Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jerome Powell Ungkap DOJ Ancam Dakwaan Pidana terhadap The Fed

potret Jerome H. Powell dalam keterangan resminya, Minggu (11/1/2026).
potret Jerome H. Powell dalam keterangan resminya, Minggu (11/1/2026). (federalreserve.gov)
Intinya sih...
  • DOJ melayangkan subpoena kepada Federal Reserve dan mengancam dakwaan pidana terhadap Jerome Powell.
  • Powell menilai langkah tersebut berkaitan dengan tekanan politik atas kebijakan suku bunga.
  • Polemik ini memicu sorotan terhadap independensi bank sentral AS.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome H. Powell mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) telah melayangkan surat panggilan dewan juri kepada bank sentral AS dan mengancam dakwaan pidana terhadap dirinya. Ancaman tersebut berkaitan dengan kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat pada Juni 2025 mengenai proyek renovasi gedung The Fed.

Pernyataan itu disampaikan Powell pada Minggu (11/1/2026) malam waktu setempat, dalam pernyataan resmi dan rekaman video. Powell menyebut langkah DOJ sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menilai ancaman hukum tersebut tidak dapat dilepaskan dari tekanan pemerintah terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

1. Subpoena DOJ dan ancaman dakwaan pidana

ilustrasi Department of Justice (DOJ)
ilustrasi Department of Justice (DOJ) (justice.gov)

Powell mengatakan DOJ menyampaikan surat panggilan (subpoena) tersebut pada Jumat (9/1/2026), yang menurutnya mengarah pada ancaman dakwaan pidana. Ia menegaskan bahwa dirinya menghormati supremasi hukum dan prinsip akuntabilitas.

“Tidak seorang pun—termasuk ketua Federal Reserve—kebal terhadap hukum,” ujar Powell, dikutip laman resmi Federal Reserve. Namun, ia menambahkan bahwa langkah DOJ perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, yakni tekanan dan ancaman berkelanjutan dari pemerintah terhadap bank sentral.

Powell menyatakan bahwa ancaman dakwaan itu bukan semata terkait kesaksiannya di Senat atau proyek renovasi gedung The Fed. Menurutnya, The Fed telah berupaya memberi informasi kepada Kongres melalui kesaksian dan pengungkapan publik lainnya terkait proyek tersebut.

2. Tekanan politik dan kebijakan suku bunga

ilustrasi suku bunga
ilustrasi suku bunga (IDN Times/Aditya Pratama)

Dalam pernyataannya, Powell menyebut ancaman pidana tersebut sebagai konsekuensi dari sikap The Fed yang menetapkan suku bunga berdasarkan analisis ekonomi, bukan mengikuti preferensi presiden.

“Ancaman tuntutan pidana adalah konsekuensi dari Federal Reserve yang menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik kami tentang apa yang akan melayani kepentingan publik, bukan mengikuti preferensi Presiden,” ujar Powell.

Ia juga menegaskan isu utama yang dipertaruhkan adalah apakah The Fed dapat terus menetapkan kebijakan moneter berdasarkan data dan kondisi ekonomi, atau justru berada di bawah tekanan dan intimidasi politik.

Sepanjang 2025, The Fed menahan suku bunga acuannya sebelum memangkasnya masing-masing seperempat poin pada September, Oktober, dan Desember. Pemangkasan tersebut menurunkan kisaran suku bunga menjadi 3,5 hingga 3,75 persen.

3. Polemik renovasi gedung Federal Reserve

Gedung Federal Reserve
Gedung Federal Reserve (federalreserve.gov)

Ancaman hukum terhadap Powell berkaitan dengan kesaksiannya di Senat mengenai proyek renovasi gedung kantor pusat The Fed. Powell sebelumnya menyebut sejumlah laporan media tentang proyek tersebut “menyesatkan dan tidak akurat dalam banyak hal”.

Ia membantah klaim adanya “lift khusus”, fitur air baru, atau taman atap, serta menepis tudingan Ketua Kantor Manajemen dan Anggaran Russell Vought yang menyebut proyek itu sebagai renovasi “mewah” dan berpotensi melanggar hukum.

Dilansir Yahoo Finance, Presiden Donald Trump secara terbuka mengkritik Powell terkait proyek tersebut dan menyebut adanya pembengkakan biaya hingga 3,1 miliar dolar AS, angka yang diperdebatkan oleh Powell. The Fed juga menyatakan telah melibatkan inspektur jenderal untuk meninjau proyek tersebut.

3. Respons Trump, kongres, dan pasar

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (x.com/@WhiteHouse)

Trump menyatakan tidak mengetahui penyelidikan DOJ terhadap Powell. “Saya tidak tahu apa-apa tentang itu, tapi dia jelas tidak terlalu baik di The Fed, dan dia juga tidak terlalu baik dalam membangun gedung,” ujar Trump, dikutip NBC News.

Menanggapi pernyataan Powell bahwa subpoena tersebut merupakan upaya menekan The Fed agar menurunkan suku bunga, Trump mengatakan, “Tidak. Saya bahkan tidak akan memikirkan melakukannya dengan cara itu.”

Sejumlah anggota Kongres menyoroti implikasi langkah DOJ terhadap independensi bank sentral. Senator Republik Thom Tillis menyatakan bahwa tindakan tersebut memperkuat dugaan adanya dorongan untuk mengakhiri independensi The Fed dan mengatakan akan menolak konfirmasi calon pejabat Fed hingga persoalan hukum ini selesai.

Pasar keuangan merespons secara terbatas. Dolar AS melemah 0,2 persen terhadap sekeranjang mata uang utama, sementara kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun. Emas dan perak, yang kerap dipandang sebagai aset lindung nilai, mencatatkan kenaikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

Profil Dahlan Iskan, Jurnalis yang Pernah Jadi Menteri BUMN

13 Jan 2026, 19:10 WIBBusiness