Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hilirisasi dan DHE Jadi Senjata RI untuk Bersaing di Ekonomi Global
Direktur PoliEco Digital Insight Institute (PEDAS) Anthony Leong. (Dok/Istimewa).
  • PEDAS menilai hilirisasi dan penguatan DHE penting agar Indonesia tak bergantung pada ekspor bahan mentah serta mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional jangka panjang.
  • Tiga komoditas strategis, yaitu batu bara, CPO, dan ferroalloy, mencatat nilai ekspor lebih dari 66 miliar dolar AS per tahun sebagai penopang utama perdagangan nasional.
  • Hilirisasi dan kebijakan DHE dinilai dapat memperkuat stabilitas keuangan domestik, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta membuka peluang investasi dan lapangan kerja di dalam negeri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Lembaga PoliEco Digital Insight Institute (PEDAS) menilai Indonesia perlu terus mendorong hilirisasi dan penguatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) agar tidak bergantung pada ekspor bahan mentah. Direktur PEDAS, Anthony Leong mengayakan langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, kebijakan pengelolaan sumber daya alam saat ini perlu dilihat sebagai bagian dari upaya memperbesar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat dari kekayaan alam Indonesia.

1. Nasionalisme ekonomi disebut bukan berarti anti-globalisasi

Ilustrasi perdagangan ekspor. IDN Times/Istimewa

Anthony menilai masih terdapat pemahaman yang keliru terkait konsep nasionalisme ekonomi. Menurutnya, nasionalisme ekonomi bukan berarti menutup diri dari perdagangan internasional, melainkan memastikan kekayaan nasional memberikan manfaat optimal bagi rakyat.

"Nasionalisme ekonomi bukan berarti menutup diri dari dunia internasional. Nasionalisme ekonomi adalah memastikan bahwa kekayaan nasional, devisa nasional, dan sumber daya strategis nasional dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (13/6/2026).

Ia menambahkan, banyak negara yang berhasil melakukan transformasi ekonomi karena mampu memperjuangkan kepentingan ekonominya sendiri sambil tetap aktif dalam perdagangan global.

2. Tiga komoditas strategis bernilai lebih dari 66 miliar dolar AS per tahun

ilustrasi ekspor (pixabay.com/michaelgaida)

Ia mencatat setidaknya ada tiga komoditas yang menjadi fokus awal tata kelola ekspor strategis, yakni batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferroalloy, memiliki nilai ekspor lebih dari 66 miliar dolar AS per tahun atau sekitar seperempat dari total ekspor nasional.

Menurut Anthony, besarnya nilai ekspor tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan komoditas strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global.

"Yang lebih penting adalah apakah kebijakan tersebut memperkuat kepentingan nasional Indonesia, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memperbesar manfaat ekonomi dari kekayaan alam yang kita miliki. Dalam konteks itulah kebijakan ini harus dinilai," katanya.

3. Hilirisasi menjadi jalan keluar dari ketergantungan ekspor bahan mentah

Ilustrasi ekspor-impor (Pixabay)

Selain hilirisasi, PEDAS juga menyoroti pentingnya kebijakan DHE sebagai instrumen untuk memperkuat sistem keuangan domestik. Anthony menjelaskan, semakin besar devisa hasil ekspor yang ditempatkan di dalam negeri, semakin kuat pula kemampuan ekonomi nasional dalam menjaga stabilitas dan mendukung pembiayaan pembangunan.

"Semakin besar devisa hasil ekspor yang berada dalam sistem keuangan domestik, semakin kuat pula stabilitas nilai tukar, likuiditas perbankan, dan kapasitas pembiayaan pembangunan nasional," ujarnya.

Lembaga ini menilai hilirisasi merupakan langkah strategis agar Indonesia tidak terus berada pada posisi sebagai pemasok bahan baku bagi negara lain.

Menurut Anthony, pengolahan komoditas di dalam negeri memungkinkan terciptanya nilai tambah yang lebih besar, sekaligus membuka peluang investasi dan menciptakan lapangan kerja.

"Indonesia terlalu besar untuk terus menjadi pemasok bahan mentah bagi negara lain. Apa yang sedang dilakukan pemerintah hari ini adalah upaya mengembalikan nilai tambah sumber daya alam kepada rakyat Indonesia sendiri," katanya.

Editorial Team

Related Article