ilustrasi manajemen aset (pexels.com/www.kaboompics.com)
Dilansir Investopedia, konsep wealth effect menggambarkan dampak psikologis dari kenaikan nilai aset terhadap perilaku konsumsi masyarakat, terutama saat pasar berada dalam tren bullish.
Kenaikan nilai portofolio investasi dinilai dapat meningkatkan rasa aman dan kepercayaan konsumen, yang kemudian mendorong pengeluaran lebih besar serta mengurangi kecenderungan untuk menabung.
Fenomena tersebut juga berlaku di tingkat korporasi. Saat nilai aset meningkat, perusahaan cenderung menambah perekrutan tenaga kerja dan meningkatkan belanja modal atau capital expenditure (CapEx), serupa dengan pola yang terjadi pada konsumen. Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi umumnya cenderung menguat ketika pasar bullish dan melemah saat pasar bearish.
Secara teori, peningkatan konsumsi akibat kenaikan nilai aset dianggap logis karena pemilik aset yang memperoleh kenaikan nilai rumah atau investasi lebih mungkin meningkatkan belanja untuk kebutuhan non-prioritas, seperti perjalanan, kendaraan, atau konsumsi lainnya.
Namun, sejumlah pihak menilai pengaruh kenaikan aset terhadap konsumsi tidak sebesar faktor lain seperti perpajakan, pengeluaran rumah tangga, maupun kondisi pasar tenaga kerja. Alasannya, kenaikan nilai investasi belum tentu meningkatkan pendapatan yang dapat langsung dibelanjakan.
Kenaikan nilai saham, misalnya, masih tergolong unrealized gain atau keuntungan yang belum direalisasikan karena belum dikonversi menjadi uang tunai. Kondisi serupa juga berlaku pada kenaikan harga properti.