grup tersebut hanya terbuka terhadap peluang akuisisi tambahan berskala kecil di bidang pengelolaan kekayaan, perbankan untuk usaha kecil dan menengah (UKM), serta perbankan syariah CIMB Niaga. CIMB juga tidak mempertimbangkan transaksi berskala besar.
Sementara itu, MBSB Investment Bank Bhd dalam catatan terpisah menyebut CIMB menguasai 92,5 persen saham CIMB Niaga. Jika CIMB Niaga diprivatisasi dengan harga saham 1.550 rupiah per saham, nilai pembelian saham diperkirakan mencapai 2,95 triliun rupiah atau 670 juta ringgit Malaysia.
Jika transaksi dilakukan dengan premi 30 persen dari harga saham tersebut, nilai pembelian saham diperkirakan mencapai 3,84 triliun rupiah atau 871 juta ringgit Malaysia.
MBSB memperkirakan transaksi tersebut dapat menurunkan rasio CET1 sebesar 18 hingga 23 basis poin dari posisi terakhir 13,9 persen. Namun, penurunannya diperkirakan lebih mendekati batas bawah kisaran tersebut.
MBSB juga menyebut manajemen CIMB memprioritaskan penggunaan modal seminimal mungkin. Karena itu, penambahan kepemilikan saham diperkirakan berlangsung secara bertahap dengan memanfaatkan peluang yang tersedia.
























