Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jangan Cuma Siapkan Tabungan, Ini Rahasia Pensiun Bahagia Tanpa Stress
ilustrasi orang tua, lansia, masa pensiun, tenang, bahagia (vecteezy.com/ronnarong thanuthattaphong)
  • Persiapan pensiun tidak cukup mengandalkan tabungan; tujuan baru, rutinitas, dan aktivitas bermakna diperlukan untuk menggantikan struktur, identitas, serta stimulasi dari pekerjaan.
  • Hubungan sosial di luar kantor perlu dibangun sebelum pensiun melalui komunitas, olahraga, relawan, atau teman seminat agar kehidupan sosial tidak menyempit setelah berhenti bekerja.
  • Pensiun perlu dibicarakan bersama pasangan dan disertai aktivitas fisik-mental; perubahan emosi berkepanjangan seperti menarik diri atau putus asa perlu mendapat dukungan lebih awal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pensiun sering dibayangkan sebagai masa ketika kamu akhirnya bisa terbebas dari rutinitas pekerjaan. Gak perlu lagi bangun pagi untuk mengejar transportasi, menghadapi deadline, atau memikirkan target dari atasan.

Namun, punya tabungan yang cukup ternyata belum tentu membuat masa pensiun terasa bahagia, lho. Kamu juga perlu mempersiapkan kehidupan setelah berhenti bekerja, termasuk rutinitas, hubungan sosial, aktivitas fisik, dan tujuan yang ingin dicapai.

Kalau semua hal tersebut sudah dipikirkan sejak sebelum pensiun, masa tua bisa terasa lebih bermakna dan gak bikin kamu kehilangan arah.

1. Siapkan tujuan yang membuatmu tetap bersemangat

ilustrasi orang tua, lansia, masa pensiun, cucu (pexels.com/Gustavo Fring)

Selama bekerja, mungkin kamu punya alasan yang jelas untuk bangun setiap pagi. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, rekan kerja yang ditemui, target yang dikejar, hingga tanggung jawab yang membuat harimu terasa terstruktur. Ketika pensiun, semua rutinitas tersebut bisa tiba-tiba hilang sehingga kamu punya banyak waktu luang tanpa tahu harus mengisinya dengan apa. Kondisi seperti ini bisa membuat masa pensiun terasa membosankan meskipun kebutuhan finansial sudah terpenuhi.

Associate Professor Ng Chong Jin, kepala geriatric medicine di Khoo Teck Puat Hospital, menjelaskan bahwa pekerjaan sebenarnya memberikan struktur, tujuan, interaksi sosial, stimulasi intelektual, sekaligus identitas bagi seseorang. Karena itu, saat pensiun kamu perlu mencari pengganti dari berbagai manfaat tersebut. Tujuan baru gak harus berupa pekerjaan berbayar, tapi bisa berasal dari kegiatan sukarela, mengurus cucu, belajar hal baru, mengikuti komunitas, atau menekuni hobi. Intinya, kamu tetap perlu punya sesuatu yang membuatmu merasa hari ini layak dijalani.

2. Bangun hubungan sosial sebelum pensiun

ilustrasi orang tua, lansia (pexels.com/Nuhyil Ahammed)

Salah satu hal yang sering gak disadari adalah sebagian besar hubungan sosialmu mungkin terbentuk karena pekerjaan. Kamu bertemu rekan kerja hampir setiap hari, ngobrol saat istirahat, makan siang bersama, atau sekadar saling menyapa ketika berada di kantor. Begitu pensiun, kesempatan bertemu orang-orang tersebut otomatis berkurang sehingga kehidupan sosial juga bisa ikut menyempit. Kalau sejak jauh-jauh hari kamu gak punya lingkungan pertemanan di luar pekerjaan, perubahan ini bisa terasa cukup berat.

Loh Yan Zhu, kepala counselling and coaching di Tsao Foundation, menyarankan agar orang mulai membangun pertemanan di luar lingkungan kerja sebelum memasuki masa pensiun. Kamu bisa bergabung dengan komunitas, mengikuti kegiatan olahraga, menjadi relawan, atau rutin bertemu teman yang punya minat sama. Cara ini membuatmu punya lingkungan sosial yang tetap berjalan meskipun status sebagai pekerja sudah berakhir. Kisah Betty Tan yang dikutip dari CNA, juga menunjukkan bahwa kembali menjadi relawan membantunya menemukan rutinitas sekaligus bertemu orang lain setelah sempat merasa kehidupannya kosong.

