ilustrasi seseorang melakukan evaluasi (pexels.com/Vitaly Gariev)
Di akhir bulan, luangkan waktu untuk melihat berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan. Bandingkan jumlahnya dengan total transaksi yang kamu lakukan selama periode tersebut. Kamu bisa melihat transaksi mana yang paling banyak menghasilkan 'pajak pribadi'. Dari sini, kamu juga bisa mengevaluasi apakah kebiasaan belanja tertentu memang perlu dikurangi.
Kalau target tabungan belum sesuai harapan, jangan langsung menganggap metode ini gagal. Bisa jadi jumlah transaksi masih sedikit atau kamu belum konsisten menyisihkan uang setelah belanja. Kamu bisa memperbaiki sistem pada bulan berikutnya tanpa harus menghentikannya. Justru, evaluasi rutin membuat metode ini semakin sesuai dengan kondisi keuanganmu.
Belanja tetap jalan, tabungan ikut bertambah
Metode 'pajak pribadi' menarik karena kamu gak harus menunggu gajian untuk mulai menabung. Setiap transaksi langsung menjadi kesempatan untuk menyisihkan sebagian uang bagi dirimu sendiri. Cara ini juga membuat aktivitas belanja terasa lebih terkontrol karena setiap pengeluaran punya konsekuensi tambahan berupa tabungan. Kalau dilakukan secara konsisten, nominal kecil bisa berubah menjadi jumlah yang cukup berarti.
Jadi, mulai sekarang coba anggap setiap belanja punya 'pajak' sebesar 10 persen. Belanja Rp50 ribu, sisihkan Rp5 ribu; belanja Rp300 ribu, sisihkan Rp30 ribu, lalu ulangi setiap kali transaksi. Pastikan kebutuhan utama tetap aman dan sesuaikan persentasenya jika kondisi keuanganmu berubah. Siapa tahu, uang yang awalnya terasa cuma receh dari setiap transaksi justru menjadi tabungan yang paling cepat mengumpulkan targetmu!