Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal Efek Kekayaan, Bikin Orang Boros saat Nilai Aset Meningkat
ilustrasi seorang wanita yang membawa tas belanja (pexels.com/Vitaly Gariev)
  • Wealth effect menjelaskan kecenderungan orang dan perusahaan meningkatkan pengeluaran saat nilai aset naik karena merasa lebih aman secara finansial, meski pendapatan tidak berubah.
  • Perdebatan tentang wealth effect masih berlangsung; sebagian pihak menilai hubungan antara kenaikan aset dan konsumsi hanya korelasi, bukan sebab-akibat langsung.
  • Penelitian menunjukkan pengaruh kenaikan nilai rumah terhadap konsumsi lebih kuat dibanding saham, dengan bukti peningkatan atau penurunan kekayaan perumahan berdampak nyata pada belanja rumah tangga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Wealth effect atau efek kekayaan merupakan teori ekonomi perilaku yang menjelaskan kecenderungan masyarakat untuk meningkatkan pengeluaran ketika nilai aset yang dimiliki naik.

Kondisi ini terjadi karena konsumen merasa kondisi keuangannya lebih aman dan tingkat kepercayaan terhadap kekayaannya meningkat saat nilai rumah atau portofolio investasi mengalami kenaikan, meski pendapatan dan pengeluaran tetap tidak berubah.

1. Wealth effect muncul saat nilai aset meningkat

ilustrasi manajemen aset (pexels.com/www.kaboompics.com)

Dilansir Investopedia, konsep wealth effect menggambarkan dampak psikologis dari kenaikan nilai aset terhadap perilaku konsumsi masyarakat, terutama saat pasar berada dalam tren bullish.

Kenaikan nilai portofolio investasi dinilai dapat meningkatkan rasa aman dan kepercayaan konsumen, yang kemudian mendorong pengeluaran lebih besar serta mengurangi kecenderungan untuk menabung.

Fenomena tersebut juga berlaku di tingkat korporasi. Saat nilai aset meningkat, perusahaan cenderung menambah perekrutan tenaga kerja dan meningkatkan belanja modal atau capital expenditure (CapEx), serupa dengan pola yang terjadi pada konsumen. Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi umumnya cenderung menguat ketika pasar bullish dan melemah saat pasar bearish.

Secara teori, peningkatan konsumsi akibat kenaikan nilai aset dianggap logis karena pemilik aset yang memperoleh kenaikan nilai rumah atau investasi lebih mungkin meningkatkan belanja untuk kebutuhan non-prioritas, seperti perjalanan, kendaraan, atau konsumsi lainnya.

Namun, sejumlah pihak menilai pengaruh kenaikan aset terhadap konsumsi tidak sebesar faktor lain seperti perpajakan, pengeluaran rumah tangga, maupun kondisi pasar tenaga kerja. Alasannya, kenaikan nilai investasi belum tentu meningkatkan pendapatan yang dapat langsung dibelanjakan.

Kenaikan nilai saham, misalnya, masih tergolong unrealized gain atau keuntungan yang belum direalisasikan karena belum dikonversi menjadi uang tunai. Kondisi serupa juga berlaku pada kenaikan harga properti.

2. Perdebatan mengenai wealth effect masih berlangsung

ilustrasi debat (pexels.com/Thirdman)

Pendukung wealth effect mengacu pada sejumlah peristiwa ketika kenaikan suku bunga dan pajak tidak serta-merta menekan konsumsi masyarakat saat pasar sedang menguat. Salah satu contoh yang kerap digunakan terjadi pada 1968.

Pada periode tersebut, pajak meningkat 10 persen. Meski demikian, konsumsi masyarakat tetap tumbuh walaupun pendapatan yang dapat dibelanjakan tertekan akibat tambahan beban pajak. Di saat yang sama, nilai kekayaan tetap meningkat karena pasar saham terus mengalami kenaikan. Meski begitu, keberadaan wealth effect masih menjadi bahan perdebatan, terutama dalam konteks pasar saham.

Sebagian analis menilai hubungan yang terjadi lebih mencerminkan korelasi dibanding hubungan sebab-akibat. Dalam pandangan ini, peningkatan konsumsi justru dianggap sebagai faktor yang ikut mendorong kenaikan nilai aset.

Selain itu, terdapat pula pandangan lain yang merujuk pada teori Pigou effect. Teori tersebut menyebut penurunan harga dapat meningkatkan daya beli masyarakat sehingga konsumsi naik dan berdampak pada peningkatan tingkat pekerjaan.

3. Pengaruh pasar perumahan dinilai lebih kuat dibanding saham

ilustrasi harga rumah (pexels.com/jakub zerdzicki)

Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara peningkatan konsumsi dan kenaikan nilai rumah memiliki bukti yang lebih kuat dibanding keterkaitannya dengan pasar saham. Ekonom Karl Case, Robert Shiller, dan John Quigley pernah meneliti teori wealth effect menggunakan data periode 1982 hingga 1999.

Dalam penelitian berjudul “Comparing Wealth Effects: The Stock Market versus the Housing Market”, mereka menemukan bukti yang relatif lemah mengenai pengaruh wealth effect di pasar saham. Sebaliknya, perubahan kekayaan di sektor perumahan dinilai memiliki dampak yang lebih signifikan terhadap konsumsi.

Penelitian tersebut kemudian diperluas menggunakan data negara bagian di Amerika Serikat selama 37 tahun, mulai 1975 hingga kuartal II-2012. Hasil yang dipublikasikan pada Januari 2013 menunjukkan kenaikan kekayaan dari sektor perumahan seperti yang terjadi pada periode 2001-2005 berpotensi meningkatkan pengeluaran rumah tangga sekitar 4,3 persen dalam empat tahun.

Sebaliknya, penurunan kekayaan perumahan yang sebanding dengan kondisi 2005-2009 diperkirakan dapat menurunkan pengeluaran rumah tangga sekitar 3,5 persen. Meski sejumlah ekonom mendukung pandangan bahwa kenaikan kekayaan perumahan dapat mendorong konsumsi tambahan, sebagian lainnya menilai temuan-temuan sebelumnya mengenai topik tersebut masih terlalu dibesar-besarkan.

Editorial Team

Related Article