ilustrasi lansia (pexels.com/Kindel Media)
Merasa bingung, bosan, atau sedikit kehilangan arah setelah pensiun sebenarnya bisa terjadi karena kamu sedang menyesuaikan diri dengan perubahan besar. Masalahnya muncul ketika perasaan tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Associate Professor Ng menjelaskan bahwa tanda-tanda yang perlu diperhatikan antara lain kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, menarik diri dari keluarga dan teman, serta perubahan pola tidur atau nafsu makan. Perasaan tidak berharga dan putus asa juga gak seharusnya dianggap sebagai bagian normal dari proses menua.
Studi Well-being of the Singapore Elderly (WiSE) dari Institute of Mental Health menunjukkan bahwa prevalensi depresi pada lansia di Singapura meningkat dari 3,7 persen pada 2013 menjadi 4,4 persen pada 2023. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental di usia lanjut tetap perlu diperhatikan, terutama ketika seseorang mengalami perubahan besar dalam kehidupan sosial dan rutinitasnya. Loh Yan Zhu juga menjelaskan bahwa sebagian orang justru memendam rasa kesepian atau kehilangan sampai akhirnya muncul dalam bentuk menarik diri, gampang marah, terlalu banyak tidur, atau menghabiskan waktu berlebihan untuk menonton dan bermain ponsel. Kalau perubahan seperti ini terus berlangsung, jangan merasa harus menghadapinya sendirian dan pertimbangkan untuk mencari dukungan lebih awal.
Mempersiapkan pensiun ternyata gak cukup hanya dengan menghitung berapa banyak uang yang harus ditabung. Kamu juga perlu memikirkan apa yang akan dilakukan setiap hari, siapa saja yang akan menemani, serta aktivitas apa yang membuat hidup tetap terasa bermakna.
Mulailah membangun rutinitas, pertemanan, aktivitas fisik, dan tujuan hidup bahkan sebelum masa pensiun tiba. Dengan begitu, pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, tapi menjadi kesempatan untuk menjalani fase kehidupan baru dengan lebih tenang dan bahagia.