Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

4 Jebakan Psikologis saat Pasar Saham Koreksi, Catat Ini!

4 Jebakan Psikologis saat Pasar Saham Koreksi, Catat Ini!
Ilustrasi nilai investasi sedang turun (unsplash.com/m.)
Intinya Sih
  • Pasar saham yang terkoreksi sering memicu reaksi emosional investor, padahal momen ini seharusnya dimanfaatkan untuk tetap tenang dan berpikir rasional dalam mengambil keputusan investasi.
  • Ada empat jebakan psikologis utama saat pasar turun: herd mentality, loss aversion, recency bias, dan fear of total loss yang dapat mengganggu objektivitas investor.
  • Memahami serta mengendalikan emosi menjadi kunci agar investor bisa bertindak rasional, menjaga strategi jangka panjang, dan tidak terjebak dalam keputusan impulsif saat pasar bergejolak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Pasar saham memang tidak selalu bergerak naik. Ada kalanya harga saham mengalami koreksi akibat sentimen ekonomi, kondisi global, hingga aksi jual yang dilakukan banyak investor dalam waktu bersamaan. Situasi seperti ini sering membuat banyak orang panik dan mengambil keputusan secara emosional.

Padahal, saat pasar saham koreksi justru menjadi momen penting untuk menjaga ketenangan dan berpikir rasional. Sayangnya, banyak investor terjebak dalam berbagai bias psikologis yang membuat mereka salah langkah. Jika tidak disadari, jebakan mental ini bisa berdampak pada hasil investasi dalam jangka panjang.

1. Mental mengikuti kerumunan (herd mentality)

Ilustrasi nilai investasi sedang turun
Ilustrasi nilai investasi sedang turun (pexels.com/DΛVΞ GΛRCIΛ)

Salah satu jebakan psikologis paling umum saat pasar saham mengalami koreksi adalah herd mentality atau mental mengikuti kerumunan. Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengambil keputusan investasi hanya karena melihat mayoritas orang melakukan hal yang sama.

Ketika harga saham turun tajam, media sosial biasanya dipenuhi komentar panik. Banyak investor membagikan kerugian yang mereka alami dan memprediksi pasar akan semakin jatuh. Akibatnya, kamu bisa ikut merasa takut meskipun belum melakukan analisis sendiri.

Padahal, keputusan investasi seharusnya didasarkan pada kondisi perusahaan, tujuan keuangan, dan strategi yang sudah dibuat sebelumnya. Mengikuti tindakan orang lain tanpa memahami alasan di baliknya sering kali membuat investor menjual aset pada waktu yang tidak tepat. Dalam sejarah pasar modal, banyak investor sukses justru mengambil keputusan yang berbeda dari mayoritas. Mereka tetap tenang saat orang lain panik dan fokus pada nilai jangka panjang dari aset yang dimiliki.

2. Keengganan mengalami kerugian (loss aversion)

Ilustrasi saham
Ilustrasi saham (pexels.com/StockRadars Co.)

Jebakan berikutnya adalah loss aversion. Istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk merasa lebih sakit saat mengalami kerugian dibandingkan rasa senang ketika memperoleh keuntungan dengan nilai yang sama. Sebagai contoh, kerugian Rp1 juta sering terasa jauh lebih menyakitkan daripada kebahagiaan saat mendapatkan keuntungan Rp1 juta. Karena alasan tersebut, banyak investor menjadi sangat emosional ketika melihat portofolionya berwarna merah.

Dalam kondisi pasar koreksi, loss aversion bisa memicu tindakan yang kurang rasional. Ada investor yang langsung menjual seluruh saham karena tidak sanggup melihat nilai investasinya turun. Di sisi lain, ada juga yang menahan saham berkinerja buruk terlalu lama karena tidak mau mengakui kerugian.

Untuk menghindari jebakan ini, penting bagi kamu untuk memahami bahwa fluktuasi harga merupakan bagian normal dari investasi saham. Fokuslah pada tujuan jangka panjang dan evaluasi berdasarkan fundamental perusahaan, bukan hanya pergerakan harga harian.

3. Bias keterkinian (recency bias)

Ilustrasi trading
Ilustrasi trading (pexels.com/AlphaTradeZone)

Recency bias adalah kecenderungan seseorang memberikan bobot berlebihan pada informasi atau kejadian yang baru saja terjadi. Dalam dunia investasi, bias ini sering muncul ketika investor menganggap tren terbaru akan terus berlangsung tanpa perubahan.

Misalnya, ketika pasar saham turun selama beberapa minggu berturut-turut, banyak orang mulai percaya bahwa penurunan tersebut akan berlangsung selamanya. Akibatnya, mereka menjadi pesimistis dan enggan mempertahankan investasi yang sebenarnya masih memiliki prospek baik.

Padahal, pasar saham bergerak dalam siklus. Periode penurunan biasanya akan diikuti fase pemulihan, meskipun waktunya tidak selalu bisa diprediksi secara pasti. Karena itu, jangan hanya melihat kondisi pasar dalam beberapa hari atau minggu terakhir. Cobalah meninjau data historis yang lebih panjang agar kamu memiliki perspektif yang lebih objektif sebelum mengambil keputusan investasi.

4. Ketakutan kehilangan total (fear of total loss)

Ilustrasi saham
Ilustrasi saham (pexels.com/Romulo Queiroz)

Saat pasar mengalami koreksi cukup dalam, sebagian investor mulai membayangkan skenario terburuk. Mereka khawatir seluruh modal yang sudah diinvestasikan akan hilang begitu saja. Kondisi inilah yang dikenal sebagai fear of total loss. Ketakutan ini sering kali muncul karena kurangnya pemahaman mengenai risiko investasi dan cara kerja pasar saham. Ketika harga terus turun, investor merasa seolah-olah perusahaan yang dimiliki pasti akan bangkrut dan tidak memiliki peluang untuk pulih.

Akibatnya, banyak orang memilih menjual saham secara tergesa-gesa demi menghindari kerugian yang lebih besar. Padahal, tindakan tersebut belum tentu menjadi keputusan terbaik, terutama jika perusahaan yang dimiliki masih memiliki fundamental yang kuat. Mengelola rasa takut merupakan salah satu keterampilan penting dalam berinvestasi. Dengan memahami profil risiko dan memiliki strategi yang jelas, kamu bisa lebih tenang menghadapi gejolak pasar tanpa harus mengambil keputusan impulsif.

Koreksi pasar saham adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan investasi. Namun, tantangan terbesar sering kali bukan berasal dari kondisi pasar itu sendiri, melainkan dari cara investor merespons situasi tersebut secara emosional. Dengan memahami jebakan psikologis seperti herd mentality, loss aversion, recency bias, dan fear of total loss, kamu bisa membuat keputusan yang lebih rasional saat pasar sedang bergejolak. Semakin baik kamu mengendalikan emosi, semakin besar peluang untuk menjaga konsistensi dan mencapai tujuan investasi jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More