3. Tetap aktif secara fisik dan mental

ilustrasi orang tua, lansia, masa pensiun, bersepeda (pexels.com/loc nguyen)

Pensiun bukan berarti kamu harus menghabiskan sebagian besar waktu dengan duduk santai di rumah, lho. Justru, aktivitas fisik bisa membantu menjaga rutinitas sekaligus membuat tubuh dan pikiran tetap terstimulasi. Dr Andrea Tan dari Hua Mei Clinic menjelaskan bahwa aktivitas sederhana seperti berjalan atau bersepeda, termasuk interaksi dengan orang lain, memberikan stimulasi fisik, kognitif, dan sosial. Sebaliknya, terlalu lama berada di rumah tanpa banyak aktivitas dan hubungan sosial dapat berdampak buruk terhadap kondisi fisik maupun mental.

Karena itu, kamu gak perlu menunggu pensiun untuk mulai aktif. Biasakan berjalan kaki, berolahraga ringan, mengikuti kelas, atau melakukan aktivitas yang membuatmu keluar rumah sejak masih bekerja. Associate Professor Ng merangkum persiapan pensiun dalam tiga hal penting, yaitu purpose atau tujuan, people atau hubungan sosial, serta physical activity atau aktivitas fisik. Kalau ketiganya mulai dibangun sebelum pensiun, kamu akan punya fondasi yang lebih kuat untuk menjalani kehidupan setelah berhenti bekerja.

4. Bicarakan perubahan peran dengan pasangan

ilustrasi pasangan lansia (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Pensiun juga bisa mengubah dinamika hubungan di dalam rumah. Kamu dan pasangan yang sebelumnya punya kesibukan masing-masing mungkin tiba-tiba menghabiskan lebih banyak waktu bersama setiap hari. Di satu sisi, kondisi ini bisa menjadi kesempatan untuk menikmati lebih banyak waktu berdua. Namun, perbedaan harapan mengenai pekerjaan rumah, waktu pribadi, aktivitas bersama, maupun tanggung jawab keluarga juga bisa memicu konflik kalau gak dibicarakan.

Dr Andrea Tan menilai pensiun merupakan transisi bagi seluruh anggota rumah tangga, bukan hanya orang yang berhenti bekerja. Karena itu, kamu dan pasangan sebaiknya membicarakan seperti apa kehidupan yang diinginkan setelah pensiun sebelum waktunya tiba. Diskusikan pembagian tanggung jawab, kebutuhan ruang pribadi, hobi masing-masing, sampai kegiatan yang ingin dilakukan bersama. Dengan begitu, pensiun bisa menjadi kesempatan untuk membangun kembali hubungan dalam fase kehidupan baru, bukan malah membuat kalian merasa kehilangan kebebasan.

5. Jangan abaikan perubahan emosi setelah pensiun

ilustrasi lansia (pexels.com/Kindel Media)

Merasa bingung, bosan, atau sedikit kehilangan arah setelah pensiun sebenarnya bisa terjadi karena kamu sedang menyesuaikan diri dengan perubahan besar. Masalahnya muncul ketika perasaan tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Associate Professor Ng menjelaskan bahwa tanda-tanda yang perlu diperhatikan antara lain kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, menarik diri dari keluarga dan teman, serta perubahan pola tidur atau nafsu makan. Perasaan tidak berharga dan putus asa juga gak seharusnya dianggap sebagai bagian normal dari proses menua.

Studi Well-being of the Singapore Elderly (WiSE) dari Institute of Mental Health menunjukkan bahwa prevalensi depresi pada lansia di Singapura meningkat dari 3,7 persen pada 2013 menjadi 4,4 persen pada 2023. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental di usia lanjut tetap perlu diperhatikan, terutama ketika seseorang mengalami perubahan besar dalam kehidupan sosial dan rutinitasnya. Loh Yan Zhu juga menjelaskan bahwa sebagian orang justru memendam rasa kesepian atau kehilangan sampai akhirnya muncul dalam bentuk menarik diri, gampang marah, terlalu banyak tidur, atau menghabiskan waktu berlebihan untuk menonton dan bermain ponsel. Kalau perubahan seperti ini terus berlangsung, jangan merasa harus menghadapinya sendirian dan pertimbangkan untuk mencari dukungan lebih awal.

Mempersiapkan pensiun ternyata gak cukup hanya dengan menghitung berapa banyak uang yang harus ditabung. Kamu juga perlu memikirkan apa yang akan dilakukan setiap hari, siapa saja yang akan menemani, serta aktivitas apa yang membuat hidup tetap terasa bermakna.

Mulailah membangun rutinitas, pertemanan, aktivitas fisik, dan tujuan hidup bahkan sebelum masa pensiun tiba. Dengan begitu, pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, tapi menjadi kesempatan untuk menjalani fase kehidupan baru dengan lebih tenang dan bahagia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article