Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Langkah Menabung Pakai Metode Pajak Pribadi, Sisihkan 10 Persen
ilustrasi orang menabung (pexels.com/Karolina Grabowska)
  • Metode “pajak pribadi” mengajak menyisihkan 10 persen dari setiap transaksi belanja ke tabungan, bukan menunggu sisa uang pada akhir bulan.
  • Dana sebaiknya langsung dipisahkan setelah transaksi ke rekening atau dompet digital khusus, dengan pengecualian kebutuhan tertentu dan persentase yang dapat disesuaikan.
  • Transaksi kecil tetap berkontribusi pada tabungan; evaluasi bulanan membantu memantau konsistensi, total pengeluaran, serta menyesuaikan sistem dengan kondisi keuangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak kamu merasa sudah berusaha menabung, tetapi uang selalu habis entah ke mana? Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan menabung yang menunggu sisa uang di akhir bulan. Padahal, kamu bisa membuat aturan sederhana yang berjalan setiap kali selesai berbelanja. Salah satunya adalah metode 'pajak pribadi', yaitu menyisihkan 10 persen dari nilai setiap transaksi untuk masuk ke tabungan.

Konsepnya mirip seperti membayar pajak, tetapi uangnya gak pergi ke mana-mana karena tetap menjadi milikmu. Setiap kali membeli makanan, pakaian, skincare, atau barang lainnya, kamu ikut 'membebankan' 10 persen tambahan untuk dirimu sendiri. Kalau belanja Rp100 ribu, berarti ada Rp10 ribu yang langsung masuk tabungan. Kelihatannya kecil, tetapi kalau dilakukan konsisten, jumlahnya bisa terkumpul tanpa terasa.

1. Tentukan aturan 10 persen

Ilustrasi seseorang menabung (pexels.com/www.kaboompics.com)

Langkah pertama adalah menetapkan aturan yang jelas agar metode ini gak berubah-ubah. Setiap kali kamu melakukan pembelian, hitung 10 persen dari total transaksi sebagai 'pajak pribadi'. Kalau belanja Rp200 ribu, berarti Rp20 ribu harus langsung disisihkan. Aturan ini berlaku setiap kali kamu melakukan transaksi yang memang ingin kamu masukkan ke dalam sistem.

Kamu juga bisa menentukan pengecualian untuk kebutuhan tertentu. Misalnya, tagihan listrik, biaya sekolah, atau kebutuhan pokok bisa dikecualikan kalau metode ini terasa terlalu berat. Tujuannya bukan membuat kondisi keuangan semakin sulit, tetapi menciptakan kebiasaan menyisihkan uang. Kalau 10 persen terasa terlalu besar, kamu bisa memulainya dari angka yang lebih kecil lalu menaikkannya secara bertahap.

2. Pisahkan uang setelah transaksi

Ilustrasi menabung (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Jangan menunggu sampai akhir bulan untuk menghitung berapa banyak 'pajak' yang harus dibayar. Segera sisihkan 10 persen setelah transaksi selesai supaya uang tersebut gak ikut terpakai. Kamu bisa memindahkannya ke rekening tabungan terpisah atau dompet digital khusus menabung. Semakin cepat uang dipisahkan, semakin kecil kemungkinan uang tersebut kembali tercampur dengan saldo belanja.

Kalau kamu menggunakan aplikasi pencatat keuangan, buat satu kategori khusus untuk 'pajak pribadi'. Setiap selesai belanja, masukkan nominal transaksi dan jumlah yang harus disisihkan. Cara ini membantu kamu melihat berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan dari aktivitas belanja. Tanpa terasa, transaksi yang sebelumnya cuma mengurangi saldo kini juga menghasilkan tabungan.

