ilustrasi stock market, pasar saham, investasi, risiko (vecteezy.com/Asih Wahyuni)
Risiko lain yang perlu kamu waspadai adalah mengambil keputusan berdasarkan emosi, terutama ketika melihat nilai investasi terus menurun. Ketika portofolio memerah, rasa takut kehilangan uang bisa membuatmu ingin segera menjual semua saham agar kerugian gak bertambah. Padahal, penurunan harga saham gak selalu berarti kondisi fundamental perusahaan telah memburuk secara permanen. Jika kamu menjual tanpa mengevaluasi situasi, keputusan tersebut justru bisa bertentangan dengan rencana investasi yang sudah dibuat sebelumnya.
Dalam panduan menghadapi penurunan pasar yang diterbitkan J.P. Morgan Wealth Management melalui Chase pada Oktober 2026, investor disarankan untuk memeriksa kondisi portofolio, kebutuhan uang tunai, dan jangka waktu investasi sebelum mengambil tindakan. Sarah Daya dari tim perencanaan keuangan J.P. Morgan Wealth Management juga menekankan pentingnya memiliki rencana keuangan jangka panjang agar investor gak mudah mengubah keputusan setiap kali pasar mengalami gejolak. Pendekatan ini membantumu membedakan antara penurunan harga yang bersifat sementara dan perubahan kondisi investasi yang memang perlu ditindaklanjuti.
Supaya gak gampang panik, kamu bisa menetapkan aturan investasi sejak awal, termasuk batas alokasi saham, target keuangan, dan kondisi yang mengharuskanmu mengevaluasi aset. Ketika pasar turun, luangkan waktu untuk memeriksa alasan penurunan, laporan keuangan perusahaan, serta kesesuaiannya dengan tujuan investasimu.
Kalau alasan awal membeli saham masih relevan, kamu gak harus langsung menjualnya hanya karena harganya sedang melemah. Sebaliknya, jika fundamental perusahaan memburuk atau kebutuhan keuanganmu berubah, menjual sebagian atau seluruh kepemilikan bisa menjadi keputusan yang patut dipertimbangkan.
Pasar saham yang turun memang bisa membuatmu khawatir, tapi menjual saham secara terburu-buru bukan selalu solusi terbaik. Ada risiko kehilangan peluang pemulihan, penurunan daya beli akibat inflasi, kesulitan menentukan waktu membeli kembali, berkurangnya diversifikasi, hingga keputusan yang didorong oleh kepanikan.
Karena itu, penting untuk mengevaluasi kondisi investasi berdasarkan tujuan keuangan, toleransi risiko, dan jangka waktu yang kamu miliki. Ingat, mempertahankan investasi bukan berarti harus terus memegang semua saham dalam kondisi apa pun, melainkan mengambil keputusan secara rasional berdasarkan informasi dan rencana yang jelas.