3. Gunakan rekening khusus

ilustrasi seseorang menabung (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Menaruh tabungan di rekening yang sama seperti uang belanja bisa membuat uang tersebut mudah terpakai lagi. Karena itu, siapkan tempat khusus untuk menyimpan hasil 'pajak pribadi'. Rekening tersebut gak perlu digunakan untuk transaksi sehari-hari agar kamu gak tergoda mengambilnya. Kalau memungkinkan, gunakan rekening yang punya fitur otomatis supaya proses pemindahan uang lebih praktis.

Kamu juga bisa memberi nama rekening sesuai tujuan tabungan. Misalnya 'Liburan', 'Dana Darurat', atau 'Modal Usaha' agar setiap kali melihat saldo, kamu tahu uang tersebut sedang dikumpulkan untuk apa. Tujuan yang jelas biasanya membuat seseorang lebih termotivasi mempertahankan tabungan. Jadi, setiap kali kamu belanja, sebenarnya kamu juga sedang mendekatkan diri pada target keuangan tersebut.

4. Kumpulkan dari transaksi kecil

ilustrasi orang menabung (pexels.com/Karolina Grabowska)

Jangan meremehkan transaksi yang nominalnya kecil. Membeli kopi Rp25 ribu berarti menghasilkan Rp2.500 untuk tabungan, sementara makan Rp50 ribu menambah Rp5 ribu. Jumlah tersebut memang terlihat kecil jika hanya dilakukan sekali. Namun, kalau kamu melakukan banyak transaksi dalam sebulan, totalnya bisa menjadi cukup menarik.

Metode ini justru terasa ringan karena kamu gak perlu langsung mengambil uang dalam jumlah besar dari penghasilan bulanan. Tabungan terbentuk sedikit demi sedikit mengikuti aktivitas belanja yang memang sudah kamu lakukan. Kamu juga bisa melihat pola pengeluaran dari jumlah 'pajak pribadi' yang terkumpul. Kalau angkanya ternyata besar, mungkin itu menjadi tanda bahwa pengeluaranmu juga perlu dievaluasi.

5. Evaluasi setiap akhir bulan

ilustrasi seseorang melakukan evaluasi (pexels.com/Vitaly Gariev)

Di akhir bulan, luangkan waktu untuk melihat berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan. Bandingkan jumlahnya dengan total transaksi yang kamu lakukan selama periode tersebut. Kamu bisa melihat transaksi mana yang paling banyak menghasilkan 'pajak pribadi'. Dari sini, kamu juga bisa mengevaluasi apakah kebiasaan belanja tertentu memang perlu dikurangi.

Kalau target tabungan belum sesuai harapan, jangan langsung menganggap metode ini gagal. Bisa jadi jumlah transaksi masih sedikit atau kamu belum konsisten menyisihkan uang setelah belanja. Kamu bisa memperbaiki sistem pada bulan berikutnya tanpa harus menghentikannya. Justru, evaluasi rutin membuat metode ini semakin sesuai dengan kondisi keuanganmu.

Belanja tetap jalan, tabungan ikut bertambah

Metode 'pajak pribadi' menarik karena kamu gak harus menunggu gajian untuk mulai menabung. Setiap transaksi langsung menjadi kesempatan untuk menyisihkan sebagian uang bagi dirimu sendiri. Cara ini juga membuat aktivitas belanja terasa lebih terkontrol karena setiap pengeluaran punya konsekuensi tambahan berupa tabungan. Kalau dilakukan secara konsisten, nominal kecil bisa berubah menjadi jumlah yang cukup berarti.

Jadi, mulai sekarang coba anggap setiap belanja punya 'pajak' sebesar 10 persen. Belanja Rp50 ribu, sisihkan Rp5 ribu; belanja Rp300 ribu, sisihkan Rp30 ribu, lalu ulangi setiap kali transaksi. Pastikan kebutuhan utama tetap aman dan sesuaikan persentasenya jika kondisi keuanganmu berubah. Siapa tahu, uang yang awalnya terasa cuma receh dari setiap transaksi justru menjadi tabungan yang paling cepat mengumpulkan targetmu!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article